kisah ulama menjaga waktu alquran

Kisah ulama menjaga waktu jadi teladan manusia modern ini. Bagaimana mereka meluangkan waktunya untuk sesuatu yang bermanfaat. Bukan untuk hal-hal yang tiada guna ataupun perkara yang sia-sia.

Hari ini, umat Islam punya satu penyakit yang kronis dan akut. Kronis artinya sakit yang bertahun-tahun, bahkan berabad-abad. Akut artinya sakitnya itu menyebabkan kelumpuhan. Atau makin berat hingga dekat dengan ajal.

Penyakit itu bernama menyia-nyiakan waktu untuk hal yang remeh. Setiap menjelang bulan Rabiul Awal, selalu saja habiskan waktu untuk berdebat tentang maulid nabi. Setiap Desember, sering mengulang hukum ucapan selamat hari raya umat agama lain.

Kisah Ulama Menjaga Waktu, Ciri Utama Orang Beriman

Sejak 1970an hingga kini orang-orang Mesir meributkan nilai tranfer seorang pemain sepak bola.

Ada yang 500 ribu poundsterling hingga 1 juta poundsterling. Mulai dewasa hingga anak-anak pun ramai membahas harga kaki seorang pesepak bola.

Karena itu, Syekh Yusuf Al Qardhawy (lahir 1926 M) kemudian menulis buku berjudul Fiqh Al Awlawiyat (Fiqh Prioritas).

Tak ayal, seisi tembok penjara pun dipenuhi tulisan dan ilmu yang berbobot dari Ibnu Taimiyah.

Bagaimana umat Islam mengisi waktunya dengan hal lebih penting daripada yang tidak penting. Mana yang mendesak dan mana yang tidak.

Karena hal ini merupakan ciri orang beriman. “Yaitu orang-orang yang meninggalkan (perbuatan dan ucapan) yang tiada berguna” (QS. Al Mukminun 3).  

Sejak Kecil Gemar Belajar, Usia 19 Tahun Mampu Berikan Fatwa

Kisah ulama menjaga waktu menjadi panduan kita bagaimana mereka mengisi hari-harinya. Sebut saja Ibnu Taimiyah (661-728 H). Nama aslinya Ahmad bin Abdul Halim bin Abdus Salam bin Abdullah bin Taimiyah Al Harrani.

Ia lahir di Harran, kini perbatasan Suriah dan Turki. Lalu ia ikut ayahnya mengungsi ke Damaskus, Suriah di usia 6 tahun. Saat itu, terjadi serbuan bangsa Mongol di wilayah itu.   

Sejak kecil, Ibnu Taimiyah sudah hafal Al Quran. Bahkan di usia yang belum genap 11 tahun, Ibnu Taimiyah sudah menguasai ilmu tafsir Al Quran, Ushuluddin, hadiits dan sastra Arab.

Di usia remaja, Ibnu Taimiyah sudah membaca dan mengkaji kitab-kitab. Misalnya Musnad Imam Ahmad dan Mu’jam Ath Thabary Al Kabir, kitab tafsir Al Quran yang merupakan salah satu kitab induk tafsir. Tak hanya membaca, namun Ibnu Taimiyah juga hafal isinya.

Di usia 19 tahun, Ibnu Taimiyah sudah dimintai fatwa tentang banyak masalah agama. Ia juga telah membaca dan hafal Kutubus Sittah yang terdiri dari enam kitab hadits dari enam ulama yang berbeda.

Ya Belajar, Ya Berjihad

Yaitu Kitab Shahih Bukhari, Kitab Shahih Imam Muslim, Sunan An Nasai, Sunan At Tirmidzi dan Sunan Ibnu Majah.

Ibnu Taimiyah juga mengisi waktunya dengan berjihad dengan senjata melawan kafir Mongol, dan aktif mengajar serta menulis.

Kegiatan menulisnya pun sangatlah produktif. Tak ada waktu luang kecuali dengan membaca dan menulis. Kisah ulama menjaga waktu ini dicontohkan Ibnu Taimiyah.

Tiap malam Ibnu Taimiyah menulis sampai empat kurrosah (semacam makalah). Salah satu muridnya bernama Ibnul Wardi menjadi saksinya.

Tiap Malam Menulis Makalah, Sampai Ratusan Judul

Ibnul Wardi mengatakan, gurunya itu tiap malam menulis tafsir Al Quran dan ilmu Ushul Fiqih. Ibnu Taimiyah juga menulis analisis terhadap pendapat para filsuf. Jumlah tulisan Ibnu Taimiyah mencapai 500 judul.

Ayah dan kakeknya juga ulama yang disegani di Harran. Bakat kecerdasan diturunkan kepadanya. Lalu dengan bakat itulah, Ibnu Taimiyah mengasah diri dan banyak belajar kepada para ulama di masa itu.  

Suatu ketika, Ibnu Taimiyah dipenjara penguasa yang diktator. Dan di dalam tahanan pun Ibnu Taimiyah tetap membaca dan menulis. Ia juga sering berkirim surat kepada murid-muridnya.

Kisah Ulama Menjaga Waktu, Tetap Menulis Meski Dipenjara Penguasa Zalim

Surat-menyurat ini sebagai ganti kegiatan menulis. Awalnya pihak pemerintah dan penjaga penjara masih mengizinkan Ibnu Taimiyah menulis.

Makin hari makin banyak murid Ibnu Taimiyah yang datang menjenguk dan mendengarkan penjelasannya. Lama-kelamaan, penjaga penjara melarang kunjungan itu.

Konon, murid dan jamaah Ibnu Taimiyah mencapai 20 ribu atau 30 ribu orang. Itu artinya, seisi kota aktif berguru kepada Ibnu Taimiyah.

Ibnu Taimiyah adalah ulama sangat disegani dan ilmunya sangat mumpuni. Jika Ibnu Taimiyah berceramah di alun-alun kota. lalu ada orang nonmuslim melintasi alun-alun itu.

Konon, mereka pun tertarik mendengarkan ceramahnya itu dan ikut duduk menyimak. Bahkan ada kisah nonmuslim kemudian masuk Islam -dengan izin Allah- karena melintasi majelis tempat Ibnu Taimiyah mengajar.

Sekali Ceramah, Yang Hadir Seisi Kota

Zaman itu, 30 ribu sama dengan total penduduk satu kota penuh. Tak heran jika banyak yang menjenguknya dan tetap mau belajar meski duduk di dekat penjara.

Lalu Ibnu Taimiyah dilarang menulis oleh pemerintah. Semua lembaran dan tinta Ibnu Taimiyah dirampas. Murid-muridnya dilarang membawakan alat tulis.

Namun, Ibnu Taimiyah tidak ingin menyia-nyiakan waktu. Saking banyaknya ilmunya, Ibnu Taimiyah tetap menulis di penjara. Ibnu Taimiyah titip pesan ke murid-muridnya, “Lemparkan arang-arang ke lubang tahanan ini,”

Dilarang Menulis di Kertas, Tembok Penjara Pun Ditulisi

Setelah arang itu dilemparkan, ternyata Ibnu Taimiyah menulis di tembok penjara dengan arang-arang itu. Tak ayal, seisi tembok penjara pun dipenuhi tulisan dan ilmu yang berbobot dari Ibnu Taimiyah.

Sepeninggal Ibnu Taimiyah, penjelasan dan tulisan Ibnu Taimiyah dikumpulkan para muridnya. Salah satunya kitab berjudul Majmu Fatawa (Kumpulan Fatwa-Fatwa) Ibnu Taimiyah.

Salah murid yang paling terkenal adalah Ibnul Qayyim Al Jauzi (691-751 H). Ibnul Qayyim inilah yang paling banyak menuliskan fatwa-fatwa dan penjelasan Ibnu Taimiyah.

Dari situlah kemudian kitab-kitab Ibnu Taimiyah dicetak dan dibaca hingga kini. Kisah ulama menjaga waktu dapat kita teladani dari Ibnu Taimiyah. Beliau dijuluki Syaikhul Islam karena keilmuannya.

Ia menjaga waktunya dengan membaca dan menulis ilmu. Kebiasaan ini diturunkan dari kakeknya. (Baca: Begini Ulama Manfaatkan Waktu di Penjara)

Unik Banget, Didiktekan Buku Dari Luar WC Saat Buang Hajat

Dalam sebuah riwayat, sang kakek juga punya kebiasan membaca. Saking gemarnya membaca, kakek Ibnu Taimiyah minta dibacakan isi buku secara lantang saat di toilet.

Jika sedang buang hajat, murid atau anaknya membacakan buku secara lantang. Dan itu didengarkan kakeknya dan seketika itu hafal isinya.

Begitulah kakek Ibnu Taimiyah. Seorang ulama yang mumpuni keilmuan dan kecerdasannya. Dan kecerdasan dan kedisiplinan ini diturunkan ke anak dan cucunya. (Baca juga: Ulama yang Belajar ke Seribu Guru)   

Begini Kisah Ulama Menjaga Waktu, Agar Kita Husnul Khotimah

Di akhir hayatnya, Ibnul Qayyim inilah yang menyaksikan gurunya wafat di penjara. Ibnu Taimiyah meninggal dunia saat membaca Al Quran.

Ayat terakhir yang ia baca adalah surat Al Qamar ayat 54, “Sesungguhnya orang-orang bertaqwa di dalam taman-taman dan sungai-sungai.”

Kisah ulama menjaga waktu ini menjadi teladan kita. Bagaimana mengisi waktu dengan hal bermanfaat bagi kehidupan.

Bagaimana mengoptimalkan waktu dengan ilmu dan kebaikan. Sehigga di akhir hayat kita bisa husnul khotimah, sesuai dengan kebiasaan kita. Kebiasaan yang baik seperti Ibnu Taimiyah ini.  

Foto: Pixabay

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *