kisah sahabat ingin miskin kurma

Kisah sahabat ingin miskin ini terdengar janggal. Jika umumnya orang ingin jadi orang kaya, sahabat nabi yang satu ini malah ingin jadi orang miskin aja. Mari kita ulas sekelumit bagaimana sahabat nabi yang satu ini menjalani hidupnya

Sahabat ini merupakan salah satu sahabat Nabi yang pertama masuk Islam yang disebut dengan assabbiqunal awwalun. Kala itu, Abu Bakar Shiddiq datang kepadanya menyampaikan Islam.

Begitu juga kepada Utsman bin Affan, Zubair bin Awwam, Thalhah bin Ubedillah, dan Sa’ad bin Abi Waqqash. Tak ada keraguan pada diri mereka.

Bahkan mereka segera pergi menemui Rasulullah SAW bersama Abu Bakar Shiddiq untuk menyatakan ba’iat dan memikul bendera Islam.

Kisah Sahabat Ingin Miskin, Agar Masuk Surga Dengan Harta

Sahabat ini punya nama sebelum Islam: Abdul Ka’bah atau Abd Amr. Setelah masuk Islam, Nabi menganti namanya jadi lebih baik.

Sahabat nabi ini kaya raya. Hartanya seakan tak pernah habis. Bahkan terus bertambah walaupun harta itu selalu disedekahkannya.

“Rasulullah telah wafat dan tak pernah beliau dan keluarganya sampai kenyang makan roti gandum, apa harapan kita apabila dipanjangkan usia tetapi tidak bertambah kebaikan bagi kita?”

Ia merupakan salah satu dari sepuluh sahabat yang dijamin surga. Meski begitu sahabat nabi ini tidak pernah berhenti berpikir bagaimana caranya masuk surga dengan mudah.

Kisah sahabat ingin miskin ini menjadi pelajaran penting bagi kita. Bahwa harta tidak selalu membawa kemudahan hidup.  

Walau menjadi salah satu dari 10 sahabat yang dijamin masuk surga, namun ia merupakan ornag terakhir yang masuk surga. Kisah sahabat ingin miskin ini adalah kisah Abdurrahman bin Auf.

Awas, Inilah Risiko Berat Punya Harta Banyak

Rasulullah pernah bersabda tentang Abdurrahman binAuf, “Wahai Ibnu Auf, kau termasuk golongan orang yang kaya, dan kau akan masuk surga secara perlahan-lahan. Pinjamkanlah kekayaan itu kepada Allah, pasti Allah mempermudah langkahmu.”

Karena, di hari kiamat nanti, Allah akan meminta pertanggungjawaban tentang harta ini sangat rinci. Sangat berbeda jika pertanyaan tentang tubuh, umur dan ilmu.

 Jika pertanyaan tentang umur manusia: untuk apa kau kau gunakan. Kalau untuk ilmu, sejauh mana diamalkan. Kalau untuk tubuh: lelahnya untuk apa saja.

Seadangkan untuk harta, maka pertanyaannya dua: darimana kau dapat dan untuk apa kau belanjakan. Maka kita harus siap dengan dua pertanyaan ini. Lebih detil dan rinci. Maka mari berhati-hati terkait harta ini.

Bakat Bisnisnya Mencengangkan. Apa Saja ‘Dipegang’ Jadi ‘Emas’

Abdurrahman bin Auf adalah seorang pemimpin yang mengendalikan hartanya, bukan sebaliknya. Diri dan waktunya bukan budak yang dikendalikan oleh hartanya.

Semenjak mendengar sabda Rasulullah mengenai dirinya itu, ia menyediakan bagi Allah ‘pinjaman’ yang baik. Apa itu pinjaman yang baik bagi Allah? Bukankah Allah Mahakaya dan tak perlu pinjaman dari manusia?

Keberuntungan dalam perniagaan Abdurrahman bin Auf sampai suatu batas yang membuat dirinya sendiri takjub dan heran. Hingga ia berkata, “Sungguh, ku lihat diriku, seandainya aku mengangkat batu niscaya ku temukan di bawahnya emas dan perak.”

Barang apa saja yang ia pegang dan ia jadikan modal bisnis pasti menghasilkan untung yang berlipat ganda, tentu dengan izin Allah.

Jenis Harta Seperti Ini Yang Pantas Jadi Tiket Surga

Yang membuat perniagaannya berhasil dan berkah karena ia selalu bermodal dan berniaga dengan yang halal. Menjauhkan diri dari perbuatan haram bahkan syubhat (samar-samar).

Selain itu, kekayaannya  bertambah karena keuntungan dari perniagaan itu bukan hanya untuk dirinya sendiri. Melainkan dalam keuntungannya terdapat bagian Allah yang ia penuhi dengan setepat-tepatnya.

Ia gunakannya laba itu untuk memperkokoh hubungan kekeluargaan serta membiayai sanak saudaranya.

Ia Juga menyediakan segala perlengkapan yang diperlukan pejuang penyebaran Islam.

Pada suatu peristiwa, beberapa rekan berkumpul di rumah Abdurrahman bin Auf.

Ketika Makan Enak Malah Menangis Sedih

Tak lama sesudah makanan diletakkan di hadapan mereka, Abdurrahman pun menangis.

Para rekan bertanya, “Apa yang membuatmu menangis wahai Ibnu Auf?”

“Rasulullah telah wafat dan tak pernah beliau dan keluarganya sampai kenyang makan roti gandum, apa harapan kita apabila dipanjangkan usia tetapi tidak bertambah kebaikan bagi kita?”

Abdurrahman menangis teringat kondisi memprihatinkan kondisi ekonomi Nabi Muhammad semasa hidupnya dan bagaimana keluarga beliau juga demikian.

Aisyah pernah menceritakan, “Kami menyaksikan satu bulan purnama lalu melihat satu purnama lagi. Dan kami melihat purnama ketiga sedangkan tungku kami tidak pernah menyala.”

Bikin Mewek, Tiga Bulan Beruntun Rumah Nabi Tak Ada Masakan

Maksudnya tidak pernah ada makanan dan tidak ada bahan makanan yang dimasak selama tiga berturut-turut di rumah Nabi.

Lalu ada yang bertanya kepada Aisyah, apa yang dimakan nabi dan keluarganya?

Dijawab, “Hanya air dan kurma.” Karena hal inilah yang membuat Abdurrahman menangis.   

Di sisi lain, kekayaan Abdurrahman melimpah. Karena itulah dia sedih ingat keluarga nabi. Maka sepeninggal Nabi, Abdurahman menanggung segala kebutuhan hidup para keluarga Nabi dan para istri Nabi berupa hadiah bukan zakat ataupun sedekah.

Karena Nabi telah berpesan, bahwa nabi dan keluarganya tidak boleh menerima zakat dan sedekah. Berbeda dengan hadiah, maka Nabi sering menerima hadiah yang tidak mengikat. Nabi juga berhak menerima harta rampasan perang.  

Salut, Penampilan Bos Sama Dengan Para Pelayannya  

Meskipun kaya raya, Abdurrahman tidak sombong. Ia tampil sederhana. Kisah sahabat ingin miskin ini menunjukkan bahwa saat pun tetap sederhana. Ini akan mejauhkan diri dari sikap sombong

Sampai-sampai ada yang mengatakan, “Seandainya ada seorang asing yang belum pernah mengenal Abdurrahman bin Auf, lalu kebetulan melihatnya sedang duduk-duduk bersama pelayan-pelayannya, niscaya ia tak akan sanggup membedakannya dari antara mereka itu.”

Suatu hari Abdurrahman bin Auf mendengar Rasulullah bersabda, “Orang yang kaya akan lebih lama menjalani perhitungan amal dibanding orang yang miskin, dan sungguh saya akan bersama orang-orang fakir dan miskin.”

Mendengar itu, Abdurrahman menjadi gelisah. Dia tidak mau kalau kekayaannya membuatnya lama menjalani perhitungan amal.

Mau Sukses? Inilah Rumus Dari Sahabat Nabi

Abdurrahman sangat menginginkan bersama dengan Rasulullah di akhirat nanti. Itulah cita-cita orang beriman yang paling tinggi.

Justru dengan cita-cita inilah orang beriman akan sukses, tak hanya di akhirat. Tapi juga di dunia. Karena dia akan bekerja dan beramal di hadapan Allah dan nanti akan ditujukkan kepada Allah kelak di akhirat.

Orang yang beriman pada akhirat itu akan bekerja dan beramal sangat serius, berhati-hati, teliti dan penuh persiapan.  Dia tidak akan ceroboh atau bertindak di luar akal sehatnya.

Orang beriman juga tak akan curang karena Allah Mahatahu dan nantinya juga akan dipertanggungjawabkan di akhirat. Inilah resep sukses dunia akhirat.

 Abdurrahman terus berpikir bagaimana membuat dirinya menjadi miskin. Agar bisa bergabung bersama nabi di akhirat

Kisah sahabat ingin miskin ini harus menjadi teladan bagi kita bagaimana harta bisa menyelamatkan kita dari siksa Allah bukan malah jadi sumber malapataka dunia akhirat. Bagaimana agar kita bisa meneladani Abdurrahman bin Auf.

Harta benda milik Abdurrahman pun ia hibahkan kepada para sahabat nabi yang hijrah ke kota Madinah. Bukannya habis, namun hartanya semakin bertambah.

Kisah Sahabat Ingin Miskin, Borong Produk Buruk Biar Miskin, Eh Malah Makin Kaya

Sebab usaha dagangnya semakin ramai. Abdurrahman bin Auf bingung. Ia mondar mandir memikirkan bagaimana caranya ia menjadi miskin.

Sesudah perang Tabuk, Abdurrahman mendengar bahwa kurma yang siap panen menjadi busuk dan harganya anjlok. Ia pun memiliki ide untuk mengurangi hartanya itu.

Disebarkanlah informasi bahwa Abdurrahman akan membeli semua kurma yang busuk dengan harga normal. Abdurrahman sudah siap rugi.

Warga Madinah pun berbondong-bondong datang ke tempat Abdurrahman bin Auf untuk menjual kurma busuknya. Semua kurma busuk itu ludes diborong oleh Abdurrahman.

Sehari kemudian, datanglah utusan dari Yaman. Para utusan ini memberikan pengumuman bahwa ada wabah penyakit yang aneh di Yaman. Mereka tengah mencari kurma busuk untuk dijadikan obatnya.

Inilah Rahasia Ilahi, Kalau Memang Rezekinya, Tak Akan Bisa Dicegah

Kurma busuk akan dibeli dengan harga 10 kali lipat dari harga kurma segar di pasar. Para penduduk kota Yaman sangat membutuhkan kurma busuk itu.

Karena menurut pemeriksaan tim kesehatan saat itu, wabah aneh tersebut akan cepat sembuh bila diobati dengan kurma busuk.

Warga kota Madinah yang mendengar pengumuman tersebut segera memberi tahu para utusan untuk pergi ke Abdurrahman. Karena di sanalah terdapatnya kurma busuk.

Tanpa berpikir panjang, para utusan itu pergi ke rumah Abdurrahman bin Auf. Para utusan itupun menceritakan wabah aneh yang terjadi di kota Yaman. Lalu menjelaskan maksud dan tujuan mereka datang ke rumah Abdurrahman bin Auf.

Masya Allah, Produk Rusak Pun Laku 10 Kali Lipat

Semua kurma-kurma busuk yang dibeli Abdurrahman bin Auf diangkut para utusan dan mereka membayarnya dengan harga 10 kali lipat dari harga buah kurma yang segar.

Abdurrahman bin Auf pin semakin kaya raya. Kurma busuk yang seharusnya tidak laku itu malah dibeli dengan harga 10 kali lipat. Belum ada yang menandingi kekayaannya.

Itulah teladan Abdurrahman bin Auf. Hartanya diantarkan sebanyak-banyaknya untuk kepentingan agama dan masyarakat. Abdurrahman ‘meminjamkan’ hartanya di hadapan Allah. Baca juga kisah sahabat nabi yang wakafkan hartanya untuk umat.

Itulah Keistimewaan dari Allah Kepada Siapa Yang DikehendakiNya

Dan manusialah yang memanfaatkan pinjaman yg baik itu untuk berbagai keperluan. Karena sesungguhnya Allah tidak membutuhkan apapun dari makhlukNya.

Seolah-olah Allah meminjam hartanya untuk kepentingan umat manusia. Itulah kasih sayang Allah.

“Siapa yang memberi pinjaman kepada Allah dengan pinjaman yang baik, maka Allah akan memberi ganjaran dengan gandaan yang banyak” (QS. Al Baqarah 245).

Penulis: Syahira Ramadania
Editor: Oki A.

Foto: pixabay

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *