Kisah sahabat nabi yang kuat imannya

Kisah sahabat nabi yang kuat imannya bertaburan di banyak literatur Islam. Meskipun mereka diterpa ujian yang sangat pedih, mereka kokoh mempertahankan imannya.

Siksaan dan derita hidup tidak melunturkan imannya kepada Allah dan kesetiaannya kepada Nabi Muhammad.

Sebut saja Shuhaib bin Sinan Ar Rumi. Ia adalah salah satu sahabat nabi yang paling awal masuk Islam. Dijuluki Ar Rumi karena di berasal dari Romawi.

Menurut banyak riwayat, Shuhaib berasal dari Eropa. Dia mengembara ke banyak negeri.

Shuhaib bin Sinan telah mengembara ke Persia (kini Iraq dan Iran) dan kemudian terakhir ke Mekkah.

Kisah Sahabat Nabi yang Kuat Imannya, Karir Bisnisnya Melejit

Shuhaib bin Sinan datang ke Mekkah tanpa membawa harta. Lalu Shuhaib dipercaya para saudagar Arab untuk memasarkan dagangannya.

Sikap yang ramah, ditambah perawakan yang menawan dan kulitnya putih kemerahan khas orang Eropa membuat dia banyak disukai saudagar. Dan benar saja, dagangannya laris manis.

Makin lama bisnisnya makin moncer. Labanya makin tumbuh. Hartanya pun terus bertambah. Yang dulunya sebagai pengembara tak punya apa-apa, kini Shuhaib menjadi saudagar kaya raya.

Keimanannya tak akan goyah dengan sogokan atau suap dengan bentuk apapun itu. Keimanan itu mahal sekali. Sangat bodoh jika merelakan iman untuk harta dunia.

Begitu mendengar risalah Islam, Shuhaib segera menemui nabi dan menyatakan keislaman. Waktu awal Islam di Mekkah, dakwah dilakukan secara rahasia. Pertumbuhan pengikut hanya sedikit.

Lalu setelah tiga tahun dakwah secara rahasia, Nabi Muhammad mulai mengajak warga Mekkah secara terbuka. Dimulai pidato Nabi di atas Bukit Shofa.

Mau Hijrah? Harus Siap Risiko Ini

Sejak itulah, para pembesar Quraisy melawan dan melancarkan intimidasi. Para gembong penyembah berhala itu meneror dan menindas kaum muslimin.

Dan ini berlangsung hingga tahun ke-13. Sangat berat penderitaan kaum muslimin saat itu. Dan belum ada perintah dari Allah untuk melakukan perlawanan.

Maka Allah memerintahkan hijrah Madinah pada tahun ke-13 kenabian. Dan kaum kafir tidak membiarkan kaum muslimin begitu saja. Mereka berusaha menghalangi dan kalau perlu kaum muslimin ini dihabisi tak tersisa.

Tapi Allah selalu memberi jalan bagi siapa saja yang sabar dalam perjuangan. Ada yang hijrah terang-terangan seperti Umar bin Khattab.

Ada pula yang hijrah secara sembunyi-sembunyi. Salah satunya Shuhaib bin Sinan Ar Rumi.

Ketika Iman Terancam Luntur Dengan Harta

Rupanya orang-orang kafir mendengar rencana hijrahnya. Lalu mereka mencegat Shubaib. Mereka berkata, “Apakah kau pergi begitu saja? Kau tiba di negeri kami dalam keadaan tak punya apa-apa, lalu apakah kini kau hendak pergi membawa semua hartamu?”

Lalu Shubaib berkata, “Apakah kalian mau dengan tawaranku?”

“Apa itu?”     

“Kalian ambil semua hartaku ini, tapi biarkan aku pergi.”

Orang-orang kafir itu pun setuju tawaran Shubaib. Mereka gila harta. Mereka tergiur dengan kekayaan Shubaib. Dan Shubaib pun melenggang dengan aman menuju Madinah dan berkumpul dengan Nabi dan orang-orang yang beriman.

Ketika berjumpa Shubaib, Nabi Muhammad berkata , “Beruntunglah perniagaanmu wahai Abu Yahya (julukan Shuhaib).” Nabi mengatakan demikian hingga dua kali.

Jika Ada Emas Seberat Bumi

Bagi Shuhaib, iman tidak akan bisa dinilai dengan harta seberapa banyaknya. Bahkan, keimanan itu terlalu mahal dan tidak akan setara harta sepenuh bumi sekalipun. Kisah sahabat nabi yang kuat imannya dibuktikan oleh Shubaib bin Sinan.

Di hadapan Allah kelak di akhirat, iman itu lebih mahal daripada emas sebesar bumi. “Sungguh, orang-orang kafir dan mati dalam kekafiran, tidak akan diterima (tebusan) dari seseorang di antara mereka (berupa) emas sepenuh bumi, seandainya mereka mau menebus dirinya dengan itu. Mereka itulah orang-orang yang mendapat siksa yang pedih dan tidak memperoleh penolong” (QS. Ali Imran 91).

Kisah sahabat nabi yang kuat imannya juga dicontohkan oleh Abdullah bin Rawahah. Dia adalah sahabat nabi yang bertugas menjadi pemungut jizyah (semacam pajak) dan ahli taksir zakat.

Dia juga memungut zakat dari kaum muslimin semenjak Islam berkembang di Madinah.

Anda Pegawai Atau Pejabat? Harus Siap Cobaan Ini

Jizyah diberlakukan kepada orang-orang selain Islam yang hidup damai dengan orang Islam di Madinah. Orang nonmulism tidak diwajibakan zakat maal (zakat atas harta). Namun mereka dikenai jizyah yang telah ditentukan.

Di Madinah saat itu terdiri dari umat Islam, Yahudi dan Nasrani (Kristen). Dua umat agama lain itu wajib membayar jizyah untuk iuran demi menjaga keselamatan dan ketertiban selama tinggal di Madinah.

Dan Abdullah bin Rawahah yang bertugas memungut jizyah dan zakat. Pada masa itu, jizyah tidak hanya selalu berupa dinar atau dirham, juga bisa berupa hasil bumi seperti kurma dan hewan ternak. Ada domba, unta ataupun kuda.

Abdullah bin Rawahah rutin berkeliling ke pemukiman muslim maupun Yahudi dan Nasrani untuk mengambil jizyah dan zakat. Dia ahli menghitung, cermat dan juga jujur.

Saking cermatnya, sampai-sampai orang Yahudi ingin berbuat curang. Mereka berusaha mengelabui Abdullah bin Rawahah. Namun Abdullah tidak pernah meleset perhitungannya.

Sogokan, Suap, Korupsi & Manipulasi Adalah Ujian Iman

Tak sampai di situ, kaum Yahudi mencari cara agar jizyahnya bisa mendapat ‘diskon.’ Lalu mereka berupaya menyuap Abdullah bin Rawahah demi mendapat potongan jizyah.

Mereka menawarkan sejumlah sogokan agar Abdullah bin Rawahah bersedia kongkalikong. Konon sogokan itu berupa kurma terbaik di Madinah. Pemukiman Yahudi terpusat di sekitar Khaibar yang terkenal dengan kebun kurma terbaik di wilayah Arab.

Melihat niat busuk Yahudi ini, Abdullah bin Rawahah membuktikan kekuatan imannya. Kisah sahabat nabi yang kuat imannya.

Abdullah bin Rawahah berkata tegas, “Wahai musuh-musuh Allah, kalian hendak menyodorkan makanan haram kepadaku. Padahal demi Allah, aku datang dari sisi orang yang paling ku cintai (Nabi Muhammad), sedangkan kalian adalah orang-orang yang paling aku benci, lebih besar daripada benciku kepada kera dan babi.”

Masya Allah, Meski Membenci Pun Tetap Adil

“Tapi kebencianku kepada kalian dan kecintaanku kepada beliau (Nabi Muhammad) tidak mempengaruhi aku untuk tidak berbuat adil kepada kalian,” begitu kalimat lugas dari Abdullah bin Rawahah.

Kaum Yahudi pun takjub dengan kekuatan iman Abdullah bin Rawahah. Mereka berkomentar, “Karena sikap seperti inilah, langit dan bumi tetap tegak.” Kisah sahabat nabi yang kuat imannya terdapat teladan Abdullah bin Rawahah.

Keimanannya tak akan goyah dengan sogokan atau suap dengan bentuk apapun itu. Keimanan itu mahal sekali. Sangat bodoh jika merelakan iman untuk harta dunia. Kisah sahabat nabi yang kuat imannya ini ada contohnya dari Abdullah bin Rawahah selaku pejabat atau aparatur negara.

Terlalu ceroboh jika mengkhianati amanah demi harta atau jabatan yang sewaktu-waktu bisa lenyap. Sedangkan iman itulah yang dibawa hingga ke alam kubur dan kekal hingga ke negeri akhirat yang abadi. Baca juga kisah perjuangan menjaga iman sahabat walaupun ayah ibunya dibantai di depannya.

Foto: pixabay

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *