Kisah sukses karena sedekah

Kisah sukses karena sedekah salah satunya yang jarang diketahui generasi muda Indonesia antara lain sedekah dari Sultan Hamengku Buwono IX.

Ada satu babak penting sejarah Indonesia yang tak dikenal publik terkait peran Sri Sultan Hamengku Buwana IX dalam memulai Republik Indonesia.

Jasa Sultan Hamengku Buwono IX dan Keraton Yogyakarta sungguh sangat besarnya. Karena berkat bantuannya, Republik Indonesia bisa berdiri tegak hingga saat ini.

Kisah Sukses Karena Sedekah, APBN Nol Saat Proklamasi

Berdirinya Republik Indonesia ada andil besar Sri Sultan Hamengku Buwono IX. Kisah sukses karena sedekah telah dicontohkan Sultan Hamengku Buwono IX.

Ada babak penting dalam sejarah yang tak mau diungkap Sri Sultan Hamengku Buwana IX semasa hidupnya. Kisah ini terungkap setelah raja Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat ini mangkat pada tahun 1988.

Perlu diketahui, pada awal kemerdekaan Republik Indonesia, keadaan perekonomian bangsa Indonesia sangat buruk. Kas negara kosong, pertanian dan industri rusak berat akibat Perang Dunia II.

Blokade ekonomi yang dilakukan Belanda membuat perdagangan dengan luar negeri terhambat, kekeringan dan kelangkaan bahan pangan terjadi dimana-mana, termasuk Yogyakarta.

Demi NKRI, Kesultanan Jogja Rela Melebur

Pada masa awal kemerdekaan Indonesia setelah pembacaan teks Proklamasi, Sri Sultan Hamengku Buwono IX sebagai Raja Kesultanan Yogyakarta menyambut dengan antusias berita baik tersebut.

Sultan mengirim ucapan selamat melalui telegram kepada Soekarno-Hatta dua hari setelah Indonesia merdeka. Sultan menyatakan sikap dan kedudukan Yogyakarta di wilayah Republik Indonesia melalui Maklumat 5 September 1945.

Isinya: kedudukan Kesultanan Yogyakarta pada saat itu adalah daerah istimewa. Padahal Kesultanan Jogja saat itu masih menjadi kerajaan berdaulat dan diakui oleh kerajaan-kerajaan Eropa seperti Inggris dan Belanda. Demi NKRI, Sultan memutuskan bergabung dengan negara baru ini.

Sultan Hamengku Buwono IX sebagai Kepala Daerah Istimewa Yogyakarta bertanggung jawab langsung kepada presiden.

Tidak Hanya Berkorban Harta, Tapi Juga Pertaruhkan Jiwa Saat Serangan Umum 1 Maret 1949

Namun perjuangan Sri Sultan Hamengku Buwono IX tak berhenti sampai di situ. Kemerdekaan ini dinilai oleh Belanda adalah kemerdekaan pemberian Jepang.

Karena itu, Belanda berusaha mengambil alih kembali wilayah Republik Indonesia melalui pasukan Sekutu yang dikomando Inggris.

Kecerdasan Sri Sultan Hamengku Buwono IX sangat cemerlang. Sultan mempersiapkan pemerintahan Republik Indonesia di Yogyakarta dengan sangat baik agar roda pemerintahan berjalan sebagai mana mestinya.

Ketika Jakarta jatuh dan tidak lagi aman untuk ditempati karena kedatangan tentara sekutu yang diboncengi NICA (tentara Belanda).

Jogja Pernah Jadi Ibukota RI

Namun, ketika Yogyakarta jatuh pada Agresi Militer II, Sri Sultan Hamengku Buwono IX beserta rakyat dan para jajaran pegawai negerinya melaksanakan tindakan yang nonkooperatif terhadap Belanda di Yogyakarta.

Hanya pegawai bagian kesehatan, listrik, air minum dan kebersihan yang bekerja agar rakyat tidak menanggung penderitaan yang tidak perlu.

Pemilihan Daerah Istimewa Yogyakarta sebagai Ibu Kota Republik Indonesia pada saat itu melihat dari sosok kepribadian Sultan Hamengku Buwono IX. Sultan mempunyai pengaruh dan wibawa yang besar di mata rakyatnya.

Sehingga selalu terjadi koordinasi dan kerja sama yang baik saling mendukung demi berjalannya roda pemerintahan di Yogyakarta. Sri Sultan Hamengku Buwono IX juga berperan penting sebagai inisiator yang bertanggung jawab secara politik terhadap Serangan Umum 1 Maret 1949.

Mencengangkan, Sumbangan Harta Pribadi Sultan Untuk Kas Awal NKRI

Setelah Belanda angkat kaki dari Indonesia pada 29 Juni 1949 pascanegosiasi Konferensi Meja Bundar, Sri Sultan mengumandangkan proklamasi kedua Indonesia. Di hari yang sama, Sri Sultan Hamengku Buwono  IX terbang ke Pulau Bangka dengan meminjam pesawat dari PBB untuk menemui Bung Karno, Bung Hatta, dan sejumlah Menteri yang diasingkan Belanda.

Di sinilah karena Sri Sultan Hamengku Buwana IX tahu bahwa Soekarno Hatta dan Republik Indonesia tidak mempunyai modal untuk menjalankan pemerintahan,

Sri Sultan Hamengku Buwana IX menyumbangankan harta pribadinya sebesar 6 juta Gulden kepada Bung Karno untuk kebutuhan operasional Republik Indonesia.

APBN Republik Indonesia pertama kali adalah uang pribadinya Sri Sultan Hamengku Buwana IX. Memang tak diketahui jumlah pastinya. Itu hanya perkiraan umum. Inilah kisah sukses karena sedekah yang menjadi tonggak bersejarah bangsa Indonesia.

Menakjubkan, Jika Sedekah Sultan Dirupiahkan Masa Kini

Namun jika dibandingkan dengan kondisi saat ini bisa mencapai triliunan rupiah. Bahkan Sri Sultan Hamengku Buwono juga rela meminta ke pendiri Bangsa Indonesia untuk memindahkan ibukota negara dari Jakarta ke Yogyakarta. Karena kondisi Jakarta yang sudah tidak aman kala itu.  

Sultan mengetahui bahwa akan terjadi perubahan yang baru. Sehingga keraton Yogyakarta tidak akan mampu terus bertahan. Sultan memilih bergabung dan berperan dalam perjuangan Bangsa Indonesia. Kisah sukses karena sedekah ini rahasia di balik awal berdirinya Republik Indonesia. Ada peran yang sangat besar dari raja Jawa ini.

Meski berwawasan internasional, Sri Sultan Hamengku Buwono IX tak seperti kacang yang lupa kulitnya. Dalam penobatannya menjadi raja pada tahun 1940 Sri Sultan mengatakan, “Meskipun saya sudah mengenyam pendidikan barat, saya tetaplah orang Jawa.” Indonesia akan mengenang kisah sukses karena sedekah Sultan Hamengku Buwono IX ini

Atas dukungannya terhadap Republik Indonesia, Sri Sultan Hamengku Buwono IX membuktikan komitmennya untuk bergabung dengan Indonesia.

Raja yang semasa mudanya bergelar Gusti Raden Mas Dorodjatun ini tak hanya sekadar berpangku tangan. Kisah sukses karena sedekah telah dicontohkan pemimpin asal Jawa ini, demi suksesnya Indonesia.

Sultan Juga Ahli Diplomasi dan Siasat Militer

Sultan juga memiliki kedudukan penting di jabatan strategis Republik Indonesia mulai dari Ketua Badan Pemeriksa Keuangan, menteri di berbagai kabinet, dan juga menjadi Wakil Presiden peda tahun 1973 hingga tahun 1978.

Kepahlawanan raja yang memiliki hobi fotografi dan memasak ini tak diragukan lagi. Terutama saat menunjukkan eksistensi Indonesia di mata Internasional pada saat serangan umum 1 Maret 1949.

Di sinilah terlihat peran sentral Sri Sultan Hamengku Buwono IX yang merancang dan melindungi pasukan Republik Indonesia bersama dengan rakyat Yogyakarta. Rencana disusun di dalam keraton bersama Pak Soeharto yang saat itu berpangkat letnan kolonel, atas perintah Jendral Sudirman.

Amanat Sri Sultan Hamengku Buwono IX saat ini tak ada nama jalan atau monumen di ruang-ruang publik yang dibangun dengan namanya. Namun kiprah raja Yogyakarta ke IX ini tak akan pernah bisa dihapus dari jejak penting Republik Indonesia sampai kapanpun.

Kisah sukses karena sedekah Hamengku Buwono IX ini bukti keikhlasan dan patriotisme yang besar. Baca juga kisah pahlawan Indonesia yang juga leluhur Sultan HB IX, yaitu Pengeran Diponegoro. Ia adalah putra dari Sultan HB III.

Hadapi Penjajahan Jepang Dengan Cerdik

Sri Sultan Hamengku Buwono pernah bercerita. Ia mendapatkan wangsit dari leluhur terdahulu ketika dalam keadaan antara tidur dan terjaga yang berbunyi, wis cekno wae le, mengko bakal lungo dewe ‘biarkan saja anakku, nanti (Belanda) akan pergi sendiri.’

Sultan Hamengku Buwono IX bergegas menandatangani kontrak kekuasaan dengan Belanda yang sebelumnya sempat beliau tolak. Kontrak kekuasaan itu ditandatangani begitu saja tanpa peduli dengan poin-poin isinya.

Gubernur Jenderal Belanda sempat dibuat bingung mengapa Sri Sultan Hamengku Buwono IX ngotot negosiasi marathon selama lebih dari empat bulan tapi tiba-tiba begitu saja menandatangani tanpa membaca isinya. Setahun kemudian Jepang datang ke Indonesia dan mengusir Belanda.

Selama penjajahan Jepang, rakyat Indonesia dibuat menderita karena adanya kerja paksa dan tanam paksa . Namun, berkat wangsit yang diakui dari leluhur, rakyat Yogyakarta bisa sedikit diringankan penderitaannya

“Umure mung sak umur jagung ‘umurnya hanya seumur pohon jagung. Bunyi ramalan yang diterima Sri Sultan Hamengku Buwono IX.

Hebat, Penjajah Jepang Pun Termakan Siasat Sultan

Nah, dengan wangsit itu Sri Sultan Hamengku Buwana menyusun strategi dengan mendatangi jenderal Jepang yang berkuasa di Jakarta untuk bernegosiasi.

Sri Sultan Hamengku Buwono IX mengatakan kepada Jepang bahwa Keraton Yogyakarta memiliki wilayah kecil, miskin, dan tidak memiliki hasil panen yang memadai.

Lalu Sultan Hamengku Buwono IX meminta kepada Jepang untuk mengganti program kerja paksa Romusa. Yaitu dengan membangun saluran irigasi selokan Mataram agar hasil bumi wilayah Yogyakarta meningkat dan bisa memberi sumbangan kepada Jepang.

Hasil bumi Jawa ini pun disumbangkan untuk para pasukan gerilya saat Belanda hadir lagi ke Indonesia pasca proklamasi. Kisah sukses karena sedekah ini telah menjadi tonggak penting berdirinya Indonesia.

Teladan Bagi Pemimpin, Harus Lebih Banyak Berkorban Demi Negeri

Permintaan itu disetujui oleh Jepang dan proyek pembangunan Selokan Mataram pun dimulai dikerjakan secara gotong royong oleh rakyat Yogyakarta.

Namun, proyek itu belum sampai selesai, Jepang kalah oleh pasukan sekutu dan harus pergi dari Indonesia tepat 3.5 tahun sesuai umur pohon jagung.

Umur pohon jagung bisa dipanen selama 3,5 bulan. Inilah analogi kehadiran pendudukan Jepang di Indonesia.

Saat ini kita merindukan pemimpin seperti pribadi Sultan Hamengku Buwono IX yang sangat nasionalis, kerakyatan, tanpa meninggalkan identitas dan tradisi kebudayaannya.

Foto: pixabay

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *