Sahabat menggantikan Nabi di tempat tidur

Sahabat menggantikan Nabi di tempat tidur merupakan bagian dari rangkaian peristiwa hijrah. Pada tahun ke-13 kenabian, Rasulullah Muhammad saw mendapat perintah hijrah ke Madinah. Sebenarmya, kota yang dulunya bernama Yatsrib ini di luar kalkulasi Nabi saat itu.

Tahun ke-5 kenabian terjadi hijrah Ke Habasyah (Afrika) yang dilakukan 12 sahabat dan 4 shahabiyah (sahabat dari kalangan wanita). Tahun berikutnya jauh lebih banyak. Terdapat 83 sahabat dan 18 shahabiyah yang hijrah ke Habasyah.

Tekanan dan teror dari kaum kafie Mekkah membuat kaum muslimim mengalihkan perhatian ke wilayah sekitar Jazirah Arab. Para sahabat nabi pun terus memikirkan bagaimana bisa mengamalkan Islam secara damai.

Sahabat Menggantikan Nabi di Tempat Tidur, Latar Belakang Kejadian

Para pemuka kafir terus menyiksa dan meneror orang Islam yang lemah. Bahkan beberapa orang Islam itu terbunuh di tangan-tangan kotor kaum kafir. Intimidasi dan siksaan itu membuat Nabi dan para sahabat mencari celah untuk bisa hijrah dari Mekkah.

Pada tahun ke-10 kerasulan, Nabi Muhammad melakukan usaha dakwah ke Thaif. Daerah ini berada di sebelah tenggara Mekkah sekitar 80 km jaraknya. Thaif adalah daerah perbukitan yang subur dan banyak perkebunan serta penghasil madu terbaik di kawasan Hijaz.

Kemudian Nabi menaburkan pasir di atas kepala orang-orang yang mengepung itu. Mereka pun tertidur dengan pulas. Sehingga Nabi Muhammad berhasil keluar rumah dan menemui Abu Bakar.

Nabi menawarkan Islam kepada penduduk Thaif beberapa saat setelah wafatnya Khadijah dan Abu Thalib. Dua orang tercinta ini merupakan pelindung nabi dari gangguan kafir Mekkah. Sejak keduanya wafat, orang kafir makin keras mengintimidasi Nabi dan orang Islam.

Karena itulah, Nabi Muhammad berharap penduduk Thaif bersedia menerima Islam. Ibarat mencari langit cerah di tengah badai.

Bukan Madinah, Sempat Hijrah Ke Arah Tenggara dan Afrika

Namun takdir Allah berlaku lain. Alih-alih menerima Islam, warga Thaif justru megusir dan melontari nabi dangan bebatuan hingga kaki beliau berdarah-darah. Tak hanya orang dewasa, anak-anak pun terkena hasutan dan ikut melempari batu ke arah Nabi yang mulia itu.

Rupanya, ada provokator yang telah menyebarkan fitnah terlebih dahulu ke Thaif sebelum Nabi Muhammad tiba di sana. Tak hanya terluka di tubuh, hati Nabi pun teriris-iris.

Namun, Nabi yang sangat penyayang ini tidak putus harapan. Beliau terus berdakwah. Khususnya kepada orang luar Mekkah yang menunaikan haji di Tanah Haram.

Karena, meskipun masih dipenuhi berhala, Masjidil haram dan Bukit Shafa-Marwa tiap tahun tetap diziarahi jamaah haji dan umrah dari berbagai warga Jazirah Arab. Mereka masih mengikuti ajaran Nabi Ibrahim dan Ismail. Hanya saja, ibadah mereka itu sangat kental dengan kesyirikan. Banyak dicampuri adat istiadat.

Tak Disangka, Inilah Awal Mula Orang Madinah Masuk Islam

Tahun ke-11 nubuwwah, secercah cahaya terang muncul dari arah utara. Terdapar 12 pemuda Madinah sangat antusias menyimak ajakan Nabi. Mereka bertemu Nabi di Bukit Aqabah saat menunaikan ibdah haji. Tanpa pikir panjang, enam pemuda terkemuka itu langsung menerima Islam.

Tahun haji berikutnya lebih banyak lagi jamaah asal Yastrib yang menerima Islam. Semuanya 73 orang, beberapa di antaranya ada wanita.

Sungguh ini di luar dugaan Nabi. Daerah yang tidak diperhitungkan justru sangat welcome menerima ajaran Islam. Sehingga pada tahun-13 itulah kaum muslimin mendapat perintah hijrah ke Madinah.

Satu per satu berangkat ke Madinah. Ada yang bersama-sama dalam kelompok kecil. Ada yang sendirian seperti halnya Umar bin Khattab. Ada yang sekeluarga seperti Abu Salamah dan istrinya serta anak nya yang masih di dalam gendongan.

Sedangkan Nabi Muhammad menunggu perintah dari Allah untuk bertolak ke Mekkah. Dan Nabi ditemani oleh Abu Bakar.

Kejadian Langka Sebelum Nabi Hijrah

Beberapa hari sebelum keberangkatan, Nabi melakukan perbuatan yang sangat mulia. Beliau mengembalikan barang titipan orang-orang Mekkah. Perlu diketahui, karena kejujuran beliau, banyak orang Mekkah yang menitipkan barang berharganya kepada Nabi Muhammad.

Tak ayal lagi, rumah nabi pun mirip bank. Tempat orang menitipkan barang berharganya.  Sungguh tinggi tingkat kejujuran tertinggi seorang manusia.

Dan sebelum beliau hijrah, semua barang telah dikembalikan dengan baik kepada pemiliknya masing-masing. Inilah puncak dari sebuah moral dan budi pekerti.

Sahabat Menggantikan Nabi di Tempat Tidur, Sangat Mencekam   

Di malam kebarangkatan hijrah, Nabi Muhammad memberi tugas yang sangat penting sekaligus sangat berbahaya kepada salah satu sahabatnya. Ketika Nabi keluar rumah, sahabat yang berusia 21 tahun itu menggantikan posisi Nabi di ranjang dan ditutupi selimut.

Dia masuk Islam pertama kali dari kalangan anak-anak. Usianya masih 8 tahun saat masuk Islam. Sedangkan dari kalangan wanita yang pertama menerima Islam tak lain adalah Khadijah, istri tercinta.

Sahabat menggantikan nabi di tempat tidur ini adalah sepupu Nabi. Dia adalah salah satu putra paman beliau. Sahabat itu bernama Ali bin Abi Thalib. Sejak kecil, ia tinggal bersama nabi. Karena, Abu Thalib punya banyak anak dan kondisi ekonominya memang tidak berkecukupan. (Baca juga: Kisah Hijrah Ke Habasyah | Hati Raja Bergetar Hebat)

Siap Berkorban Jiwa Untuk Islam

Sehingga ketika Nabi telah mampu dan telah berkeluarga, Nabi Muhammad mengajak pamannya yang lain untuk meringankan beban Abu Thalib. Nabi Muhammad mengasuh Ali. Sedangkan Al Abbas mengasuh Ja’far bin Abu Thalib.

Ali bin Abi Thalib ini terkenal sebagai pemuda yang cerdas dan pemberani. Karena itulah, Nabi Muhammad memberinya tugas penting ini.

Risikonya adalah maut. Karena, di malam hijrah Nabi, para pendekar Arab mengepung rumah Nabi. Jika nabi bersikeras hijrah, mereka itu langsung menghabisi nabi. (Baca juga: Kisah Hijrah Abu Bakar | Dikejar Pemburu Sayembara)

Sahabat Menggantikan Nabi di tempat Tidur, Doa Saat Dikepung

Lalu Nabi berdoa kepada Allah agar memberi perlindungan. Nabi pun membaca ayat, “Dan Kami jadikan di hadapan mereka dinding dan di belakang mereka juga dinding. Dan Kami tutup (mata) mereka sehingga mereka tidak dapat melihat” (QS. Yasin 9).

Kemudian nabi menaburkan pasir di atas kepala orang-orang yang mengepung itu. Mereka pun tertidur dengan pulas. Sehingga Nabi Muhammad berhasil keluar rumah dan menemui Abu Bakar.

Sebelum berangkat, nabi berpesan kepada Ali. “Tidurlah di atas tempat tidurku. Berselimutlah dengan mantelku yang berasal dari Hadramaut ini. Sesungguhnya engkau akan tetap aman dari gangguan mereka yang engkau khawatirkan.”

Ucapan ini sekaligus doa nabi bagi Ali agar Allah melindungi Ali. Sahabat menggantikan nabi di tempat tidur sangat mencekam. Sulit kita bayangkan bagaimana situasi malam itu. (Baca juga: Kisah Ulama Berguru ke 1.080 Ahli Hadits)   

Ini Rahasia Yang Diberi Nabi Agar Tidak Cemas

Sahabat menggantikan nabi di tempat tidur adalah Ali bin Abi Thalib. Ini tugas yang sangat berbahaya. Karena bisa saja para pendekar kafir itu keliru. Ingin membunuh nabi justru Ali yang terkena sabetan pedang mereka.

Rupanya Allah punya rencana sendiri. Para pengepung itu tidak langsung menusukkan pedang ke atas selimut nabi.

Demi Kehormatan Agama, Siap Pertaruhkan Nyawa

Mereka membuka selimut itu dan mendapati Ali bin Abi Thalib di tempat nabi. Sahabat menggantikan nabi di tempat tidur ini rupanya mengecoh orang-orang kafir itu.

Mereka tertidur pulas hingga pagi hari. Dan ternyata hanya menjumpai Ali bin Abi Thalib. Inilah kisah sahabat menggantikan nabi di tempat tidur nabi di malam hijrah Nabi Muhammad. Sungguh keberanian yang dikenang sepanjang sejarah.     

Foto: pixabay

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *