Kisah ulama yang zuhud gurun

Kisah ulama yang zuhud sering kita dengar atau kita baca. Suatu hari seorang ulama besar menceritakan salah satu kejadian dalam hidupnya. Ulama ini adalah salah satu pencetus salah satu mahzab. Dia tinggal di Bagdad, Irak.

Suatu hari ia bepergian ke Basrah. Jarak tempuh dari Bagdad ke Basrah sekitar 532 km. Zaman itu tentu membutuhkan waktu hingga beberapa hari, bisa dengan mengendarai unta, kuda atau jalan kaki.

Kisah Ulama yang Zuhud, Sering Safar Ratusan/Ribuan Km  

Ulama ini mengatakan sebenarnya tidak ada tujuan khusus mengunjungi Basrah. Hanya saja, seorang ulama membutuhkan safar untuk menemui sesama ulama setempat hanya untuk berdiskusi tentang Islam. Nasihat-menasihati dalam keimanan.

Begitulah tradisi ulama-ulama di abad awal perkembangan Islam. Mereka biasa saling berkunjung untuk menimba ilmu satu sama lain dan/atau saling menasihati dalam ketaqwaan.

Mereka bisa melakukan safar ratusan bahkan ribuan kilometer demi mencari ilmu. Demi berguru kepada ulama yang lebih senior atau lebih ahli.  

Sang Ulama bertanya lagi, “Apa yang kau rasakan selama 30 tahun ini?” Tukang roti itu menjawab, “Tidak ada hajat yang pinta kecuali Allah selalu kabulkan. Hanya satu permintaan yang belum dikabulkan Allah hingga saat ini.”

Ulama ini bepergian sendirian. Dalam perjalanan, ulama ini singgah di masjid untuk shalat dan beristirahat. Ia ingin beristirahat barang semalam saja. Maksud hati, keesokan harinya ia akan meneruskan perjalanan.

Begini Sikap Zuhud Ulama dalam Hal Popularitas

Malam itu hanya ada satu penjaga masjid. Penjaga ini tidak menyadari siapa ulama yang istirahat di masjid itu. Dia adalah Imam Ahmad bin Hanbal atau lebih dikenal dengan nama Imam Hambali (164 H – 241 H). Dia adalah ulama besar pencetus mazhab Hambali.

Imam Ahmad bin Hanbal menulis Musnad, sebuah kitab kumpulan hadits sekitar 27 ribu hadits. Imam Hambali sendiri hafal ratusan ribu hadits.

Bahkan ada yang menuliskan bahwa Imam Hambali hafal sejuta hadits dengan berbagai level keshahihannya, hafal beserta riwayat dan urutan sanadnya.

Sejak usia 15 tahun Imam Hambali sudah hafal Al-Quran. Sejak usia belasan tahun, Imam Hambali sudah membaca dan hafal kitab ulama hadits generasi sebelumnya. Belum genap 17 tahun, ia sudah mengkhatamkan 12 kitab, bahkan kemudian ia hafal isinya.

Mengapa Namanya Tenar Tapi Tak Dikenali? Ini Sebabnya

Imam Hambali pernah berguru kepada Imam Syafii. Begini komentar Imam Syafii tentang Imam Hambali, “Setelah saya meninggalkan Bagdad (pindah ke Mesir), tidak ada orang yang saya tinggalkan di sana yang lebih terpuji, lebih sholeh, dan lebih berilmu daripada Ahmad bin Hanbal.”

Kala itu, penduduk Bagdad dan pejabat negara termasuk khalifah mengenal baik Imam Hambali. Nama beliau juga dikenal luas di wilayah Kekhalifahan Daulah Abbaisyah dan juga wilayah Islam lainnya. Imam Hambali dihormati dan disegani kaum muslimin.

Namun zaman itu belum ada foto. Sehingga tidak banyak orang mengenali wajah beliau. Termasuk penjaga masjid itu. Ketika ia mendapati Imam Hambali rehat di dalamnya, penjaga itu mengusir Imam Hambali. (Baca juga: Kisah Ulama Mendidik Anak | Belajar Pakai Kertas Sampah)

Numpang Bermalam Di Masjid Malah Dibentak

Imam Hambali tak mau menonjolkan ketenarannya. Bahkan, Imam Hambali menurut saja ketika diusir penjaga masjid. Marbot masjid itu meminta Imam Hambali keluar dengan cara kasar. Dikira orang tidak jelas atau punya niat jelek.

Imam Hambali tetap rendah hati dan tidak memamerkan nama besarnya. Ia pun keluar masjid.

Di samping masjid ternyata ada rumah penjual roti. Pria penjual roti merasa iba dengan sang ulama. Penjual roti itu juga tak mengenali Imam Hambali. Hanya saja, ia merasa kasihan.

Ia menghampiri Imam Hambali. Ia menawarkan rumahnya agar Imam Hambali bermalam di rumahnya. “Wahai syekh, silakan beristirahat di rumah saya yang kecil ini.”

Kisah Ulama yang Zuhud, Bertemu Tukang Roti Yang Punya Kebiasaan Istimewa

Panggilan syekh merupakan sapaan umum kepada orang yang lebih tua, lebih berilmu atau kepada orang asing sebagai bentuk penghormatan. Imam Hambali menerima tawaran itu dengan tetap tidak memperkenalkan jati dirinya.

Sebelum tidur, Imam Hambali memperhatikan penjual roti itu membuat adonan. Setiap kali menggulung adonan, tukang roti itu mengucapkan istigfar secara lirih. Sehingga, sepanjang mengaduk adonan, pria itu selalu mengucapkan astagfirullah.

Imam Hambali sangat terkesan dengan pria itu. Lalu ia bertanya, “Sudah berapa lama engkau melakukan ini?” Pria itu menjawab, “Sudah 30 tahun.” Makin takjub Imam Hambali. (Baca juga: Kisah Ulama Menjaga Waktu | Wafat Saat Baca alQuran)

Ingin Doa Terkabul? Ini Resepnya

Imam Hambali bertanya lagi, “Apa yang kau rasakan selama 30 tahun ini?” Tukang roti itu menjawab, “Tidak ada hajat yang pinta kecuali Allah selalu kabulkan. Hanya satu permintaan yang belum dikabulkan Allah hingga saat ini.”

“Apa itu?”

“Saya memohon kepada Allah Swt. agar mempertemukan saya dengan Imam Hambali sebelum saya wafat.”

“Allahu Akbar!” Imam Hambali memekik. “Allah telah mengabulkan doamu karena istigfarmu. Allah telah mendatangkan saya jauh dari Bagdad, lalu saya diusir-usir penjaga masjid ternyata semua ini karena istigfarmu.”

Doa Dibaca Selama 30 Tahun, Lalu Dikabulkan

“Aku adalah Ahmad bin Hanbal (Imam Hambali).” Penjual roti itu kaget seraya memeluk dan mencium kepala dan tangan Imam Hambali. Kisah ulama zuhud ini sangat masyhur. Cerita ini bisa dibaca di kitab Manaqib Imam Ahmad bin Hanbal.

Dr. Ahmad Umar Hasyim menceritakan, sebuah kisah dari dari Ahmad Mutawalli Sya’rawi. Tentang ayahnya yang benama Syekh Muhammad Mutawalli Asy-Sya’rawi, ulama kenamaan asal Mesir (1911-1998).

“Ayah saya pernah diminta mengisi acara besar sejenis ceramah umum di Universitas Cairo. Selesai acara, semua hadirin takjub dengan pemaparan beliau. Saat mau pulang, mereka mengerumuninya saat menuju mobil, bahkan mobilnya dikerumuni massa hingga gerbang kampus.”

“Setelah sampai di rumah di dekat Masjid Husein, saat itu tiba waktu shalat. Banyak orang yang masuk tempat wudhu dan kamar mandi. Mereka kaget luar biasa. Karena mendapati ayah saya sedang membersihkan setiap sudut tempat wudhu dan kamar mandi.”

Kisah Ulama yang Zuhud, Tips Agar Tidak Sombong

Mereka sontak bertanya, “Ada perihal apa sehingga Syekh melakukan hal ini?” Syekh Asy Sya’rawi menjawab, “Saya baru saja mengisi acara di Universitas Cairo. Setelah acara, para audiens mengerumuni mobil saya. Saya takut ada perasaan ujub terhadap diri sendiri. Saya hanya ingin menghilangkan perasaan itu.”

Inilah contoh lain kisah ulama yang zuhud. Para ulama ini menjadikan ketenaran dan nama besar hanya untuk kebaikan.

Mereka adalah teladan bagaimana orang terkenal meredam sikap pamer agar tidak terjebak pada sikap sombong dan merendahkan orang lain. Tokoh agama Islam ini memilih bersikap zuhud. Agar hatinya bersih dari sikap angkuh, terlalu bangga dan menjauhi sikap merendahkan orang lain.  

Foto: pixabay

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *