kisah sahabat tentang marah oasis

Kisah sahabat tentang marah banyak dikisahkan dalam referensi Islam. Ali bin Abi Thalib tidak jadi membunuh musuh ketika sedang berada di medan perang. Lantaran ia telah diludahi oleh musuh yang sudah tak berdaya.

Ali khawatir kalau membunuh musuhnya tersebut, bukan semata-mata karena menegakkan agama Allah. Melainkan karena dorongan nafsu dan emosi. Kisah sahabat tentang marah ini menjadi pelajaran penting bahwa berjuang itu harus murni karena Allah.

Kisah Sahabat Tentang Marah, Bisa Berguna Juga Bisa Berbahaya

Dalam kehidupan sehari-hari, begitu banyak kita temukan perselisihan di antara manusia. Bahkan, hampir semua manusia akan mudah terpancing emosinya. Hingga kemudian meledaklah kemarahannya.

Mengendalikan amarah memang tidak mudah. Dan, hanya orang-orang tertentu yang bisa menahan dan mengendalikan kemarahannya.

Amarah ada di dalam diri manusia. Amarah adalah motivasi atau energi yang mendorong dan menggerakkan seseorang untuk berbuat.

Alangkah baiknya bila amarah itu diarahkan untuk menopang kinerja dan kreativitas hidup, sehingga menjadi lebih dinamis. Kisah sahabat tentang marah ini merupakan hikmah kapan boleh marah dan kapan harus ditahan.

Ini Jenis Marah Yang Harus Ditahan

Rasulullah pun juga pernah marah ketika menyampaikan hak Allah. Maka sesungguhnya kemarahan Rasulullah adalah kemarahan yang pernah terjadi dalam kehidupan beliau.

Rasulullah tidak pernah marah untuk dirinya sendiri. Tetapi marah ketika ada hal yang berkaitan tentang agama atau tentang Allah.

“Siapa yang tidak mempunyai tiga sifat, tidak dapat merasa manisnya iman yaitu: (1) kesabaran untuk menolak kebodohan orang yang bodoh (2) wara’ yang dapat mencegah dari yang haram (3) akhlak untuk bergaul dengan manusia (dan akhlak untuk masyarakat)”

Pernah terjadi suatu hari Rasulullah menggunakan kain burdah yang kasar. Lalu salah satu orang Arab Badui memprotes keputusan Nabi dengan dengan kain itu. Karena saking kerasnya, tarikan itu sampai membekas merah di leher Nabi.

Rasulullah hanya tersenyum dan Rasulullah berkata, “Kau boleh ambil ternak-ternak milikku ini.” Orang Arab Badui itu meminta tambahan hewan ternak hasil rampasan perang.

Jenis Marah yang Dibolehkan

Padahal ia sudah mendapat bagian sesuai haknya. Kisah sahabat tentang marah dan kisah nabi ini menjadi teladan bagi kita.

Rasulullah memang memiliki sikap lembut dan penyabar. Namun, jika berkaitan dengan Allah, sikap Rasulullah bisa berubah drastis dan menjadi sangat marah.

Suatu hari Rasulullah mendapati Umar bin Khattab membawa lembaran-lembaran kitab Taurat. Lalu Rasulullah bertanya, “Itu kertas apa?” Umar bin Khattab menjawab, “Ini lembaran kitab Taurat yang aku dapatkan dari kerabatku ya Rasulullah.”

Kisah Sahabat Tentang Marah, Zikir Yang Dibaca Ketika Marah

Kemudian Rasulullah marah. Rona pipinya langsung terlihat merah. Umar bin Khattab pun langsung berdzikir Radhitu billahi rabba wa bil islamidina wa bi muhammadin nabiyya wa rasula ‘Aku ridha Allah sebagai Tuhanku, Islam sebagai agamaku dan Muhammad sebagai nabi dan rasul.’  

Itu adalah zikir yang paling dipahami para sahabat ketika Rasulullah marah. Mereka mengucapkan itu untuk menenangkan kembali dan menurunkan volume kemarahan Rasulullah.

Kemudian Rasulullah berkata, “Wahai Umar, sesungguhnya jika Musa itu masih hidup, pasti Musa akan mengikuti aku. Dan sesungguhnya aku (Muhammad) adalah Nabi bagi kalian dari seluruh Nabi yang pernah diutus oleh Allah dalam kehidupan dan kalian adalah umatku dari seluruh umat yang pernah diutus dalam kehidupan manusia.”

Rasulullah marah karena Umar bin Khattab membawa kitab Taurat yang sebenarnya tidak butuh lagi. Karena ia sudah memiliki Al-Quran. Lalu Al-Quran menyempurnakan apa yang Allah turunkan dalam Taurat dan Injil. (Baca juga: Doa Nabi Daud Minta Kesabaran dalam Berjuang)

Hikmah Menahan Amarah

Banyak kerugian yang akan didapatkan ketika seseorang sedang emosi dan tak mampu mengendalikan amarahnya. Pekerjaan bisa menjadi terbengkalai dan rekan sejawat pun bisa kena marah pula. Akibatnya, persoalan kecil bisa menjadi besar.

“Dan (ingatlah kisah) Dzun Nun (Yunus), ketika ia pergi dalam keadaan marah, lalu ia menyangka bahwa Kami tidak akan mempersempitnya (menyulitkannya), maka ia menyeru dalam keadaan yang sangat gelap, “Bahwa tidak ada Tuhan selain Engkau. Mahasuci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang zalim” (QS. Al-Anbiya [21]: 87).

Betapa beruntungnya mereka yang mampu menahan marah di saat mereka bisa meluapkannya. Allah Ta’ala memberi balasan surga dan keridhoan-Nya bagi mereka yang mampu menahannya.

Tips Menahan Marah Dalam Islam

Sebagaimana dalam riwayat disebutkan, “Sesungguhnya marah itu dari setan, dan setan diciptakan dari api, dan api bisa dipadamkan dengan air. Apabila kalian marah, hendaklah dia berwudhu.” (HR. Ahmad dan Abu Daud). 

Abu Umamah Al Bahili berkata bahwa Nabi Muhammad bersabda, “Siapa yang dapat menahan marah padahal ia kuasa untuk memuaskan amarahnya itu, maka Allah Ta’ala mengisi hatinya dengan keridhoan pada hari kiamat.”

Nabi Muhammad bersabda, “Siapa yang tidak mempunyai tiga sifat, tidak dapat merasa manisnya iman yaitu: (1) kesabaran untuk menolak kebodohan orang yang bodoh (2) wara’ yang dapat mencegah dari yang haram (3) akhlak untuk bergaul dengan manusia (dan akhlak untuk masyarakat)”

Rasulullah bersabda, “Jangan marah, bagimu surga” (HR at-Thabrani). Adapun asbabul wurud hadis ini ketika Abu Darda meminta wasiat kepada Rasulullah saw. Tentang amalan yang dapat membuatnya masuk surga. 

Pahala Menahan Marah

Rasulullah pun bersabda, “Janganlah engkau marah, dan (karena jika engkau mampu menahan amarahmu) maka bagimu surga.”

Umar bin Abdul Aziz juga dikisahkan menahan marah. Ia adalah seorang khalifah yang lahir tahun 63 Hijriyah (684 M) dan wafat tahun 101 Hijriyah (720 M).

Ia dikenal dalam sejarah Islam karena sosoknya yang adil. Dan dijuluki sebagai Khulafaur Rasyidin kelima.

Umar bin Abdul Aziz berkata kepada orang yang telah membuatnya marah, “Andaikan engkau tidak membuatku marah, niscaya sudah saya beri hukuman.”

Bagaimana Jika Pejabat Negara Marah

Umar teringat dengan firman Allah yang berbunyi, “Wal kaadziminal ghaidha” ‘Dan mereka yang dapat menahan marah’ (QS. Ali Imran 134). Karena itu, ketika ia mendapat kesempatan untuk menahan marah maka langsung digunakannya.

Sebab, itulah ciri orang yang bertaqwa seperti ternaktub di surat Ali Imran ayat 133-134 di atas.

Suatu hari, Umar bin Abdul Aziz melihat seorang yang mabuk. Ketika akan ditangkap untuk diberi hukuman, tiba-tiba beliau dimaki-maki oleh si pemabuk. (Baca juga: Kesabaran Sahabat Nabi Ketika Istrinya Marah)

Untuk Siapa Kemarahan Kita, Teladan dari Khalifah Umar Bin Abdul Aziz

Maka Umar mengurungkan niatnya dan tidak jadi menghukum pemabuk itu. Kisah sahabat tentang marah ini menjadi contoh para pemimpin bagaimana mengelola amarah.

Ketika ditanya, “Wahai Amirul Mukminin, mengapa setelah ia memaki kepadamu tiba-tiba engkau tinggalkan?”

Umar menjawab, “Karena ia menjengkelkanku maka andaikan saya hukum (pukul) mungkin karena murkaku padanya, dan saya tidak suka memukul seseorang hanya membela diriku (untuk kepentingan diriku).”

Penulis: Chamdika Putri
Editor: Oki A.

Foto: Pixabay

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *