kisah ulama berbakti orangtua

Kisah ulama berbakti orangtua kali ini tentang Imam Syafii. Imam Syafi’i mempunyai nama asli Muhammad bin Idris asy-Syafi’i. Ia lahir dari ayah yang bernama Idris bin Abbas bin Utsman bin Syafi’i dan ibu yang bernama Fatimah binti Ubaidillah Azdiyah.

Ayahnya dari Gaza, Palestina sementara ibunya berasal dari suku Azerbaijan. Menurut sejarawan lain, ibu Imam Syafi’i adalah ahlul bait, keturunan Rasulullah dari jalur Ubaidillah bin Hasan bin Husein bin Ali bin Abi Thalib.

Imam Syafi’i adalah sosok ulama besar yang dikenal hingga kini. Di balik kecerdasan dan kesalehannya tersembunyi kisah mengenai sikap baktinya pada orang tua, khususnya ibu.

Kisah Ulama Berbakti Orangtua, Usia 7 tahun Hafal Al Quran

Ketika usia Syafi’i masih beberapa bulan, ayahnya meninggal dunia karena sakit. Saat berusia dua tahun, sang ibu mengajak anaknya pindah ke Hijaz (Jazirah Arab).

Namun, ibunya kemudian memutuskan untuk membawa Syafi’i kembali ke Makkah. Agar lebih mengenal keluarganya yang lain di kampung halaman mereka. Kisah ulama berbakti orangtua pada tulisan ini sekelumit cerita hidup Imam Syafii.  

Di Makkah, selain berkenalan dengan keluarga besarnya, Syafi’i juga belajar agama kepada beberapa ulama. Ia sangat mencintai ilmu sehingga belajar dengan cepat. Allah menganugerahkan kecerdasan luar biasa kepadanya.

Merasa belum cukup ilmu yang didapatkan di Madinah, Syafi’i berangkat ke Irak bersama murid-murid Imam Abu Hanifah.

Syafi’i mempelajari Al-Qur’an dan lancar menghafalkannya di usia 7 tahun. Karena miskin, Syafi’i tidak mencatat pelajarannya pada kertas melainkan pada tulang yang lebar, daun atau kulit binatang.

Tidak Banyak Pesan, Ibu Hanya Bilang: Jujur

Di usia 9 tahun, Syafi’i meminta izin kepada ibunya untuk belajar ke Madinah. Sang ibu awalnya merasa berat untuk melepas kepergian anaknya. Syafi’i pun patuh menerima keputusan ibunya. Ibu Syafi’i meminta kepada Allah agar diberi kekuatan untuk ikhlas melepas anaknya menuntut ilmu.

Beberapa bulan kemudian, sang ibu mengizinkan Syafi’i pergi ke Madinah. Ibu Syafi’i membekalinya dengan uang sebanyak 400 dirham.

Ia juga meminta anaknya agar selalu jujur dimana pun ia berada dan tidak sekali pun berbohong. Kisah ulama berbakti orangtua ini menceritakan sekilas perjalanan hidup Imam Syafii.

Dalam munajatnya, ibu Syafi’i berdoa, “Ya Allah, Rabb yang menguasai seluruh alam. Anakku ini akan meninggalkanku untuk perjalanan jauh demi mencapai rida-Mu. Aku rela melepasnya untuk menuntut ilmu peninggalan Rasul-Mu. Maka, hamba memohon kepada-Mu. Ya Allah, mudahkanlah urusannya, lindungilah ia, panjangkanlah umurnya agar aku bisa melihatnya nanti ketika pulang dengan dada yang penuh dengan ilmu-Mu.”

Ditertawakan Perampok Karena Dianggap Bohong

Syafi’i bergabung dengan rombongan kafilah yang menuju ke Madinah. Mereka melewati padang pasir yang luas selama berhari-hari. Suatu ketika, rombongan itu dihadang oleh segerombolan perampok.

Mereka mengambil semua harta milik kafilah. Salah satu dari mereka menghampiri Syafi’i. Ia menanyakan apakah Syafi’i punya uang. Syafi’i menjawab iya. Saat ditanya berapa jumlah uangnya, Syafi’i berkata jujur tanpa sedikit pun rasa khawatir.

Ia katakan bahwa ia membawa uang sebanyak 400 dirham. Anggota perampok tak percaya dengan apa yang dikatakannya. Ia malah tertawa mengejek dan kembali menemui ketua perampok.

Ketua perampok bertanya apakah mereka sudah mengambil seluruh harta kafilah itu. Anggotanya menjawab sudah, kecuali satu orang anak kecil miskin yang mengaku membawa uang 400 dirham.

Masih Usia 9 Tahun, Dirampok Tetap Tenang

Si Ketua perampok terkejut. Ia meminta anggotanya untuk membawa Syafi’i ke hadapannya. Saat ketua perampok memastikan kembali jumlah uang yang dibawanya dan meminta uang tersebut, Syafi’i memberikan uangnya.

“Kamu tahu kan kalau aku akan mengambil uang ini?” tanya Ketua perampok.

“Ya,” jawab Syafi’i.

“Lalu, kenapa berkata jujur? Kamu kan bisa berbohong.”

“Saya sudah berjanji pada ibu saya untuk berkata jujur dimana pun saya berada.”

Masya Allah, Perampok itu Pun Langsung Tobat Karena Ini

Ketua perampok tersentak. Ia terdiam beberapa lama kemudian mengembalikan uang Syafi’i. Ketua perampok merasa malu. Ia berkata ingin bertobat.

Jika Syafi’i kecil saja mampu menepati janjinya pada sang ibu, kenapa ia tak bisa menepati janji pada Tuhannya untuk menjadi hamba yang saleh? Anggota perampok pun mengikuti jejak ketuanya. Mereka kemudian mengembalikan harta kafilah yang mereka rampas.

Pada usia 10 tahun, Syafi’i sudah hafal 1.720 hadis dari kita al-Muwaththa karangan Imam Malik. Pada tahun berikutnya, Syafi’i belajar sastra Arab dari guru di perkampungan suku Badui, Bani Hudzail, selama beberapa tahun.

Luar Biasa Cerdas, Sudah Dimintai Fatwa Di Usia Remaja

Setelah fasih dengan sastra Arab, Syafi’i kembali ke Makkah dan belajar fikih pada Imam Muslim bin Khalid az-Zanji yang menjabat sebagai mufti atau pemberi fatwa saat itu.

Syafi’i belajar dengan sungguh-sungguh. Pemahaman Al-Qur’an Syafi’i luar biasa. Ketika Syafi’i membaca Al-Qur’an, setiap orang yang mendengarnya pasti akan terharu dan bergetar seolah-olah ayat yang dibacakan ditujukan pada mereka.

Salah seorang imam yang bernama Syaikh Muslim kagum akan kecerdasan Syafi’i. Ia pun menobatkan Syafi’i sebagai mufti saat usianya sekitar 15 tahun. Imam Syafi’i menjadi satu-satunya mufti termuda pada zamannya.

Kisah Ulama Berbakti Orangtua, Merantau Ribuan Kilometer Demi Ilmu

Merasa belum cukup ilmu yang didapatkan di Madinah, Syafi’i berangkat ke Irak bersama murid-murid Imam Abu Hanifah. Syafii harus menempuh ribuan kilometer demi menuntut ilmu. Baca juga kisah ulama belajar ke seribu guru.

Di Irak, ia menjadi pembelajar unggul dan kecerdasannya terdengar ke seluruh antero negeri. Akhirnya ia diberi mandat untuk mengajar dan menjadi ulama besar di penjuru Hijaz dan Irak.

Suatu ketika, ibu Imam Syafi’i melaksanakan haji dan mendengarkan pengajian di Masjidil Haram yang diisi oleh seorang ulama dari Irak. Ia merasa heran karena nama Muhammad bin Idris asy-Syafi’i sering disebut-sebut.

Karena penasaran, ibu Syafi’i menanyakannya pada sang ulama. Ternyata benar, anaknya adalah guru dari ulama tersebut.

Bawa Oleh-oleh, Malah Ditolak Mentah-mentah Sang Ibu

Ibu Syafi’i pun menitipkan pesan bahwa anaknya dipersilakan kembali ke Makkah. Dengan rindu yang membuncah, Syafi’i bergegas kembali ke Makkah dengan membawa makanan, harta, dan ratusan unta.

Ia juga dikawal murid-muridnya layaknya raja. Di perbatasan kota Makkah, Syafi’i meminta muridnya untuk memberi kabar pada sang ibu bahwa ia akan segera sampai. Ibu Syafi’i menanyakan apa yang dibawa anaknya.

Saat mendengar bahwa Syafi’i membawa ratusan unta dan harta yang berlimpah, ia marah dan menyuruh anaknya kembali. Sebab, ia tidak menyuruh anaknya mencari dunia.

Dengan cemas, murid Syafi’i memberi kabar tersebut. Syafi’i segera membagi-bagikan harta yang ia bawa pada penduduk Makkah dan hanya menyisakan kitab-kitabnya.

Ia kembali meminta muridnya mengabarkan kondisi terkininya pada sang ibu. Ibu Syafi’i yang kembali menanyakan apa yang dibawa anaknya kemudian mengizinkan Syafi’i pulang.

Penulis: Mega Anindyawati
Editor: Oki A.

Foto: pixabay

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *