kisah ulama menyambut ramadhan

Kisah ulama menyambut Ramadhan dengan beragam cara. Mereka sangat antusias mempersiapkan diri menyambut Ramadhan. Mereka berdoa enam bulan sebelum Ramadhan dengan harapan agar dipertemukan dengan bulan Ramadhan.

Saat Ramadhan tiba, para ulama menyambut Ramadhan dengan meningkatkan ibadah mereka.

Kisah Ulama Menyambut Ramadhan, Setengah Tahun Sebelumnya Sudah Persiapan

Mereka membaca Al-Qur’an, shalat tarawih, dan bersedekah melebihi bulan-bulan di luar Ramadhan.

Sebagian ulama salafush shalih mengatakan, “Mereka (para sahabat) berdoa kepada Allah selama enam bulan agar mereka dapat menjumpai bulan Ramadhan.” (Lathaaiful Ma’arif hal. 232).

Setelah Ramadhan, mereka berdoa kepada Allah selama enam bulan agar ibadahnya selama Ramadhan diterima.

Wow, Khatam 60 kali Dalam Sebulan

Kisah ulama menyambut Ramadhan dengan mengkhatamkan Al-Qur’an datang dari Imam Syafi’i.

Ar-Rabi bin Sulaiman mengatakan bahwa Imam Syafi’i membagi malam menjadi tiga bagian, yaitu sepertiga pertama untuk menulis, sepertiga kedua untuk shalat, dan sepertiga sisanya untuk tidur.

Imam Syafi’i mengkhatamkan Al-Qur’an 60 kali selama bulan Ramadhan. Sementara di luar Ramadhan beliau khatam Al-Qur’an 30 kali dalam sebulan (Tahdzibul Kamal, [1/335]).

Fokus Ibadah Saja, Abaikan Urusan Duniawi

Sufyan bin Said ats-Tsauri dijuluki amirul mukminin fil hadits (pemimpin orang-orang yang beriman dalam bidang hadits). Karena banyaknya hafalan hadits-nya.

Abdullah bin Umar selalu berbuka bersama anak-anak yatim dan orang-orang miskin. Abdullah rela memberikan makanannya kepada pengemis.

Kisah ulama menyambut Ramadhan dengan fokus ibadah teladan dari ast-Tsauri.

Saat Ramadhan, ats-Tsauri meninggalkan urusan dengan manusia. Ia fokus membaca Al-Qur’an. (Bughyatul Insan fi Wazhaif Ramadhan li Ibni Rajab, hal. 46).

Masya Allah, Tidur Hanya Hanya Dua Jam Per Hari

Kisah ulama menyambut Ramadhan dengan meningkatkan kuantitas membaca Al-Qur’an mereka. Al-Aswad bin Yazid mengkhatamkan Al-Qur’an setiap enam hari sekali. Pada bulan Ramadhan, beliau meningkatkan membaca Al-Qur’an dan khatam setiap dua hari sekali.

Waktu istirahat beliau untuk tidur hanya pada waktu antara maghrib dan isya (Siyar A’lamin Nubala, [4/51]). Al-Walid bin Abdil Malik terbiasa khatam membaca Al-Qur’an setiap tiga hari.

Sedangkan pada bulan Ramadhan beliau khatam sebanyak tujuh belas kali. (Siyar A’lamin Nubala, [4/347]).

Qatadah bin Da’amah as-Sadusi mengkhatamkan Al-Qur’an setiap tujuh hari sekali. Saat bulan Ramadhan, Qatadah khatam tiga hari sekali. Pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan, beliau khatam dalam satu hari. (Siyar A’lamin Nubala, [5/276]).

Kisah Ulama Menyambut Ramadhan, Ini Ibadah Unggulan

Saat Ramadhan, Ibrahim an-Nakha’i mengkhatamkan Al-Qur’an setiap tiga hari. Saat memasuki sepuluh hari terakhir Ramadhan, beliau khatam setiap dua hari sekali. (Lathaif al-Ma’arif li Ibni Rajab al-Hanbali, hal. 318).

Sa’id bin Jubair mengkhatamkan Al-Qur’an setiap dua hari sekali saat bulan Ramadhan. (Siyar A’lamin Nubala, [4/325]). Zabid al-Yami al-Kufi mengumpulkan para sahabatnya untuk membaca Al-Qur’an bersama beliau saat memasuki bulan Ramadhan. (Bughyatul Insan fi Wazhaif Ramadhan li Ibni Rajab, hal. 46).

Abul Qosim Ibnu Asakir biasa mengkhatamkan Al-Qur’an setiap hari Jum’at. Beliau menambah bacaan Al-Qur’annya di bulan Ramadhan sehingga khatam setiap hari. (Siyar A’lamin Nubala, [20/562]).

Lebih lanjut, Waki’ bin al-Jarrah mengkhatamkan Al-Qur’an ditambah sepuluh juz setiap malam hari di bulan Ramadhan. Pada di siang hari, beliau shalat dhuha sebanyak dua belas rakaat. (Siyar A’lamin Nubala, [12/109]).

Sebaliknya, Muhammad bin Ismail al-Bukhari mengkhatamkan Al-Qur’an pada siang hari. Pada malam hari beliau membaca Al-Qur’an setelah shalat tarawih dan khatam setiap tiga malam. (Siyar A’lamin Nubala, [12/439]).

Unik, Ini Yang Dilakukan Imam Az-Zuhri Sembari Tawaf

Muhammad bin Muslim az-Zuhri atau Ibnu Syihad adalah tokoh tabi’in Madinah dari kalangan Quraisy dan orang pertama yang menyusun hadits. Umar bin Abdul Aziz mengatakan bahwa tidak ada seorang pun yang lebih mengetahui sunnah daripada Az-Zuhri.

Sedangkan Abi az-Zanad yang pernah tawaf bersama az-Zuhri mengisahkan bahwa az-Zuhri tawaf sambil membawa lembaran kertas untuk mencatat ilmu. Di bulan Ramadhan, az-Zuhri membaca Al-Qur’an langsung dari mushafnya. Beliau tidak membaca hadits dan lebih memilih untuk berdiskusi langsung dengan para penuntut ilmu.

Ketika memasuki bulan Ramadhan, beliau mengatakan bahwa Ramadhan adalah bulan untuk membaca Al-Qur’an dan memberi makanan.” (Lathaif al-Ma’arif li ibni Rajab al-Hanbali, hal. 318)

Luar biasa, Sedekahkan Seluruh Harta

Kisah ulama menyambut Ramadhan dengan bersedekah datang dari Abdullah bin Umar. Beliau selalu berbuka bersama anak-anak yatim dan orang-orang miskin. Abdullah rela memberikan makanannya kepada pengemis.

Padahal tidak ada lagi makanan yang tersisa untuknya di rumah. Beliau berpuasa keesokan harinya tanpa makan apa pun sebelumnya. (Lathaif al-Ma’arif li Ibni Rajab al-Hanbali, hal. 168).

Suatu hari, Ayyub bin Wa-il ar-Rasibi melihat Abdullah bin Umar mendapatkan uang sebanyak 4.000 dirham dan kain. Di hari berikutnya Ayyub melihat Abdullah berada di pasar sedang membeli hewan untuk dikendarai.

Ayyub pun bertanya kepada keluarga Abdullah tentang apa yang dilakukan Abdullah. Keluarganya berkata bahwa Abdullah tidak tidur kemarin. Dia membagi-bagikan seluruh harta yang didapatnya dan pulang dengan tangan kosong.

Lain halnya dengan Hammad bin Abi Sulaiman. Setiap hari beliau memberi 50 orang makanan buka puasa selama bulan Ramadhan. Ketika malam Idul Fitri, Hammad memberi hadiah pakaian kepada orang-orang itu. (Tahdzibul Kamal, [7/277]).

Tarawih Sampai Jelang Subuh

Kisah ulama menyambut Ramadhan saat tarawih datang dari Ubay bin Ka’b dan Tamim ad-Dari. Saat menjadi imam shalat tarawih di bulan Ramadhan, mereka membaca Al-Qur’an sampai 200 ayat (dalam satu rakaat).

Sehingga jamaah bertelekan tongkat karena lamanya berdiri. Mereka selesai shalat ketika menjelang subuh. (Muwatha’, [1/341] dan Ma’rifah Sunan wal Atsar, [4/208]). Sejalan dengan hal ini, ayah Abdullah bin Abi Bakr mengatakan bahwa dulunya begitu selesai shalat tarawih. (Baca juga: Kisah ulama menjaga wudlu | Sandalnya ke Surga Dulu)

Para pelayan mereka segera mempersiapkan makanan sahur karena khawatir akan masuk waktu subuh’.” (Syu’abul Iman, [3/177])

Subhanallah, 12 Rakaat Baca Al Baqarah Full

Para imam terbiasa membaca surat panjang dan jamaah tidak keberatan. Abdurrahman bin Hurmuz mengatakan bahwa para imam shalat tarawih dahulu biasa membaca surat Al-Baqarah untuk delapan rakaat. (Baca juga: Kisah ulama yang sabar | Dipenjara tanpa diadili dan digantung)

Ketika para imam tersebut membaca surat Al-Baqarah untuk dua belas rakaat, jamaah menganggap para imam telah meringankan mereka. (Mushnnaf Abdirrazaq ash-Shan’ani, [4/262]).

Saat menjadi imam shalat tarawih di bulan Ramadhan, Ibnu Abi Mulaikah membaca surat Fathir atau yang semisalnya pada satu rakaat dan tidak ada jamaah yang keberatan. (Mushannaf Ibni Abi Syaibah, [2/392])

Abu Raja’ mengkhatamkan Al-Qur’an dalam shalat malam di bulan Ramadhan pada setiap sepuluh malam.” (Hilyatul Auliya, [2/306]). Sementara Abu Mijlas melaksanakan shalat malam pada bulan Ramadhan di sebuah perkampungan dengan mengkhatamkan Al-Qur’an setiap tujuh malam. (Mushannaf Ibni Abi Syaibah, [2/162]).

Penulis: Mega Anindyawati
Editor: Oki A.

Foto: Pixabay

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *