kisah sahabat nabi dengan al quran

Kisah sahabat nabi dengan Al Quran sebagai bukti keakraban orang beriman dan Kitabullah. Di banyak riwayat, sahabat nabi sangat mesra dengan Al Quran. Mereka tak hanya membaca, namun juga menjadikan Al Quran sebagai kesenangan dan terapi jiwa.

Dan yang paling utama adalah menjadikan petunjuk hidup. Kisah sahabat nabi dengan Al Quran sangat banyak contohnya. Salah satunya Usaid bin Hudair.

Usaid bin Hudair adalah tokoh suku Aus. Di Madinah, ada dua suku besar: Aus dan Khazraj. Sebelum hijrah, dua suku ini selalu bersaing. Bahkan mereka pernah berperang hebat.

Sejak hadirnya risalah Islam, Nabi Muhammad menyatukan mereka dan memberi gelar kedua suku ini sebagai: Anshar (para penolong). Mereka inilah yang menolong dan menampung para muhajirin.

Kisah Sahabat Nabi dengan Al Quran, Bersantai Pun Sambil Hafalan Ngaji

Sejak meninggalkan Mekkah, sahabat Muhajirin ini tidak membawa harta dan tidak punya tempat tinggal.       

Usaid bin Hudair punya suara yang indah saat melantunkan Al Quran. Suatu malam, Usaid sedang bersantai di bale-bale samping rumahnya. Tak jauh di situ, ada beberapa ekor kudanya sedang diikat.

Sementara Usaid melantunkan Al Quran dengan cara hafalan, sang anak yang masih kecil tiduran di dekatnya. Di tengah Usaid mengulang hafalan Al Quran di tengah sunyinya malam, tak disangka kuda-kuda milik Usaid meringkih agak keras.

Anak gembala tadi berkata kepada orang yang penuh berkah, ”Ajarkanlah kepada saya bacaan yang Tuan baca tadi.”
“Kamu anak pintar!” jawab orang luar biasa yang penuh berkah itu.

Usaid pun kaget. Dia menghentikan lantunan Al Qurannya lalu memeriksa kuda-kudanya. Setelah dicek, kuda-kuda itu sudah tenang kembali. Kisah sahabat nabi dengan Al Quran kali ini tentang Usaid bin Hudhair, seorang sahabat dari kalangan pemuka Anshar.

Kaget Banget, Pas Ngaji Malah Kudanya Malah Meringkih Keras

Usaid pun kembali ke tempatnya dan melanjutkan bacaan Al Qurannya. Dengan suaranya yang merdu, kuda-kuda itu kembali meringkih. Kali ini lebih keras ringkihannya sambil menendang-nendang.

Usaid pun kaget. Dia pun menghentikan tadarusnya. Lalu ia mengecek lagi dan didapatinya kuda-kudanya sudah tenang.

Usaid pun meneruskan tadarusnya. Bahkan lebih merdu dan lebih syahdu daripada sebelumnya. Selang beberapa waktu, kuda-kudanya makin hebat menendang-nendang. Usaid khawatir kuda-kuda itu bisa membahayakan anaknya yang sedang tidur di dekatnya.

Usaid pun mendatangi kuda-kuda itu lebih teliti. Dia pun menghentikan tilawah Al Qurannya lalu mengamati kuda-kudanya.

Nabi Ungkap Apa Cahaya Misterius Itu

Tanpa sengaja, ia memandang ke arah langit. Dia melihat segumpal awan putih yang kerlap-kerlip cahaya seperti bintang gemintang.

Awalnya awan itu dekat sekali dengan atap rumahnya. Makin lama awan itu mengangkasa hingga makin tinggi lalu menghilang.

Keesokan harinya, Usaid menceritakan kejadian itu kepada Nabi Muhammad. Maka Rasulullah berkata, ”Itu adalah malaikat yang ingin mendengarkan tilawah Al Quran darimu. Jika engkau meneruskan tilawahmu pasti akan banyak orang yang akan bisa melihatnya” (HR. Bukhari Muslim).

Kisah sahabat nabi dengan Al Quran ini mengungkapkan tilawah Usaid bin Hudhair yang merdu. Suaranya yang indah sedemikian rupa hingga malaikat pun ingin mendekat dan menyimak bacaannya. Hal ini membuat kuda-kuda milik Usaid ketakutan dan meronta-ronta.

Kisah Sahabat Nabi Dengan Al Quran, Bocah Gembala Yang Polos

Kisah sahabat nabi dengan Al Quran juga dicontohkan oleh Abdullah bin Mas’ud. Sejak masih remaja, sahabat yang sering disapa dengan Ibnu Masud sudah mengikuti ajaran Rasulullah.

Awal mula Abdullah bin Mas’ud mengenal Nabi ketika Nabi dan Abu Bakar melintasi domba-domba yang ia gembalakan.

Saat itu, anak gembala itu tengah menghalau domba-dombanya di jalan kecil perbukitan kota Mekah, jauh dari keramaian. Domba-domba tersebut adalah kepunyaan seorang bangsawan Quraisy, bernama Uqbah bin Mu’aith. Anak kecil itu Abdullah bin Mas’ud.

Saat itu Abdullah bin Mas’ud tidak terlalu paham tentang kabar adanya Nabi di tengah kota. Mungkin karena usianya yang masih kecil dan tempat tinggalnya yang jauh dari masyarakat Mekkah.

Anak gembala itu rajin menggembalakan domba-domba majikannya. Pagi-pagi sekali dia sudah berangkat bersama domba-dombanya ke tempat gembala, dan pulang ketika senja.

Takjub, Hanya Dengan Basmalah Pun Keajaiban Terjadi  

Hari itu, ia melihat di kejauhan dua orang laki-laki menuju ke arahnya. Keduanya kelihatan sangat letih dan kehausan. Bibir dan kerongkongan mereka tampak kering.

Ketika keduanya berada dekat dengan anak gembala itu, mereka memberi salam dan berkata, ”Hai anak muda, berilah kami susu dombamu sekadar untuk menghilangkan haus!”

Seorang di antara keduanya berkata,”Bawalah kemari seekor domba betina yang belum kawin!” Anak itu memilih seekor anak domba, lalu dibawahya ke dekat mereka. Orang itu memegang domba tersebut dan meraba-raba susunya dengan membaca bismillahirrahmanirrahim.

Si anak gembala bingung dan berkata kepada dirinya sendiri, ”Mana mungkin anak domba dapat diperas susunya!”

Tetapi sebentar kemudian susu anak domba itu membengkak dan setelah itu air susunya memancar berlimpah-limpah. Laki-laki yang seorang lagi mengambil sebuah batu cekung lalu diisinya dengan susu dan diminumnya berdua dengan kawannya.

Anak Gembala Itu Ingin Jadi Murid

Kemudian anak itu diberi juga dan mereka bertiga minum bersama-sama. Anak itu hampir saja tidak percaya pada apa yang dilihatnya dan dialaminya.”Sungguh ajaib!” kata anak gembala itu.

Setelah mereka minum sepuas-puasnya, orang yang penuh berkah itu berkata,”Berhenti!” Saat itu juga air susu domba berhenti mengalir, dan teteknya kempes kembali seperti semula.

Anak gembala tadi berkata kepada orang yang penuh berkah, ”Ajarkanlah kepada saya bacaan yang Tuan baca tadi.”
“Kamu anak pintar!” jawab orang luar biasa yang penuh berkah itu.

Cerita di atas adalah permulaan kisah Abdullah bin Mas’ud. Orang yang penuh berkah itu tidak lain adalah Rasulullah saw. Sedangkan kawannya ialah Abu Bakar Shiddiq.

Mereka pergi ke perbukitan Mekah pada hari itu,menghindari kemungkinan yang buruk karena tindakan kaum Quraisy.

Rela Jadi Pelayan Agar Memperoleh Ilmu

Tidak berapa lama setelah itu, Abdullah bin Mas’ud masuk Islam. Dia mendatangi Rasulullah dan memohon kepada beliau agar diterima menjadi pelayan beliau. Rasulullah pun menerimanya.

Beliau mempercayakan kepadanya hal-hal yang rahasia kepadanya. Karenanya, Abdullah bin Mas’ud dijuluki Shahibus Sirri Rasulullah ’pemegang rahasia Rasulullah.’

Abdullah bin Mas’ud dibesarkan dan dididik dengan sempurna dalam rumah tangga Rasulullah. Karena itu tidak heran kalau dia  menjadi seorang yang terpelajar, berakhlak tinggi, sesuai dengan karakter dan sifat-sifat yang dicontohkan Rasulullah kepadanya.

Kemampuannya menyerap pelajaran Al Quran langsung daru Rasulullah saw. Membuatnya dijuluki Tulang Punggung Huffadh Al Karim (Penghafal Al Quran yang Mulia).

Nabi Pun Ingin Mendengarkan Bacaan Al Qurannya

Karenanya Nabi saw. pernah bersabda, ”Berpegang teguhlah kalian kepada ilmu yang diberikan Ibnu Ummi Abidin (julukan Abdullah bin Mas’ud).” Atau juga sabda beliau yang lain, ”Siapa saja yang hendak mendengar Al Quran tepat seperti yang diturunkan, hendaklah ia mendengarkan dari Ibnu Ummi Abidin.”

Suatu hari, Nabi saw. memanggilnya, ”Bacakanlah Al Quran kepadaku, wahai Abdullah.”

”Haruskah aku membacakannya kepada Anda padahal ia (Al Quran) diturunkan kepada Anda, wahai Rasulullah?”

”Aku ingin mendengarnya dari lisan orang lain.”

Lalu Abdullah bin Mas’ud membacakan beberapa ayat. Ketika sampai surat An Nisa ayat 41-42 yang artinya

”Maka bagaimanakah (halnya orang kafir nanti), apabila Kami mendatangkan seseorang saksi (Rasul) dari tiap-tiap umat dan Kami mendatangkan kamu (Muhammad) sebagai saksi atas mereka itu (sebagai umatmu)” (QS. an-Nisa  41).

”Di hari itu orang-orang kafir dan orang-orang yang mendurhakai Rasul, ingin supaya mereka disamaratakan dengan tanah, dan mereka tidak dapat menyembunyikan (dari Allah) sesuatu kejadian pun” (QS. an-Nisa 42).

Masya Allah, Tilawah Al Qurannya Bikin Nabi Mengangis

Nabi saw. tak dapat menahan tangisnya seraya memberi isyarat agar Abdullah bin Mas’ud menghentikan bacaannya.

Betapa kuat getaran keimanan yang terpantul di tiap huruf Al Quran yang dibacakan Abdullah bin Mas’ud. Hingga Nabi saw. bercucuran air mata mendengar kesyahduan bacaannya.     

Abdullah bin Mas’ud bukan hanya sekadar Qari terbaik atau seorang yang sangan alim atau abid yang sangat zuhud, tetapi dia juga seorang pemberani, kuat, dan teliti.

Bahkan dia seorang pejuang (mujahid) terkemuka meski ia bertubuh kecil. Baca juga kisah sahabat nabi yang mengobati luka sengatan hewan berbisa dengan bacaan Al Quran.

Foto: pixabay

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *