Kisah sahabat nabi tentang santun dan malu

Kisah sahabat nabi tentang santun dan malu jadi pelajaran bagi kita. Karena salah satu sifat utama dari orang beriman adalah sikap malu. Malu di sini maksudnya, malu berbuat maksiat, malu bertindak sembrono, malu untuk menyia-nyiakan amanah, dan malu untuk melakukan perbuatan amoral.

“Rasa malu itu bagian dari iman.” Demikian sabda Nabi Muhammad yang diriwayatkan Imam Bukhari dan Imam Muslim. Maka, malu di sini maksudnya bukan malu yang mengakibatkan orang malas berbuat kebaikan. Atau malu untuk tampil di hadapan banyak orang.

Malu ini adalah rasa malu maksiat dan mengabaikan aturan agama dan/atau mengabaikan tatanan sosial yang sudah baik. Juga malu berbuat yang menyalahi perintah Allah. Malu jika diam saja dan tidak beramal kebajikan padahal Allah sudah memberi banyak anugerah kepada kita.

Kisah Sahabat Nabi Tentang Santun Dan Malu, Ciri Utama Orang Beriman

Itulah makna malu yang sebenarnya. Dan rasa malu ini adalah ajaran semua nabi dan rasul. “Sesungguhnya di antara ajaran para nabi sejak pertama kali: jika kamu tidak malu, maka berbuatlah sesuka hatimu” (HR. Bukhari). Demikian kabar yang sampaikan Nabi Muhammad tentang ajaran nabi terdahulu.

Kisah sahabat nabi tentang santun dan malu pernah dikisahkan pada Nabi Muhammad. Saat itu, cuaca di Madinah sangat panas. Nabi Muhammad sedang beristirahat di rumah bersama Aisyah.

Nabi Muhammad berbaring di ruang depan dan sengaja membiarkan bagian betisnya terbuka. Menurut riwayat lain, beliau juga membuka sebagian atasannya terbuka sehingga terlihat sedikit bagian ketiaknya.

Lalu Abu Bakar mengetuk pintu dan meminta izin bertamu. Nabi Muhammad mengizinkan Abu Bakar masuk. Nabi tetap dengan posisi itu dan tidak mengubah busananya. Setelah berbincang, Abu Bakar pun pamit.

Tak lama kemudian, gantian Umar bin Khatab izin bertamu. Nabi Muhammad tetap pada posisi dan keadaan yang sama dengan kedatangan Abu Bakar. Dan Umar pun pamit setelah selesai urusannya.

Nabi Pun Sungkan Kepadanya

Setelah itu, Utsman bin Affan pun mengucapkan salam untuk minta izin bertamu. Nabi Muhammad pun mengubah posisinya. Semula berbaring, lalu beliau duduk. Semula betisnya terbuka.  

Namun sebelum Utsman diizinkan masuk, Nabi Muhammad menutup betisnya dan menutup bajunya dengan sempurna. Berbeda dengan kedatangan Abu Bakar dan Umar.

Tak Lama kemudian, datanglah dari kejauhan pawai 950 ekor unta lengkap bersama perbekalannya. Ditambah 50 ekor kuda terbaik. Semuanya itu sumbangan dari Utsman bin Affan untuk mujahidin.

Lalu Utsman masuk dan berbincang dengan Nabi. Setelah itu, Utsman undur diri.

Menyaksikan itu, Aisyah bertanya kepada Nabi Muhammad. “Mengapa Anda menyambut Utsman berbeda dengan saat menyambut Abu Bakar dan Umar tadi?”

“Utsman itu seorang yang pemalu. Jika aku masih berbaring, Utsman pasti akan cepat-cepat pulang. Dia pasti urung bicara denganku karena malu melihat aku seperti awal tadi. Hai Aisyah, tidaklah aku patut malu kepada orang yang malaikat pun segan padanya” (HR. Ahmad).

Tetap Jaga Diri dan Sopan Santun Meskipun di Rumah Sendiri

Kisah sahabat nabi tentang santun dan malu ini terdapat pada sosok Utsman bin Affan. Sejumlah riwayat menjelaskan, Utsman adalah sahabat nabi yang sangat santun dan pemalu. Sehingga, malaikat pun segan terhadapnya.

Dalam suatu riwayat, jika Utsman sedang mandi, dia menutup semua sekeliling kamar mandinya dengan kain lebar. Tak hanya itu, bagian atasnya pun ditutup dengan kain yang tebal.

Pada masa itu, kamar mandi berada di luar rumah. Utsman menutup rapat dan memberi tabir yang rapat pada toiletnya. Utsman merasa malu jika malaikat menyaksikan dirinya sedang mandi. Karena itu pula, Nabi Muhammad mengungkapkan bahwa malaikat pun sampai sungkan dengan Utsman.

Selain pemalu dan santun, Utsman adalah sosok yang sangat pemurah dan dermawan. Suatu ketika, ada penggalangan massa untuk berjihad dan pengumpulan perbekalan bagi para mujahidin. Jumlah bekal dan kendaraan sangat tidak sebanding dengan jumlah personil.

Masya Allah, Sumbangkan 950 Unta Plus 50 Kuda Untuk Perjuangan

Banyak pejuang yang tidak memiliki bekal dan kendaraan. Jumlah pasukan Islam diperkirakan 30 ribu. Sedangkan tunggangan unta hanya sekitar 3 ribu saja. Padahal pasukan musuh sebesar 40 ribu atau ada catatan sejarah pasukan romawi 100 ribu.

Lalu Nabi Muhammad menggalang dana untuk pengadaan unta dan perbekalannya. “Siapa yang akan membekali mereka, maka Allah akan mengampuninya.” Begitu Nabi Muhammad menggalang dana perjuangan fi sabilillah.

Tak lama kemudian, datanglah dari kejauhan pawai 950 ekor unta lengkap bersama perbekalannya. Ditambah 50 ekor kuda terbaik. Semuanya itu sumbangan dari Utsman bin Affan untuk mujahidin.    

Belum cukup itu, Utsman juga menyerahkan seribu dinar di kepada Nabi Muhammad. Melihat itu, Nabi bersabda, “Setelah ini tidak ada lagi yang menyakiti Utsman.” Maksudnya, kesalamatan dunia akhirat.  

Kisah sahabat nabi yang santun dan malu ini bisa kita jadikan cermin pada sosok Utsman bin Affan. Sahabat nabi yang pemalu dan santun sekaligus dermawan ini ada pada diri khalifah ketiga ini. Baca juga kisah sahabat nabi yang jujur.

Jago Negosiasi, Yahudi Pun Harus Gigit Jari

Utsman juga jadi pahlawan bagi seluruh penduduk Madinah. Kala itu terjadi musim panas yang panjang. Semua sumur kering kecuali satu saja. Sumur Raumah namanya. Saat itu, sumur itu milik orang Yahudi.

Yahudi menjual airnya dengan harga yang tinggi. Banyak warga Madinah tidak mampu beli air di sana. Ustman yang sangat peka perasaannya, lantas negosiasi dengan Yahudi itu.

“Aku hendak membeli sumurmu, berapa kau mau jual?”

“Sumur ini sumber penghasilanku, aku tidak akan menjualnya.”

“Bagaimana jika aku membelinya setengahnya saja? Jadi, sehari bisa ku pakai, sehari lagi kau gunakan untuk kau jual airnya.”

Yahudi itu pun setuju dengan harga 20 ribu dirham. Dia sangat girang. Dia dapat uang dari Ustman tapi ia tetap bisa jual airnya dengan harga tinggi.

Utsman punya ide cemerlang. Dia mengumumkan, “Ambillah air sebanyak-banyaknya hari ini tanpa membayar. Sumur ini aku sedekahkan airnya hari ini. Kiranya cukup untuk dua hari. Karena, besok kalian tak bisa ambil air di sini kecuali harus membayar.”

Warga Madinah pun berbondong mengambil air agar cukup untuk dua hari. Esoknya mereka tak perlu membeli ke Yahudi itu. Dan benar, esoknya sumur itu sepi pembeli. Sang Yahudi kebingungan. Dan terjadi selama beberapa hari.

Sang Yahudi pun mengeluh kepada Utsman. “Engkau telah merusak hakku.” Lalu Utsman memberi tawaran lain. “Aku beli seluruhnya dengan harga yang sama. Apakah kau mau?”

Luar Biasa, Setelah Dibeli Malah Diwakafkan

Sang Yahudi pun bersedia. Dia menerima 20 ribu dirham lagi sebagai harga jual sumur yang setengahnya itu. Sehingga kini Sumur Raumah sudah 100 persen milik Utsman.

Lalu Utsman mengumumkan, “Aku wakafkan sumur untuk orang yang membutuhkan dan para musafir. Tidak ada yang boleh menjual airnya lagi setelah ini. Semua bebas mengambil airnya.”

Itulah kisah sahabat nabi yang santun dan malu. Utsman merasa malu jika tidak berbuat kebajikan. Harta dan kekayaannya untuk kepentingan umum. SIfat pemalunya juga menjadikannya sosok yang peka terhadap kesulitan orang banyak.    

Foto: pixabay

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *