kisah sahabat nabi yang jujur

Kisah sahabat nabi yang jujur menunjukkan bahwa bukti pertama dan utama dari iman adalah kejujuran. Karena siapa saja yang beriman kepada Allah dan Rasulullah, tak akan ada sifat pembohong pada dirinya sedikit pun. Iman dan dusta tidak akan bisa berpadu dalam satu jiwa.

Suatu saat, ada sahabat yang bertanya kepada  Nabi Muhammad, “Mungkinkah seorang mukmin itu pengecut, wahai Rasulullah?”

“Mungkin,” jawab Nabi saw.

“Mungkinkah seorang mukmin kikir?”

“Mungkin.”

“Mungkinkah seorang mukmin pembohong?”

“Tidak,” begitu tegas Rasulullah saw.

Jelaslah, bahwa jujur itu cerminan iman. Tidakan akan mungkin keimanan bersatu dalam jiwa mukmin. Karena bukti imannya itu yang utama adalah jujur. Kisah sahabat nabi yang jujur akan kami tulis di sini secara ringkas.

Kisah Sahabat Nabi yang Jujur, Bercanda Pun Jangan Dusta

Kebohongan itu lawan dari keimanan. Sekalipun itu hanya gurauan. Nabi Muhammad menjamin surga bagi siapa saja yang menjauhi dusta meskipun hanya bergurau.

Rasulullah Muhammad saw bersabda, “Aku jamin rumah di surga bagi siapa saja yang meninggalkan perdebatan meskipun dia benar. Aku juga menjamin rumah di surga bagi siapa saja yang meninggalkan kedustaan meskipun hanya bercanda. Aku menjamin surga yang paling tinggi bagi siapa saja yang berakhlak baik” (HR. Abu Daud).

Jika Anda hobi bikin konten medsos atau online, janganlah mengandung kebohongan. Jangan hanya karena ingin prank atau bercanda lalu bohong. Jangan karena ingin lucu malah menipu orang. Meski bercanda, Nabi melarang berbohong atau menipu

Jika kita baca kisah-kisah para sahabat nabi betapa mereka punya komitmen pada kejujuran. Kisah sahabat nabi yang jujur bisa kita di sini.

Arab Badui ini juga punya watak yang mulia. Mereka ini terkenal sangat jujur, setia, polos dan juga pemberani. Mereka tidak terkontaminasi dengan peradaban luar yang penuh manipulasi dan intrik.

Sejak Nabi Muhammad tinggal di Madinah, makin banyak orang Arab yang masuk Islam. Ada kabilah-kabilah (sub suku Arab) di sekitar Madinah yang kemudian menyatakan keislaman.

Tak sedikit pula warga perkampungan Arab Badui yang kemudian beriman kepada Allah dan rasul. Mereka adalah orang Arab pedalaman atau Arab yang tinggal di gunung-gunung atau di sekitar oase di gurun pasir.

Meski Tidak Berpendidikan, Tapi Tak Pernah Bohong

Arab Badui kala itu memang tidak banyak mengenal peradaban. Banyak yang masih liar dan hidup mengembara dari gurun ke gurun.

Kebanyakan mereka juga punya tabiat kasar. Bukan karena jahat, namun mereka tidak terbiasa dengan aturan yang pasti, Maklum, mereka tinggal di gurun atau gunung.

Sehingga, acap kali mereka kencing dan buang air besar pun sekenanya saja. Itulah kebiasaan mereka di perkampungannya.  

Di luar itu, Arab Badui ini juga punya watak yang mulia. Mereka ini terkenal sangat jujur, setia, polos dan juga pemberani. Mereka tidak terkontaminasi dengan peradaban luar yang penuh manipulasi dan intrik. Kisah sahabat nabi yang jujur dari kalangan Arab Badui bisa kita baca sama-sama di sini.  

Contohnya, ada seorang Arab Badui yang bergabung dengan mujahidin di masa Rasulullah. Dia ikut berjuang melawan serangan orang kafir kala itu.

Masya Allah, Diberi Harta Tak Berminat, Inginnya Surga

Dalam sebuah jihad, kaum muslimin mendapat banyak harta rampasan perang. Ada ternak, kuda, baju besi, dan banyak lainnya.

Atas bimbingan wahyu, Rasulullah saw membagi harta itu kepada siapa yang ikut berjuang. Termasuk si Arab Badui itu.

Rasul memberi tugas pembagian itu kepada salah satu sahabat terdekat. Sahabat ini pun memanggil si Arab Abdui agar dia segera mengambil jatah hartanya.

Si Badui berkata, “Bukan untuk ini akau berjuang di jalan Allah. Aku hanya ingin jika aku mati, maka sebagai mati syahid terkena tombak di sini dan mendapat surga.” Ucapnya sambil ia menunjuk lehernya.

Si Badui tidak berminat membawa harta yang jadi haknya itu. Mendengar ucapan itu, Rasulullah  Muhammad bersabda, “Jika dia jujur, Allah akan kabulkan ucapannya itu.” Kisah sahabat nabi yang jujur ini membuktikan bahwa iman yang besih akan berbuah kejujuran serta mengantarkan kepada kebaikan.

Siapa yang Mau Dikabulkan Doanya? Inilah Caranya

Dan benar. Pada jihad berikutnya, si Arab Badui gugur dalam jihad fi sabillillah. Dan persis seperti yang ia ucapkan sebelumnya. Ia terkena tombak pada lehernya. Rasulullah saw mengabarkan bahwa Arab Badui itu mati syahid dan masuk surga.

Allah mengabulkan ucapannya yang jujur itu. Kisah sahabat yang jujur ini menginspirasi kita betapa ucapan dan perbuatan yang jujur dari lubuk hati paling dalam pun bisa menjadi pintu keterkabulan doa dari Allah.

Di suatu kesempatan, Rasululah Muhammad bersabda, “Sesungguhnya kejujuran itu membimbing kepada kebaikan, Dan kebaikan itu akan membimbing ke surga. Sesungguhnya jika seseorang senantiasa berlaku jujur, maka ia akan dicatat sebagai orang yang jujur. Dan kedustaan itu akan mengantarkan kepada kejahatan, dan kejahatan itu akan menggiring ke neraka. Dan jika seseorang itu selalu berdusta, maka dia dicatat sebagai pendusta” (HR. Imam Bukhari)   

Ada kisah yang lain. Kisah sahabat nabi yang jujur. Dikisahkan ada seorang pemuda yang menyatakan keislamannya di hadapan Nabi Muhammad.

Hanya saja, pemuda ini mengaku masih suka berbuat maksiat. Dia khawatir jika dia memeluk Islam, dia masih gemar berbuat maksiat sebagaimana kebiasannya selama ini.

Kisah Sahabat Nabi Yang Jujur, Pemuda Yang Selalu Ingin Bermaksiat

Dia meminta Nabi agar memberinya nasihat yang mudah diamalkan. Nabi Muhammad hanya  memberi masihat singkat, “Jangan berdusta.”

Pemuda itu pun menyatakan sanggup. Dia pikir bahwa mudah sekali jika hanya disuruh jujur atau tidak berdusta. Pemuda ini pun pulang. Kisah sahabat yang jujur ini mungkin sering kita dengar ceritanya dari para ustadz/kyai.

Lalu pemuda ini menjalani kehidupannya seperti biasa. Kemudian, niat untuk berbuat maksiat pun kembali muncul di benaknya.

Ketika hendak berbuat maksiat, pemuda itu ingat nashat Nabi, “Jangan berbohong.” Pemuda itu berpikir ulang. Bila ia berjumpa Nabi Muhammad lalu beliau bertanya, maka dia harus menjawab jujur.

“Nabi pasti akan bertanya apa saja yang ku lakukan beberapa hari ini. Dan aku menjawab dengan jujur.” Begitu pikir pemuda tadi. Dia malu jika mengatakan hal buruk di hadapan Nabi. Kisah sahabat nabi yang jujur ini bisa jadi inspirasi para pemuda dan pemudi.   

Yang Ingin Tobat Maksiat? Ini Resepnya

Beberapa hari kemudian, pemuda tadi ingin berbuat buruk. Dorongan berbuat maksiat masih saja ada. Lagi-lagi ia berpikir keras. Dia harus jujur di depan Nabi. Jika Rasulullah Muhammad bertanya, maka dia harus menjawab dengan jujur.

Demikianlah, di benaknya selalu bertarung antara berbuat maksiat dan berlaku jujur. Karena janjinya sudah kuat, maka dia mengurungkan niat buruknya itu.

Hingga akhirnya pemuda itu benar-benar bertaubat dengan total. Dia sudah tak lagi berbuat buruk. Baca juga kisah anak punk yang taubat.

Kejujurannya mengantarkannya kepada tobat yang sempurna. Kisah sahabat nabi yang jujur ini harus menjadi inspirasi kita semua. Masih banyak kisah sahabat yang jujur di dalam literatur Islam.

Foto: pixabay

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *