Kisah sahabat nabi yang khusyu dalam shalat

Kisah sahabat nabi yang khusyu dalam shalat beberapa kali kita dengar. Salah satunya kisah Abbad bin Bisyr.

Dia adalah sahabat nabi yang suara mengaji sangat bagus dan dia juga pemberani di medan jihad fi sabilillah.

Suatu malam Rasulullah Muhammad saw.sedang melaksanakan shalat tahajud di rumah Aisyah yang berdempetan dengan masjid.

Kisah Sahabat Nabi yang Khusyu Dalam Shalat, Suara Ngajinya Mirip Jibril

Terdengar oleh Nabi suara Abbad bin Bisyr membaca Al-Qur’an dengan suara yang merdu, laksana suara Jibril ketika menurunkan wahyu ke dalam hati Nabi.

“Wahai Aisyah, apakah itu suara Abbad bin Bisyr?” 

“Betul, wahai Rasulullah!” jawab Aisyah.

Rasulullah berdoa, “Ya Allah, hapuslah dosa-dosanya, sucikanlah jiwanya dan sayangilah!”

Tak hanya itu, Abbad bin Bisyr ikut aktif berjihad bersama Rasulullah Shallahu Alaihi wa Sallam dalam setiap peperangan yang beliau pimpin.

Ketika Rasulullah kembali dari peperangan Dzatur Riqa, Nabi dan rombongan bermalam dengan seluruh pasukan muslim di lereng sebuah bukit.

Ingin Khusyu? Begini Suasana Shalat Paling Mendukung

Rasulullah bertanya kepada para sahabat, “Siapa yang bertugas jaga malam ini?”Abbad  bin Bisyr dan Ammar bin Yasir berdiri, “Kami, ya Rasulullah!” Rasulullah telah menjadikan keduanya bersaudara ketika kaum Muhajirin baru tiba di Madinah.

Abbad adalah orang Anshar dan Ammar adalah muhajirin. Kisah sahabat nabi yang khusyu dalam shalat ini dicontohkan Abbad bin Bisyr.

Pikiran dan raganya diisi ulang oleh Al Quran dalam shalat. Seperti Nge-cas ulang ponsel atau laptop kita. Isi ulang tenaga dari Allah.

Ketika keduanya keluar mulut jalan (pos penjagaan), Abbad bertanya kepada Ammar, “Siapa di antara kita yang berjaga lebih dahulu?”

“Saya yang tidur lebih dahulu!” jawab Ammar yang bersiap-siap untuk berbaring tidak jauh dari tempat  penjagaan.

Suasana malam itu tenang, sunyi, gelap dan nyaman. Udara di alam terbuka lebih sejuk. Inilah suasana paling ideal untuk shalat. Bintang gemintang, pohon-pohon dan batu-batuan seakan sedang bertasbih memuji kebesaran Allah.

Agar Khusyu, Lakukan Hal Ini Dulu

Abbad berinisiatif sholat sunnah sambil berjaga. Ia pun larut dalam manisnya ayat-ayat Al-Qur’an yang dibacanya dalam shalat. Nikmat shalat dan tilawah (bacaan Al-Qur’an) berpadu menjadi satu dalam jiwanya.

Dalam shalat dibacanya surat Al-Kahfi dengan suara syahdu dan merdu bagi siapa pun yang mendengarnya. Abbad sangat menghayati isi dan makna kisah-kisah dalam surat Al Kahfi.

Begitulah jika ingin khusyu dalam shalat. Pahami arti bacaannya dan pahami makna ayat yang dibaca. Harus tenang, jangan terburu-buru dalam shalat jika ingin khusyu. Nikmati bacaannya.

Akan lebih nyaman jika shalat tahajud yang tengah malam yang sunyi. Atau sepertiga malam yang akhir, dua atau satu jam menjelang subuh. Istilahnya: shalat di waktu sahur.      

Jarang Diungkap, Shalat Tidak Batal Meskipun Bergerak Cabut Panah atau Gendong Bayi

Ketika Abbad berdiri dalam shalat, ada seorang musuh mengintai dari jarak jauh. Orang musryik itu melihat seseorang sedang berdiri di lereng bukit menghadap arahnya.

Pria itu bersembunyi di balik bebatuan besar. Ia yakin Rasulullah dan para sahabat pasti berada di sana. Sedangkan orang yang sedang shalat itu adalah pengawal yang bertugas jaga.

Orang itu segera menyiapkan busurnya dan memanah Abbad. Dan tepat mengenainya. Abbad mencabut panah yang bersarang di tubuhnya sambil meneruskan bacaan dan tengelam dalam shalat.

Memang, ada pendapat ulama yang memperbolehkan tetap shalat meski melakukan gerakan tertentu seperti mencabut anak panah ini.

Di beberapa riwayat, ada kejadian Nabi Muhammad berjalan beberapa langkah ke kanan/kiri lalu membuka pintu saat shalat sunnah. Lalu Nabi meneruskan shalatnya tanpa mengulang dari awal. Tanpa membatalkan shalatnya.

Nabi juga juga pernah shalat sambil menggendong cucunya. Saat sujud sang cucu diletakkan di lantai, lalu saat berdiri digendong lagi. Begitu seterusnya hingga akhir shalat.

Kisah Sahabat Nabi yang Khusyu Dalam Shalat, Subhanallah! Tetap Shalat Meski Kena Panah

Para ulama mengambil kesimpulan: boleh bergerak asal masih dalam rangka shalat, dan hanya mendesak atau insidentil serta tidak terus-menerus tanpa jeda.

Maka mencabut anak panah seperti Abbad ini tidak membatalkan shalat dan diperbolehkan melanjutkan shalat tanpa mengulangi dari awal.    

Kita juga boleh membunuh hewan berbisa jika sedang shalat tanpa membatalkan shalat. Tetap meneruskan shalat setelah mengusir atau membunuh hewan berbaahaya.

Sehingga, Abbad mencabut anak panah itu diperbolehkan secara syariat Islam dan tetap meneruskan shalat, tanpa membatalkan shalat.    

Shalat Itu Ibarat Nge-cas Baterai

Kisah sahabat nabi yang khusyu dalam shalat ini menunjukkan betapa bacaan Al Quran dalam sholat mampu mengisi hati, pikiran dan raga secara paripurna. Seperti Abbad bin Bisyr ini.

Pikiran dan raganya diisi ulang oleh Al Quran dalam shalat. Seperti Nge-cas ulang ponsel atau laptop kita. Isi ulang tenaga dari Allah. Sehingga, luka panah pun bisa diabaikan karena adanya kekuatan luar biasa dari Allah yang Mahakuat.  

Musuh itu memanah lagi dan mengenai Abbad dengan jitu. Abbad mencabut juga anak panah kedua ini dari tubuhnya seperti yang pertama sambil terus shalat.

Kemudian orang itu memanah lagi. Abbad mencabutnya lagi seperti dua buah anak panah sebelumnya.

Dua Rakaat Saja, Takut Kehabisan Darah Dan Khawatir Gagal Jalankan Tugas Nabi

Giliran jaga bagi Ammar bin Yasir pun tiba. Abbad pun telah selesai sholat. Ia merangkak ke dekat Ammar sedang tidur itu. Lalu membangunkanya seraya berkata.“Bangun! Aku terluka parah dan lemas!”

Ketika melihat mereka berdua, si pemanah buru-buru melarikan diri. Ammar terjaga. Dilihatnya darah mengucur dari tiga buah lubang luka di tubuh Abbad.

“Subhanallah! Mengapa kamu tidak membangunkanku ketika panah pertama mengenaimu?” tanyanya keheranan.

“Aku sedang membaca Al-Qur’an dalam shalat. Aku tidak ingin memutuskan bacaanku sebelum selesai. Demi Allah, kalaulah tidak karena takut akan menyia-nyiakan tugas dari Rasulullah ini, biarlah tubuhku putus daripada memutuskan bacaan Al Quran dalam shalat,” jawab Abbad.

Sungguh Mulia, Tawanan Tak Mau Lukai Balita Meski Berpeluang Lolos

Kisah sahabat nabi yang khusyu dalam shalat juga ada pada kisah Khubaib bin Ady. Dalam sebuah misi dakwah, Khubaib bin Ady dan rombongan sahabat dicegat orang kafir dan diserang.

Banyak yang terbunuh dan sisanya ditawan. Khubaib bin Ady dibawa ke dekat Mekkah. Orang kafir Quraisy bermaksud mengeksekusi mati Khubaib. Sebab, orang Mekkah masih murka terhadap orang Islam akibat kekalahan di Perang Badar.

Ketika ditawan, Khubaib bin Ady diikat dengan rantai besi di dekat sebuah perkampungan. Dalam sebuah kesempatan, ada seorang anak balita bermain dekat Khubaib.

Dan Khubaib bin Ady sempat bermain dengan anak itu. Saat itu Khubaib bin Ady sedang memegang alat pencukur.

Melihat itu, sang ibu panik dan khawatir Khubaib bin Ady akan menyandera bocah itu  lalu akan membunuh si anak dan minta dibebaskan.

Melihat itu, Khubaib bin Ady berkata, “Apakah engkau takut aku akan melukai anakmu? Demi Allah, aku tidak akan melakukan hal itu.”

Khubaib bin Ady membiarkan sang ibu menarik anaknya. Baca juga kisah sahabat nabi yang jujur.

Ini Permintaan Terakhir Sebelum Dihukum Mati Oleh Algojo Musuh

Kemudian Khubaib bin Ady dibawa ke luar Mekkah untuk dieksekusi. Para algojo berkata, “Apakah kamu punya permintaan terakhir.” Ashim menjawab, “Izinkan aku shalat.”

Orang-orang kafir itu pun menyetujuinya. Maka Khubaib bin Ady shalat dua rakaat dengan khusyu. Agak lama shalatnya. Kisah sahabat nabi yang khusyu dalam shalat ini dincontohkan Khubaib bin Ady.

Setelah selesai shalat, Khubaib bin Ady berkata kepada para algojo itu. “Seandainya aku tidak khawatir kalian menganggap aku takut mati, maka aku akan menambah shalatku.”

Jika Disekap Musuh, Inilah Resep Kesabarannya

Mereka pun kemudian menghabisi Khubaib bin Ady. Kisah sahabat nabi yang khusyu dalam shalat ini menjadi contoh kaum muslimin.

Sejak itu, siapa saja yang ditangkap musuh lalu dihadapkan hukuman mati, maka disunnahkan shalat dua rakaat sebelum eksekusi.

Kisah sahabat nabi yang khusyu dalam shalat ini menjadi inspirasi kaum muslimin pascakejadian itu. Dalam kondisi yang mencekam pun, shalat menjadi sarana mendapatkan ketenangan dan kesabaran.

“Wahai orang-orang yang beriman, jadikan sabar dan shalat sebagai penolongmu. Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar” (QS.  Al Baqarah 153).

Foto: pixabay

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *