Kisah sahabat di Perang Uhud

Kisah sahabat di Perang Uhud merupakan salah satu peristiwa penting dalam perjuangan Nabi Muhammad bersama generasi pertama.

Perang Uhud terjadi pada tahun ke-3 hijrah. Yakni tepat setahun setelah Perang Badar.

Kisah Sahabat di Perang Uhud, Kaum Kafir Dendam

Karena memang kisah sahabat di Perang Uhud ini merupakan ajang balas dendam kaum kafir Mekkah. Banyak di antara tokoh Mekkah yang terbunuh di Perang Badar.

Banyak juga kerabat atau sanak saudara para pemuka Mekkah yang jadi korban jiwa di pertempuran pertama antara kaum muslimin dan kaum kafir itu.

Lalu Nabi Muhammad terus memberi semangat sehingga barisan utama tetap kukuh di jalan Allah. Orang-orang Islam dari Anshar yakni Bani Harist dan Bani Salimah nyaris terpengaruh seandainya Nabi tidak memberi dorongan semangat.

Maka, Abu Sufyan bin Harb sebagai salah satu tokoh Mekkah menggalang kekuatan. Dia memprovokasi orang-orang kafir Mekkah yang kehilangan kerabatnya agar menyiapkan harta dan logistik perang Uhud.

Tak hanya itu, Abu Sufyan juga melobi para suku Arab terdekat untuk mengirimkan orang-orang terbaiknya demi menyerang balik Nabi Muhammad dan kaum muslimin. Itulah sekelumit latar belakang kisah sahabat di Perang Uhud. 

Nabi Mimpi Aneh

Abu Sufyan berhasil menggalang kekuatan dari kabilah luar Mekkah, yakni Kabilah Kinanah, penduduk Tihamah dan banyak kabilah-kabilah lainnya. Total pasukan kafir diperkirakan mencapai tiga ribu personil.

Kaum muslimin mendengar rencana ini. Rasulullah saw. pun mempersiapkan kaum muslimin. Rasul mengajak musyawarah kaum muslimin. Dalam musyawarah itu Nabi mengungkapkan mimpi yang baru saja beliau alami.

Mimpi Itu Firasat, Namun Tapi Tidak Digubris

Dalam mimpi itu, Nabi mengatakan, “Aku melihat beberapa ekor lembu disembelih, ku lihat mata pedangku rompal dan aku memasukkan tanganku ke dalam baju besi yang kokoh.”

Sapi-sapi yang disembelih itu ditafsiri ada sahabat nabi yang terbunuh. Kisah sahabat di Perang Uhud ini memang kemudian benar-benar membuktikan mimpi nabi itu.

Sedangkan mata pedang yang rompal itu ditafsiri ada anggota keluarga Nabi yang gugur. Lalu baju besi yang kokoh itu ditafsiri sebagai kota Madinah.

Dari tafsir mimpi ini, Nabi Muhammad mengemukakan agar kaum muslimin bertahan saja di Madinah. Semua orang berjaga-jaga di pos-pos penjagaan dalam kota. Jika pasukan musuh masuk, kaum muslimin langsung menyergap.

Lagi pula pasukan musuh cukup besar. Sedangkan kekuatan kaum muslimin belum bisa mengimbangi, bahkan belum ada separuhnya. Sehingga strategi bertahan ini dianggap menghemat tenaga dan meminimalkan risiko.

Ini Alasan Mengapa Para Sahabat Mengabaikan Mimpi Nabi

Namun banyak sahabat nabi yang mengusulkan sebaliknya. Mereka mengabaikan firasat nabi.

Mereka ingin mendapat kesempatan berjihad di jalan Allah. Karena banyak sahabat nabi yang tidak ikut andil dalam Perang Badar. Kali ini mereka ingin ikut terjun.

Karena memang awalnya personil Perang Badar yang hanya 313 orang itu bukan untuk bertempur. Pejuang Badar itu awalnya hanya untuk mencegat rombongan kafir Quraisy. Nyatanya, kafir Quraisy malah mengirim seribu pasukan untuk menghadapi kaum muslimin di Badar.

Kisah Sahabat di Perang Uhud, ABG Pun Ngebet Berjihad 

Dengan bekal kemenangan Badar itu, banyak sahabat ingin menggapai kemenangan jihad fi sabilillah. Mereka sangat optimistis bisa mengatasi pasukan Mekkah. Mereka bersikeras agar pasukan Islam keluar Madinah dan menyongsong musuh di medan laga.

Sahabat-sahabat muda belia juga sangat antusias untuk ikut berjihad. Beberapa di antara mereka masih berusia 13, 14 dan 15 tahun.

Sahabat yang sudah berumur 15 tahun diizinkan ikut. Karena tahun sebelumnya mereka dilarang ikut Perang Badar.

Sedangkan yang belum 15 tahun tidak diizinkan ikut. Namun ada dua sahabat yang belum genap 15 tahun diizinkan ikut: Rafi bin Khadij dan Samurah bin Jundab (sumber: Sirah Nabawiyah, Al Mubarakfury, Al Kautsar,hlm. 284).

Kedua pemuda belia ini ahli memanah dan berbadan kekar. Sangat kuat dibandingkan pemuda seusianya. Kisah sahabat di Perang Uhud ini menjadi teladan keberanian dan patriotism kaum muda. 

Tak Disangka, Nabi Dikhianati Orang Islam yang Munafik

Ternyata Nabi mengabaikan pendapatnya sendiri dan mengikuti usulan banyak sahabatnya. Setelah siap, seribu orang Islam berangkat ke arah Gunung Uhud.

Menurut riawayat, ada 100 orang di antaranya mengenakan baju besi termasuk Nabi dan 50 orang menunggang kuda. 

Namun di tengah perjalanan, para orang munafik membelot. Salah satu tokoh munafik Abdullah bin Ubay bin Salul mengaku perang ini tak seharusnya terjadi. Ia berkata, “Kita tak tahu atas dasar apa perang ini?”

Segini Besarnya Kekuatan Musuh yang Ditakuti Orang Munafik

Tak ayal, sepertiga dari seribu pasukan Islam balik ke Madinah. Mereka merasa ciut nyalinya melihat pasukan Mekkah yang berkekuatan 3 ribu orang.

Kaum kafir membawa armada tiga ribu unta dengan perbekalan lengkap, lalu dua ratus kuda perang dan 700 pasukan di antaranya mengenakan baju besi lengkap.  

Allah menggambarkan keadaan orang munafik yang membelot itu. “Dan supaya Allah mengetahui siapa orang-orang munafik. Kepada mereka dikatakan, ‘Marilah berperang di jalan Allah atau pertahankan (diri kalian).’ Mereka berkata, ‘Sekiranya kami mengetahui akan terjadi peperangan, tentulah kami mengikuti kalian.’ Mereka pada hari itu lebih dekat kepada kekafiran daripada keimanan. Mereka mengatakan dengan mulutnya apa tidak terkandung dalam hatinya. Dan Allah lebih mengetahui apa yang mereka sembunyikan” (QS. Ali Imran 167).

Perbuatan kaum munafik itu termasuk dosa besar. Membelot dari jihad fi sabilillah adalah perbuatan yang dimurkai Allah. Karena akan merusak mental pasukan lainnya.

Ulah kaum munafik itu hampir menggagalkan misi. Sepertiga pasukan membelot atau sekitar 300 orang yang mangkir. Kisah sahabat di Perang Uhud diwarnai aksi desersi.

Begini Cara Nabi Ketika Dikhianati

Lalu Nabi Muhammad terus memberi semangat sehingga barisan utama tetap kukuh di jalan Allah. Orang-orang Islam dari Anshar yakni Bani Harist dan Bani Salimah nyaris terpengaruh seandainya Nabi tidak memberi dorongan semangat.

“Ketika dua golongan dari kalian ingin (mundur) karena takut, padahal Allah adalah penolong bagi kedua golongan itu. Karena itu hendaklah kepada Allah saja orang mukmin bertawakkal” (QS. Ali Imran 122). Begitulah firman Allah yang dibacakan Nabi sebagai penyemangat. (Baca juga: Kisah Sahabat di Medan Perang | Remaja 15 Tahun Vs Panglima Musuh)

Lagi-lagi, Perintah Nabi Tak Dihiraukan

Di awal pertempuran, kaum muslimin berhasil memukul mundur pihak kafir. Sehingga orang kafir banyak meninggalkan unta dan perbekalan yang sangat banyak di lokasi.

Pasukan pemanah yang ditugaskan nabi di atas bukit meninggalkan posnya. Mereka ingin mengumpulkan ternak-ternak itu dan mengira pasukan kafir telah kalah dan pergi.

Empat puluh pasukan pemanah lalai dari tugasnya. Sedangkan sang komandan pemanah Abdullah bin Jubair diabaikan begitu saja di atas bukit bersama sembilan orang lainnya yang tetap tinggal. (Baca juga: Kisah Sahabat Nabi Nusaibah l Dahsyat, Muslimah Ikut Jihad)

Kisah Sahabat Di Perang Uhud, Inilah Sebab Kekalahan

Sebelum pertempuran, Nabi mewanti-wanti pasukan pemanah ini, “Lindungilah kami dari atas. Jika kalian melihat kami disambar burung pun, janganlah kalian meninggalkan tempat itu kecuali ada utusan yang datang. Jika kalian melihat kami mengalahkan musuh, kalian jangan beranjak, hingga ada utusan yang naik kepada kalian.”

Rupanya mereka tergiur dengan harta rampasan perang. Mereka melupakan wejangan nabi. Perintah komandan pemanah pun mereka abaikan.

Kisah sahabat di Perang Uhud ini jadi pelajaran bahwa ketaatan kepada pemimpin itu wajib selama tidak ada unsur maksiat atau mengajak pada dosa. (Baca juga: Kisah Sahabat di Perang Badar | Musuh Tiga Kali Lipat Jumlahnya)      

Miris, Begini Luka Yang Dialami Nabi

Ternyata pasukan berkuda yang dipimpim Khalid bin Walid (ketika Perang Uhud masih kafir) melihat celah itu. Dia dan pasukan berkudanya menyerang para pemanah yang tersisa dari belakang sampai tak tersisa. Lalu pasukan musuh merangsek ke tengah.

Tak ayal, Nabi pun sampai terluka. Pipinya tertancap potongan besi dari baju besi beliau hingga berdarah-darah. Gigi beliau ada yang patah terkena hantaman. Lalu Nabi menyerukan pertahanan di dekat beliau dan pasukan Islam kembali menguasai keadaan.

Kedua pihak pun kemudian berangsur mundur. Banyak sahabat senior gugur di Perang Uhud ini. Kisah sahabat di Perang Uhud ini terkenang dalam sejarah karena kerugian yang besar pada kaum muslimin. Di pihak musuh diriwayatkan korbannya sebanyak 20 atau 37 orang.

Mimpi Nabi Jadi Kenyataan Namun Nasi Sudah Menjadi Bubur

Menurut catatan, 70 sahabat gugur sebagai syuhada. Di antaranya Hamzah bin Abdul Muthalib, paman nabi dan Mushab bin Umair, duta dakwah Islam pertama yang dikirim ke Madinah sebelum Nabi hijrah.

Inilah kisah sahabat di Perang Uhud. Banyak pelajaran yang bisa dipetik tentang musyawarah, keberanian, pengkhianatan, pembelotan, kedisiplinan, pembangkangan, kemenangan, kekalahan, dan banyak lainnya.   

Foto: pixabay        

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *