kisah ulama zaman nabi musa mesir

Kisah ulama zaman Nabi Musa merupakan pelajaran penting bagi zaman ini. Betapa bahayanya duniawi bagi agama dan iman seseorang. Bagaimana ilmu yang dipunyai bukannya untuk mendekatkan diri kepada Allah. Namun malah jadi sumber kerusakan dan malapetaka dunia akhirat.

Gemerlap dunia dan dorongan hawa nafsu menjadi sandungan bagi ulama atau bagi orang yang berilmu. Duniawi yang yang menggiurkan akan merangsang hawa nafsu manusia. Tak peduli apakah itu orang awam maupun ulama/orang berilmu. Semua pasti diuji.

Tiap manusia pasti punya hawa nafsu. Itu fitrah manusia. “Telah dihiasi pada manusia kecintaan dan hasrat terhadap wanita, anak-anak, harta yang banyak dari emak, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak, dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga)” (QS. Ali Imran 14).

Jika yang hal-hal duniawi ini menjadikan makin taat kepadaTuhan , maka yang menghiasi adalah Allah. Jika harta tahta wanita ini makin menjauhkan diri dari Allah, maka yang menghiasi bukan Allah, justru syetan.

Kisah Ulama Zaman Nabi Musa, Dulunya Disegani Lalu Sesat Jadi Pembela Praktik Bejat

Kisah ulama zaman Nabi Musa ini menjadi hikmah bagi kita. Ulama ini bernama Bal’am bin Baura. Ia termasuk Bani Israel, umat Nabi Musa.   

Ia punya ilmu-ilmu tentang al ismul a’zhom (nama-nama Allah yang agung). Kalau orang Islam umat nabi Muhammad menyebut: Asmaul Husna.

Dengan ilmu ini, Bal’am bin Baura menjadi ulama yang disegani. Dia banyak berzikir. Berkat kepahaman terhadap nama dan  sifat Tuhan, maka Allah mengabulkan doa-doanya.

Zaman dahulu, raja-raja selalu dikelilingi para orang berilmu. Ada yang punya ilmu sihir, ada ilmu nujum (peramal/tafsir mimpi), ada ilmu perang, pertanian, dan arsitektur.

Saat itu, Bani Israel baru saja lepas dari kejaran tentara Firaun. Lalu Allah memerintahkan Bani Israel untuk mempersiapkan diri agar bisa masuk ke wilayah Palestina.

Ulama Zaman Nabi Musa, Kena Jebakan Musuh

Di bumi Palestina saat itu dihuni kaum Jabarin yang kafir. Mereka ini bangsa yang berbadan besar. Karena itu alQuran menyebutnya kaum Jabarin (kaum yang perkasa/raksasa).

Sempat terjadi peperangan antara Bani Israel dengan kaum Jabarin ini.Kadang menang kadang kalah. Lalu kaum Jabarin melakukan mata-mata.

Dan mereka memahami ada tokoh Bani Israel bernama Bal’am bin Baura. Kaum Jabarin paham betapa hebat doa-doa Bal’am ini.

Lantas, mereka menculik Bal’am dan dibawa kepada raja. Lalu Raja menawari Bal’am dengan sejumlah harta agar mau mengungkap rahasia kekuatan Musa dan kaumnya.

Nabi Musa Ditelikung Kaumnya Sendiri

Dengan bujuk rayu harta, Bal’am pun runtuh imannya. Ia pun membocorkan rahasia Musa dan kelemahan Bani Israel.

Maka ini dipakai untuk tentara Jabarin untuk melawan Bani Israel. Namun peperangan tetap sengit. Kadang mereka menang, terkadang Bani Israel yang menang.

Makin lama, Bal’am sudah hilang imannya. Dia tak lagi peduli dengan keselamatan Nabi Musa dan Bani Israel. Bal’am pun membela kaum Jabarin habis-habisan.

Ironis, Sebelumnya Sebagai Ulama, Kini Menyuruh Kemaksiatan

Hingga kemudian Bal’am memberi resep agar pejuang Nabi Musa bisa dilumpuhkan. Bal’am menyarankan agar kaum Jabarin mengumpulkan wanita nakal. Lalu menghiasi mereka hingga tampil cantik dan menawan.

Wanita-wanita itu harus mau menggoda Bani Israel dan berzina dengan mereka di kamp-kamp pasukan. Dengan begitu, kekuatan mereka akan melemah. Dan Allah akan murka dan tidak lagi memberi pertolongan.

Dan benar saja. Wanita-wanita penggoda itu banyak melumpuhkan semangat juang Bani Israeil. Mereka asyik masyuk melakukan perbuatan dosa. Dan Kaum Jabarin berhasil melemahkan Bani Israel.

Di sisi lain, Nabi Musa mengetahui pengkhianatan Bal’am. Maka dari itu, Nabi Musa berdoa kepada Allah agar menimpakan kehinaan pada Bal’am.

Kisah Ulama Zaman Nabi Musa, Imannya Luntur, Lalu Dikutuk Menjadi Hewan Ini

Karena Bal’am sudah luntur imannya, maka doanya tak lagi makbul. Dan doa Nabi Musa pun dikabulkan Allah.

Beginilah hukuman Allah bagi Bal’am. Di dalam surat Al A’raf, Allah menceritakan kisah Bal’am. “Dan bacakanlah kepada mereka berita tentang orang yang telah Kami berikan kepadanya ayat-ayat Kami (ilmu tentang Alkitab), kemudian dia melepaskan diri dari ayat-ayat itu lalu dia diikuti syetan (sampai dia tergoda), maka jadilah dia termasuk orang-orang yang sesat” (QS. Al A’raf 175).

“Dan kalau Kami menghendaki, sesungguhkan Kami tinggikan (derajatnya) dengan ayat-ayat itu, tetapi dia cenderung kepada dunia dan menuruti hawa nafsunya yang rendah, maka perumpamaannya seperti anjing. Jika kamu halau, maka ia julurkan lidahnya. Bila kamu biarkan, maka dia tetap menjulurkan lidahnya. Demikian itulah, perumpamaan orang yang telah mendustakan ayat-ayat kami. Maka, ceritakanlah (kepada mereka) agar mereka berpikir” (QS. Al A’raf 176).

“Amat buruklah perumpamaan orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan kepada diri mereka sendirilah mereka berbuat zalim” (QS. Al A’raf 177).

Kisah Tobatnya Tukang Sihir Firaun

Di sisi lain, ada orang-orang yang punya ilmu sihir. Kisah ulama zaman Musa ini menunjukkan peringatan bagi manusia zaman sekarang.

Zaman dahulu, raja-raja selalu dikelilingi para orang berilmu. Ada yang punya ilmu sihir, ada ilmu nujum (peramal/tafsir mimpi), ada ilmu perang, pertanian, dan arsitektur.

Ketika Nabi Musa menemui Firaun sambil mengajak Firaun untuk beriman. Bukannya mau tunduk kepada Tuhan,  Firaun malah menantang Nabi Musa dengan ilmu sihir.

Firaun memanggil para ahli sihirnya. Lalu para tukang sihir adu kehebatan dengan Nabi Musa.

Mereka berkata kepada Musa, “ Kau yang melempar dahulu atau kami?”

“Kalian lemparlah dahulu.”

Maka, para ahli sihir itu melemparkan tali temali di hadapan Musa. Maka, tali-tali itu menjadi seolah-olah ular yang banyak. Nabi Musa pun takut. (Baca juga: Kisah ulama yang sabar meski dipenjara tanpa diadili)

Inilah Ciri Orang Beriman Ketika Menyaksikan Suatu Kejadian

Lalu Allah memerintahkan Nabi Musa melemparkan tongkat yang selama ini digunakan untuk menggembalakan ternak. Seketika itu tongkat itu menjadi ular sungguhan. Ular besar itu memakan habis ular-ular kecil tadi.

Melihat mukjizat itu, para ahli sihir itu langsung tersadar. Mereka pun tunduk dan bersujud. Nabi Musa dan Firaun menyaksikan hal itu. Mereka berkata, “Kami beriman kepada Tuhan semesta alam, yaitu Tuhan Musa dan Harun” (QS. 120-122).

Ahli sihir itu paham bahwa ular besar itu itu bukan sihir. Itu adalah mukjizat dari Tuhan. Sihir yang mereka gunakan tidak akan mampu melakukan hal seperti itu. Karena itu mereka langsung bertobat dan mengimani Nabi Musa.

Ahli-ahli sihir bukan kutu loncat yang berpindah loyalitas seenaknya. Mereka sangat memahami ilmu. (Baca juga: Kisah ulama menjaga waktu yang wafat saat membaca alQuran)

Kisah Ulama Zaman Nabi Musa, Ciri Utama Seorang Ulama

Orang yang paham ilmu itu dan takut kepada kekuasaan Tuhan disebut ulama. Ahli sihir itu takut dengan keagungan Tuhan. “Sesungguhnya yang takut kepada Allah hanyalah ulama,” firmah Allah (QS.Fathir 28).

Ahli sihir itu tidak takut dengan Firaun. Meskipun Firaun mengancam akan menyiksa mereka. “Sungguh, aku akan memotong tangan dan kakimu secara bersilang, sungguh aku akan menyalib kamu semuanya” (QS. Al A’raf 124).

Ahli-ahli sihir itu tidak takut dengan Firaun. Mereka juga tidak silau dengan fasilitas kerajaan. Tukang-tukang sihir itu paham bahwa jika mereka beriman mereka akan masuk surga jika mati disiksa Firaun.

Penyihir-penyihir itu berkata, “Kami tidak akan mengutamakan kamu daripada bukti-bukti nyata (mukjizat), yang telah datang kepada kami, dan dari Tuhan yang telah menciptakan kami. Maka putuskanlah apa yang hendak kamu putuskan. Sesungguhnya kamu hanya memutuskan di dunia ini saja” (QS. Thaha 72).  

(Baca juga: Kisah anak punk taubat)

Doa Husnul Khotimah, Dibaca Bagi yang Berniat Taubat

Mereka menyahut, “Sesungguhnya kepada Tuhanlah kami akan kembali. Dan kamu tidak mampu menyalahkan kami melainkan kami telah beriman kepada Tuhan kami ketika tanda-tanda itu telah datang.”

“(Mereka berdoa), Rabbbanaa afrig alaina shobro wa tawaffanaa muslimin ‘Ya Tuhan kami, limpahkanlah kesabaran kepada kami, dan wafatkanlah kami berserta orang-orang yang berserah diri’” (QS. Al A’raf 125-126).

Kisah ulama zaman Nabi Musa ini menjadi hikmah bagi kita. Bagaimana tukang-tukang sihir itu takut kepada tanda-tanda keagungan Allah. Takut kepada siksa Allah nanti di akhirat.

Karena itu mereka segera bertobat. Tidak menunggu nanti. Tidak ada kata tapi. Meskipun Firaun mengancam dengan siksa yang keji. Semua itu tak ada artinya. Karena mereka hanya berharap pada surga di akhirat kelak.

“Sesungguhnya kami telah beriman kepada Tuhan kami, agar Dia mengampuni kesalahan-kesalahan kami, dan sihir yang telah kamu paksakan kepada kami melakukannya. Dan Allah lebih baik (pahalaNya) dan lebih kekal (siksaNya)” (QS. Thaha 73).    

Foto: pixabay

https://www.youtube.com/watch?v=1UR2qEMBTZ0

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *