kisah sahabat nabi tentang pernikahan

Kisah sahabat Nabi tentang pernikahan sangat banyak dibahas dalam berbagai literatur Islam. Karena Islam hadir menyempurnakan tatanan kehidupan, termasuk tentang pernikahan.

Jika sebelum sudah ada tatanan, maka Islam menyempurnakannya. Misalnya ibadah qurban. Maka oleh Nabi Muhammad disempurnakan jadi empat hari pelaksanaan penyembelihan qurban. Terdiri dari satu hari id dan tiga hari tasyriq.

Islam juga menghapus tradisi jahiliyah yang sesat dan amoral. Salah satunya tentang pernikahan. Sebelum masa kenabian, ada empat cara perkawinan di masa pra-Islam.

Kisah Sahabat Nabi Tentang Pernikahan, Sejarah Kelam Perkawinan Pra-Islam

Cara pertama disebut perkawinan Al Rayah. Caranya, sejumlah pria mendatangi seorang wanita sundal. Wanita sundal itu menancapkan bendera di depan pintu rumahnya. Artinya siapa saja pria yang melintas dan berminat, boleh masuk rumah dan menggauli si wanita.

Jika si wanita tadi sudah hamil lalu melahirkan, maka para pria tadi dikumpulkan di hadapan si wanita dan si bayi. Lalu ada seorang qaif, semacam dukun yang pandai mengamati ciri-ciri pada si bayi. Lalu qaif tadi menujuk satu pria yang telah disetujui si wanita. Pria yang ditunjuk tak boleh menolak.

Cara kedua disebut Al Rahth. Ada sejumlah pria –kurang dari 10 orang. Mereka silih berganti menggauli si wanita. Setelah hamil dan melahirkan, si wanita mengirim utusan ke para pria itu agar berkumpul.

Setelah berkumpul, si wanita berkata kepada mereka. “Kalian sudah tahu apa yang terjadi. Dan ini adalah anakmu.” Si wanita sambil menunjuk salah satu pria. Maka, sang pria itu tak bisa menolak.  

Cara ketiga, perkawinan Al istibdha. Caranya, seorang suami menyuruh istrinya mendatangi pria terpandang/cerdas atau bangsawan. Si wanita minta digauli demi mendapat keturunan yang baik. Selama digauli pria lain itu, sang suami menjauhi istrinya hingga hamil.   

Hanya Satu Cara Perkawinan Yang Disahkan Islam

Cara keempat, adalah perkawinan al wiladah. Seorang laki-laki menemui wali si wanita dengan menawarkan mahar tertentu. Jika sama-sama setuju, maka si pria menikahi wanita itu dengan cara ijab qabul dengan si wali. Cara inilah yang lakukan kedua orang tua Nabi Muhammad dan kemudian juga oleh Nabi Muhammad dengan istri-istri beliau.

Siti Aisyah mengatakan, “Zaman jahiliyah mengenal empat cara perkawinan itu. Sejak diutusnya Nabi Muhammad, tiga cara yang lain dihapus. Satu cara (sisanya) inilah yang diakui Islam seperti sekarang ini” (HR. Bukhari).   

“Sebelum masuk kota (Madinah), kita berhenti sejenak. Kita kirim utusan agar para istri bisa bersiap-siap menyambut suami-suami mereka. Wahai Jabir, kirimkan utusan kepada istrimu agar dia menyiapkan bantalnya.”

Kisah sahabat nabi tentang pernikahan sering kita baca di khazanah Islam yang berlimpah. Misalnya, suatu saat Nabi Muhammad melakukan perjalanan misi dakwah bersama rombongan sahabat Nabi.

Trenyuh, Inilah Alasannya Menikahi Janda

Saat pulang, Nabi Muhammad menunggang unta beriringan dengan seorang sahabat bernama Jabir bin Abdullah. Nabi Muhammad adalah sosok yang ramah dan sangat peduli dengan para sahabat dan anggota keluarganya.

Dalam perjalanan kembali Madinah itu, Nabi bercakap-cakap dengan Jabir.

“Apakah engkau telah menikah wahai Jabir?”

“Sudah wahai Nabi, baru saja saya menikah.”

“Dengan gadis atau janda?”

“Saya menikahi seorang janda.”

Lalu Nabi bersabda, “Mengapa tidak menikah dengan gadis? Sehingga engkau bisa bercanda dengannya, dan dia juga bisa bercanda denganmu.”

Jabir menjawab, “Saya punya tujuh adik perempuan yang masih kecil/remaja (ada yang menyebutkan 9 orang adik, Red). Sedangkan orang tuaku sudah meninggal dunia. Saya tidak ingin mendatangkan (gadis) yang sebaya dengan mereka. Sehingga aku menikahi wanita yang dapat mengurusi adik-adik saya.”

Nabi pun mendoakan ketulusan dan niat baik Jabir, “Semoga Allah memberkahimu.”

Romantis Banget, Ini Yang Lakukan Nabi Sebelum Pulang Dari Luar Kota

Lalu Nabi menghibur Jabir dengan ucapan, “Sebelum masuk kota (Madinah), kita berhenti sejenak. Kita kirim utusan agar para istri bisa bersiap-siap menyambut suami-suami mereka. Wahai Jabir, kirimkan utusan kepada istrimu agar dia menyiapkan bantalnya.”

Dengan lugunya, Jabir menjawab, “Wahai Rasulullah, istriku tidak memiliki bantal.”

Sambil tersenyum, Rasul hanya mengatakan, “Sampaikan saja begitu dariku. Dia pasti paham apa maksudku.” Kisah romantisme Nabi dan Siti Aisyah bisa Anda baca di sini.

Kisah sahabat nabi tentang pernikahan Jabir ini bisa dibaca di kitab hadits shahih Imam Bukhari atau Imam Muslim.

Kisah sahabat nabi tentang pernikahan ini menunjukkan hikmah dari Nabi tentang menikahi gadis atau janda. Masing-masing ada hikmahnya.

Kisah sahabat nabi tentang pernikahan Jabir tadi mengungkapkan niat tulus Jabir menikahi janda. Bukan karena niat busuk atau niat jelek. Semoga kita meneladani Jabir bin Abdullah ini.

Inilah Makna Nadzor dalam Taaruf

Kisah sahabat nabi tentang pernikahan bisa menjadi pelajaran bagi kaum muslimin. Di riwayat lain, ada seorang sahabat muhajirin menemui Nabi. Dia mengabarkan perihal pertunangannya dengan wanita Anshar.

Dia berkata, “Wahai Rasulullah, saya sudah melamar seorang wanita Anshar.”

Nabi menjawab, “Apakah engkau sudah melihat calon istrimu?”

“Belum.”

“Lihatlah dulu calon istrimu, karena itu akan lebih bisa membuat kalian saling mencintai.”

Kisah sahabat nabi tentang penikahan dan anjuran melihat calon istri itu bisa Anda bisa baca kitab hadits riwayat Imam Ahmad dan Imam Turmudzi. Inilah yang disebut nadzor (melihat) dalam proses taaruf.

Di riwayat lain, Rasulullah memberi nasihat, “Pandanglah dulu calon istrimu, karena di bagian mata wanita Anshar itu ada sesuatu.”

Kisah sahabat nabi tentang pernikahan dan bagaimana memandang antara calon mempelai ini dijelaskan di riwayat Imam Ahmad, Imam Muslim dan juga Imam An Nasa’i. Inilah yang dinamakan nadzor dalam proses taaruf.

Inilah Cara Nadzor yang Benar Dalam Proses Taaruf

Dalam Islam, pria wanita yang belum halal dilarang berduaan. Harus ada wali atau pendamping jika ingin memandang satu sama lain.

Harus ada pendamping jika ingin melakukan nadzor. Ini yang harus Anda persiapkan sebagai syarat taaruf.

Agar sejoli itu tidak terjebak dalam perbuatan zina yang sangat hina. “Janganlah laki-laki dan perempuan itu berdua-duaan, karena yang ketiganya adalah syetan.”

Demikian peringatan keras dari Nabi Muhammad bagi pria wanita yang sudah saling kenal agar menjauhi perbuatan zina. Jika memang sudah sama-sama cocok dan keluarga setuju, maka disegerakan menikah. Agar tidak terjadi maksiat zina dan dosa.

Bagaimana pernikahan bisa mencapai sakinah mawaddah wa rahmah jika diawali dengan maksiat. Itu ibarat belum waktu maghrib, sudah berbuka puasa. Maka bisa batal atau hangus pahala puasanya.

Demikian pula jika melakukan kemesraan antara sejoli yang belum akad nikah. Itu sama saja membatalkan puasa padahal belum waktu maghrib. Semoga ini jadi peringatan bagi kita.

Foto: pixabay

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *