kisah ulama mendidik anak

Kisah ulama mendidik anak menjadi inspirasi kaum muslimin. Bagaimana para ulama memberi bekal pendidikan kepada anak-anaknya.

Karena tidak ada warisan yang paling berharga bagi anak cucu kecuali iman dan ilmu yang bermanfaat. Nabi Muhammad memberi pesan kepada kita, “Sungguh, tiada pemberian dari ayah (orang tua) kepada anaknya yang lebih utama daripada adab yang baik” (HR. Tirmidzi).

Dalam adab, terkandung ilmu yang bermanfaat dan budi pekerti yang luhur. Adab yang baik kepada Allah, kepada Nabi, kepada orang tua dan guru, kepada teman/sesama, diri sendiri dan kepada lingkungan sekitarnya.

Kisah Ulama Mendidik Anak, Kakek Mendidik Ayah, Dan Ayah Mendidik Anak

Salah satu inspirasi dari kisah ulama mendidik anak adalah Abdus Salam bin Abdullah bin Taimiyah. Atau biasa dikenal dengan nama Imam Majduddin bin Taimiyah atau Abul Barakat. Ia adalah seorang ulama abad 7 Hijriyah kota Haran, Iraq.

Awalnya ayah Al Albani memasukkannya ke madrasah setara ibtidaiyah di Damaskus. Lulus setingkat SD, ternyata ayahnya tidak memasukkan ke sekolah formal. Ayahnya menganggap kurikulum sekolah formal tidak begitu banyak manfaat bagi Al Albani. Akhirnya ia mengajari sendiri anaknya itu.

Ia pernah penulis kitab Al Muntaqo min al ahadits Al Ahkam. Kitab ini disyarah (diulas) oleh Imam Asy Syaukani dalam kitab Nailul Authar. Imam Majduddin juga menulis kitab Al Muharrar dalam bidang fiqih, Al Muswaddah dalam bidang ushul fiqih,

Bahkan ayah Imam Majduddin juga ulama dan juga menulis kitab. Begitu juga saudara Imam Majduddin yang bernama Imam Abdurrahman Al Harani.

Imam Majduddin sangat gemar belajar dan mengkaji ilmu. Saking hausnya akan ilmu, Imam Majduddin harus menyuruh anaknya atau muridnya untuk membacakan kitab secara lantang saat Imam Majduddin sedang buang hajat di kamar mandi.

Unik, Saat Di Toilet Pun Tetap Cari Ilmu

Saat berada di kamar mandi, Imam Majduddin tidak ingin membuang-buang waktu. Ia memanfaatkan waktu dengan menyimak isi kitab yang dibacakan anaknya atau muridnya yang berada di luar kamar mandi.

Dengan begitu, Imam Majduddin bisa menghafalkan isi kitab yang dibacakan itu. Makin hari makin banyak ilmu yang dihafalkan dan diajarkan kepada anak-anaknya dan para muridnya. Kisah ulama mendidik anak ini pun menjadi spirit kita dalam mencari ilmu.  

Kebiasaan dan kekuatan hafalan Imam Majduddin ini diturunkan kepada anaknya yang bernama Syihabuddin Abdul Halim. Imam Syihabuddin ini pun menjadi ulama dan sebagai hakim di Bagdad kala itu.

Ia mewarisi ilmu yang diajarkan Imam Majduddin. Kemudian Imam Syihabuddin meneruskan ilmunya kepada anaknya yang bernama Taqiyyuddin Ahmad. Nama terakhir inilah yang kemudian dikenal hingga kini bernama Imam Ibnu Taimiyah.

Nama lengkapnya Taqiyyuddin Ahmad bin Abdul Syihabuddin Abdul Halim bin Abdus Salam bin Abdullah bin Taimiyah. Dalam banyak literarur Islam, ia dikenal dengan nama Imam Ibnu Taimiyah. Kaum muslimin menjuluki Syaikul Islam karena luasnya ilmunya.

Kisah Ulama Mendidik Anak, Ajak Anak Hijrah Ribuan Km

Imam Ibnu Taimiyah lahir di Bagdad pada 661 H. Ketika usia 6 tahun, ayahnya memboyongnya ke Damaskus karena saat itu terjadi serbuan pasukan Mongol di Bagdad. Lagipula, di Damaskus banyak ulama besar nantinya bisa belajar kepada mereka

Imam Syihabuddin mengajarkan Al Quran dan kitab-kitab ulama terdahulu kepada putranya itu. Imam Syihabuddin mengajarkan Mustalahu Al Hadis Al Jarh wa Al Ta’dil, tafsir, fiqih, ushul fiqih, mantiq, filsafat, kalam, aljabar, ilmu hitung, kimia dan ilmu falak   

Kecerdasannya nampak sejak kecil. Ketika usia belasan tahun Imam Ibnu Taimiyah sudah sering menggantikan ayahnya untuk mengajar masjid jami Damaskus. Saat itu, masjid menjadi madrasah dan kampus bagi kaum muslimin.

Luar Biasa, Masih ABG Sudah Jadi Pengajar Agama

Di usia belasan tahun, Imam Ibnu Taimiyah sudah hafal Al Quran dan tafsirnya serta hafal Kitab Musnad Imam Ahmad dan Kutubus Sittah serta Mu’jam Ath Thabarani Al Kabir.

Kutubus Sittah daftar kitab-kitab induk hadits para ulama generasi awal. Kutubus Sittah terdiri dari Kitab Shahih Bukhari, Kitab Shahih Muslim, Kitab Sunan An Nasai, Kitab Sunan Abu Daud, Kitab Sunan At Tirmidzi dan Kitab Sunan Ibnu Majah.

Hasil didikan sang ayah dan warisan keilmuan dari kakeknya membentuk kecerdasan yang luar biasa bagi Imam Ibnu Taimiyah. Kisah ulama mendidik anak ini pun sangat luar biasa.

Belum genap usia 30 tahun, Ibnu Taimiyah sudah dimintai fatwa oleh masyarakat kala itu. Kumpulan fatwa-fatwanya dikompilasi oleh salah satu muridnya yang bernama Ibnu Qayyim. Kompilasi itu dinamakan Kitab Majmu Fatawa.

Produktif, Tiap Malam Menulis Puluhan Halaman Kitab

Ibnul Wardi, salah satu murid Ibnu Taimiyah mengatakan, gurunya itu tiap malam menulis tafsir Al Quran dan ilmu Ushul Fiqih. Ibnu Taimiyah juga menulis analisis terhadap pendapat para filsuf. Jumlah tulisan Ibnu Taimiyah mencapai 500 judul.

Suatu ketika, Ibnu Taimiyah dipenjara penguasa yang diktator. Dan di dalam tahanan pun Ibnu Taimiyah tetap membaca dan menulis. Ia juga sering berkirim surat kepada murid-muridnya.

Surat-menyurat ini sebagai ganti kegiatan menulis. Awalnya pihak pemerintah dan penjaga penjara masih mengizinkan Ibnu Taimiyah menulis.

Makin hari makin banyak murid Ibnu Taimiyah yang datang menjenguk dan mendengarkan penjelasannya. Lama-kelamaan, penjaga melarang kunjungan itu. (Baca juga: Bagaimana Ulama menjaga waktu mereka agar tidak sia-sia)

Masya Allah, Seisi Kota Berguru Padanya

Konon, murid dan jamaah Ibnu Taimiyah mencapai 20 ribu atau 30 ribu orang. Itu artinya, seisi kota aktif berguru kepada Ibnu Taimiyah.

Ibnu Taimiyah adalah ulama sangat disegani dan ilmunya sangat mumpuni. Jika Ibnu Taimiyah berceramah di alun-alun kota. lalu ada orang nonmuslim melintasi alun-alun itu.

Konon, mereka pun tertarik mendengarkan ceramahnya itu dan ikut duduk menyimak. Bahkan ada kisah nonmuslim kemudian masuk Islam hanya karena melintasi majelis tempat Ibnu Taimiyah mengajar.

Zaman itu, 30 ribu sama dengan total penduduk satu kota penuh. Tak heran jika banyak yang menjenguknya dan tetap mau belajar meski duduk di dekat penjara.

Lalu Ibnu Taimiyah dilarang menulis oleh pemerintah. Semua lembaran dan tinta Ibnu Taimiyah dirampas. Murid-muridnya dilarang membawakan alat tulis.

Tak Ada Kertas, Menulis Pun Di Tembok Penjara

Namun, Ibnu Taimiyah tidak ingin menyia-nyiakan waktu. Saking banyaknya ilmunya, Ibnu Taimiyah tetap menulis di penjara. Ibnu Taimiyah titip pesan ke murid-muridnya, “Lemparkan arang-arang ke lubang tahanan ini,”

Setelah arang itu dilemparkan, ternyata Ibnu Taimiyah menulis di tembok penjara dengan arang-arang itu. Tak ayal, seisi tembok penjara pun dipenuhi tulisan dan ilmu yang berbobot dari Ibnu Taimiyah.

Di antara kisah ulama mendidik anak adalah kisah Syekh Al Albani. Nama lengkapnya Muhammad Nashiruddin Al Albani. Ia lahir di Albania 1914 M. Ayahnya bernama Haji Nuh An Najati dari Albania.

Ketika Syekh Al Albani masih berusia 9 tahun, ayahnya membawanya serta saat migrasi ke Damaskus, kini wilayah Suriah.

Awalnya Masuk Sekolah, Lama-lama Anaknya Diajari Sendiri

Awalnya ayah Al Albani memasukkannya ke madrasah setara ibtidaiyah di Damaskus. Lulus setingkat SD, ternyata ayahnya tidak memasukkan ke sekolah formal. Ayahnya menganggap kurikulum sekolah formal tidak begitu banyak manfaat bagi Al Albani.

Akhirnya Haji Nuh membuat kurikulum sendiri dan mengajar sendiri putranya itu. Sejak itu Al Albani belajar AlQuran, tajwid, Ilmu Sharaf, dan Ilmu fiqih mazhab Hanafi.

Karena Haji Nuh penganut mazhab Hanafi. Perjalanan Haji Nuh An Najati mendidik putranya menjadi inspirasi bagi kita. Kisah ulama mendidik anak ini telah menjadi teladan bagi umat Islam masa kini.

Kisah ulama Mendidik Anak, Haus Ilmu, Juga Berguru Ke Banyak Ulama

Setelah beranjak dewasa, Al Albani pun mulai belajar ke para ulama di sekitar Damaskus. Ia banyak belajar ilmu hadits

Al Albani sering ke perpustakaan untuk membaca kitab hadits dan kemudian memberi catatan untuk penjelasan dari hadits-hadits itu.

Di abad 20 Masehi ini, Syekh Al Albani banyak meneliti ulang derajat hadits-hadits. Sehingga ini memudahkan para pelajar dan mahasiswa dan juga ulama setelahnya untuk memilih hadits. Mana yang kategori shahih, derajatnya lemah bahkan hadits palsu.

Syekh Al Albani salah satu tokoh pembaharu hadits abad ini. Ia telah menghidupkan lagi kajian hadits yang sempat mengalami kelesuan penelitian dan kajian yang mendalam. (Baca juga: Kisah ulama yang berguru ke 1.080 Guru selama hidupnya)

Sejak Muda Suka Ke Perpus dan Hobi Mencatat

Saking hobinya mencatat hadits, Syekh Al Albani dulunya membeli kertas bekas di penampungan sampah. Dengan begitu, ia mendapatkan kertas yang murah untuk catatan haditsnya itu.

Hadits-hadits yang banyak beredar di masyarakat  Islam kembali diteliti oleh Syekh Al Albani. Sehingga makin jelas mana yang yang valid dan mana yang tidak. Tak kurang dari 200 karya Syekh Al Albani, baik yang buku kecil hingga berjilid-jilid. Ia wafat 1999 di Amman, Yordania. Semoga karyanya jadi ilmu yang bermanfaat.    

Foto: pixabay

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *