kisah sahabat nabi jafar bin abi thalib

Kisah sahabat nabi Jafar bin Abi Thalib adalah sepupu Rasulullah. Dia merupakan saudara laki-laki Ali bin Abi Thalib.

Di antara lima orang keluarga Rasulullah dari Bani Abdi Manaf yang dikatakan mirip Rasulullah adalah Jafar bin Abi Thalib. Jafar dijuluki sebagai bapak orang-orang miskin karena kedermawanannya dalam berbagi pada mereka yang membutuhkan.

Tatkala gangguan dari kaum kafir Quraisy semakin keras, Rasulullah memerintahkan orang beriman untuk berhijrah ke Habasyah, Afrika.

Kisah Sahabat Nabi Jafar bin Abi Thalib, Hijrah Pertama Ke Afrika

Di antara 83 orang laki-laki dan 19 orang perempuan yang turut serta dalam hijrah ke Afrika itu adalah Jafar bin Abi Thalib dan istrinya.

Saat itu, Habasyah diperintah oleh seorang raja yang adil dan bijaksana bernama Najasy. Di Habasyah, kaum muslim dapat beribadah dengan tenang tanpa gangguan.

Mendengar berita hijrahnya kaum muslim, para musyrikin Quraisy tidak tinggal diam. Mereka mengutus Amru bin Ash dan Abdullah bin Abi Rabi’ah menemui Raja Najasy sembari membawa hadiah untuk meminta dukungannya.

Pihak Musuh Menghasut Raja

Utusan itu berkata bahwa telah datang pada Raja Najasy segolongan orang lemah dari kaum Quraisy yang tidak mengikuti agama mereka dan tidak pula mengikuti agama Najasy.

Utusan kaum kafir itu meminta agar orang-orang itu dikembalikan kepada mereka karena mereka lebih tahu apa yang akan dilakukan terhadap kaumnya. Raja Najasy tidak serta merta percaya dengan apa yang urusan itu katakan.

Najasy meminta penjelasan dari kaum muslim. Yang menjadi juru bicara saat itu adalah Jafar bin Abi Thalib. Kisah sahabat nabi Jafar bin Abi Thalib ini masyhur di kalangan sejarawan Islam.  

Surat Al Quran ini yang Dibaca Jafar yang Bikin Raja Terharu

Raja Najasy bertanya agama apa yang mereka peluk sehingga meninggalkan agama nenek moyang mereka dan tidak pula memeluk agama Nasrani.

Jafar menjawab bahwa dulunya mereka menyembah berhala dan melakukan perbuatan keji sampai datang seorang utusan Allah yang telah diketahui nasab dan keluhuran budi pekertinya.

Rasul mengajak mereka menyembah kepada Allah semata, mengerjakan shalat, berpuasa, zakat, dan berbuat baik. Saat mengetahui hal itu, para pemuka kaum sang rasul marah dan memaksa mereka kembali menyembah berhala.

Oleh karena itu, orang Islam pergi meninggalkan kampung halamannya untuk mencari perlindungan di negeri Habasyah.

Raja Kristen Itu Pun Menangis Karena Ayat Ini

Raja Najasy kemudian meminta dibacakan apa yang dibawa Nabi Muhammad. Jafar bin Abi Thalib membacakan surat Maryam dengan khusyu.

Setelah selesai membaca, air mata Raja Najasy berlinangan. Dia mengatakan bahwa apa yang Ja’far baca sama persis dengan apa yang dibawa Isa putra Maryam. Ayat-ayat tentang Isa dan ibunya ini menggetarkan hati raja

Raja Habasyah yang adil itu pun memutuskan tidak akan menyerahkan kaum muslim kepada kedua utusan kafir Quraisy itu. Raja Najasy akan melindungi mereka.

Hijrah ke Dua Negeri Yang Sama-sama Jauh

Jafar bin Abi Thalib dan istrinya tinggal di Habasyah selama beberapa tahun. Pada tahun ke-7 Hijriyah, Jafar pun akhirnya ikut hijrah ke Madinah. Rasulullah baru saja mendapat kemenangan di Khaibar.

Melihat kedatangan Ja’far bin Abi Thalib, Rasulullah begitu gembira hingga tak bisa membedakan apakah beliau gembira karena kemenangannya di Khaibar atau karena bertemu dengan Jafar.

Kisah sahabat nabi Jafar bin Abi Thalib ini sebagai catatan khusus. Dia adalah salah satu dari sedikit sahabat Nabi yang hijrah dua kali: Afrika dan Madinah.  

Pada tahun ke-8 Hijriyah, Rasulullah mengutus sekelompok pasukan untuk membela kehormatan Islam atas pelecehan dari pihak Romawi di Muktah (utara Arab Saudi, dekat Suriah).

Berjihad Melawan Pasukan Kerajaan Terbesar Dunia Saat Itu

Hal itu disebabkan pihak Romawi telah melakukan kejahatan berat. Sahabat nabi yang diutus mengantar surat Nabi kepada penguasa-penguasa Syam telah dicegat dan dibunuh secara kejam.

Pada masa itu, membunuh utusan dari suatu kerajaan atau penguasa adalah kejahatan berat. Sama dengan menantang perang.

Karena itu, Rasulullah murka dan mengirim tiga ribu mujahidin untuk membela kehormatan Islam. Pasukan Islam bergerak ke arah Muktah yang dikuasai Romawi yang menguasai Eropa, Afrika dan sebagian Asia Barat. Inilah imperium terbesar dan terkuat saat itu.  

Ngeri, Tiga Ribu Pejuang Vs Ratusan Ribu Tentara Kekaisaran

Rasulullah menunjuk Zaid bin Haritsah sebagai panglima perang. Jika Zaid cedera atau gugur, komando perang digantikan oleh Jafar bin Abi Thalib.

Jika Jafar cedera atau gugur, komando perang digantikan oleh Abdullah bin Rawahah. Jika Abdullah cedera atau gugur, komando perang digantikan oleh orang lain yang ditunjuk para pejuang yang ikut.

Lalu, berangkatlah pasukan muslim yang terdiri dari 3.000 pasukan melawan 100.000 pasukan romawi yang terlatih dibantu 100.000 pasukan Nasrani Arab. Jumlah total 200.000 pasukan Romawi.

Pertempuran yang tidak seimbang pun meletus. Pertempuran berkobar hebat. Zaid maju melibas musuh hingga ke tengah-tengah. Dia kemudian gugur sebagai syuhada.

Masya Allah, Tetap Angkat Panji Meski Satu Lengan Kena Sabet Pedang

Bendera komando segera disambar Jafar bin Abi Thalib. Dia mengacungkan bendera tinggi-tinggi sebagai tanda komando kini beralih padanya. Jafar maju melibas musuh dari arah kanan dan kiri hingga tangan kanannya ditebas musuh.

Lalu Jafar masih bisa memegang bendera dengan tangan kirinya hingga tangan kirinya juga ditebas musuh. Jafar bin Abi Thalib pantang menyerah. Dia mendekap bendera di dada dengan lengannya yang tersisa.

Tak berapa lama kemudian, lengannya itu juga buntung dan dia gugur sebagai syahid. Melihat Jafar jatuh, Abdullah bin Rawahah menyambar bendera komando. Dia juga bertempur dengan gigih sampai akhirnya mati syahid juga.

Panglima Pengganti Keempat Pun Tampil Dan Mengecoh Musuh

Lalu para pasukan memilih Khalid bin Walid sebagai komandan. Dan Khalid dengan cerdik mengelabui musuh agar pasukan Islam bisa mundur secara perlahan. Demi mengurangi jumlah korban di pihak muslim.

Sebab, kekuatan musuh terlalu besar untuk dihadapi secara frontal. Setelah mundur perlahan, justru pasukan Romawi tak berani maju. Mereka ragu-ragu untuk mengejar. Karena mereka melihat pasukan Islam seperti bertambah banyak.

Padahal itu hanya siasat Khalid yang merotasi pasukan agar tampak berbeda antara pasukan depan dengan belakang, antara kanan dan kiri. Alhasil, pasukan Islam bisa kembali Madinah dengan lebih aman.

Kisah sahabat nabi Jafar bin Abi Thalib yang gugur sebagai syuhada ini menjadi teladan bagi pejuang Islam setelahnya. Meski salah satu lengannya putus, namun tetap berjuang dengan lengan yang tersisa.

Siasat Cerdik, Musuh Tak Berani Maju Meski Menang Banyak

Sekitar 70 pejuang Islam gugur. Sementara itu, tidak ada riwayat yang pasti berapa jumlah korban di pihak Romawi. Dengan sengitnya pertempuran, bisa saja jumlah korban mereka lebih banyak.

Buktinya, mereka tak berani mengejar pasukan Islam yang mundur. Bisa jadi mereka ciut nyalinya dan anggotanya banyak jadi korban.     

Rasulullah sedih saat mendengar berita bahwa ketiga komandan perangnya syahid. Beliau pergi ke rumah Jafar dan bertemu Asma, istrinya.

Bukan Harta Atau Jabatan, Inilah Hiburan bagi Orang Beriman Itu

Saat itu Asma tengah mempersiapkan kedatangan suaminya dengan membuat makanan dan memandikan anak-anaknya. Asma sudah merasakan kesedihan saat melihat wajah murung Rasulullah.

Rasulullah menanyakan anak-anak Jafar dan mencium mereka. Air mata beliau membasahi pipi mereka. Asma bertanya pada Rasulullah apa yang terjadi.

Rasulullah berkata bahwa Jafar telah syahid dan masuk surga. Inilah hiburan bagi orang beriman. Bukan harta atau jabatan. Baca juga kisah sahabat nabi yang kuat imannya.

Kisah Sahabat Nabi Jafar bin Abi Thalib, Ini Hadiah Bagi Mereka Sabar Dalam Perjuangan

Istri dan anak-anak Jafar merasa sangat sedih dan kehilangan. Rasulullah kemudian mendoakan agar istri dan anak-anak Ja’far diberi ganti yang lebih baik.

Karena kita tak selalu tahu mana yang baik bagi kita. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang terbaik bagi kita. Tugas manusia hanyalah taat dan menyembah Allah semata.   

Setelah itu, Rasulullah bersabda, “Sungguh, aku melihat Ja’far berada di surga. Dia mempunyai sayap yang berlumuran darah.”

Kisah sahabat nabi Jafar bin Abi Thalib yang telah menikmati surga ini terkenal dengan dua sayapnya. Ini sebagai hadiah dari Allah bahwa perjuangan Jafar mendapat ridha dari Allah.  

Foto: pixabay

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *