kisah sahabat di perang badar

Kisah sahabat di Perang Badar merupakan salah satu kisah paling heroik dalam perjalanan kenabian Rasulullah Muhammad.

Dalam menyebarkan Islam ke masyarakat, Nabi Muhammad kerap mendapat pertentangan juga mendapat menerima tindakan kekerasan dan ancaman pembunuhan.

Sejatinya, Nabi Muhammad tidak pernah berkeinginan menjadi nabi dan bukan pula ingin menjadi pemimpin umat. Semua ini adalah hak prerogatif Allah yang Maha Mengetahui. Allah yang memilih beliau.

Kisah Sahabat di Perang Badar, Inilah Risiko Perjuangan

Muhammad bin Abdullah tidak ada pilihan kecuali taat. Bahwa amanah sebagai nabi dan rasul harus ditunaikan sepenuh hati meskipun risikonya terluka maupun terbunuh.

Jauh sebelum mendapat pertentangan, Waraqah bin Naufal telah mengingatkan Nabi Muhammad. Waraqah masih kerabat Khadijah.

Waraqah menganut ajaran nabi-nabi terdahulu yang masih murni. Ada riwayat yang mengungkapkan bahwa Waraqah menganut ajaran Nabi Isa yang orisinal.

Ada riwayat juga Waraqah beragama Nashrani. Dicatat dalam sejarah bahwa dia mampu menulis dalam bahasa Ibrani. Termasuk menulis Injil dalam bahasa Ibrani.  

Namun, kesabaran dan ketaqwaan orang beriman ini mengundang pertolongan Allah. Kisah sahabat di Perang Badar ini menjadi bukti bahwa Allah akan menolong siapa saja yang sabar dan bertaqwa.

Waraqah punya pemikiran tajam dan bijaksana. Karena itulah Khadijah mengajak Nabi menemui Waraqah. Saat itu, Waraqah sudah lansia dan buta. 

Ketiganya bertemu sesaat setelah Nabi pertama kali mendapat wahyu dari Jibril di Gua Hira. Nabi sangat ketakutan kala itu.

Sudah Diprediksi Jauh Sebelum Terjadinya

Dan kejadian itu menghantui beliau. Apa yang sebenarnya terjadi pada beliau. Khadijah pun juga tidak memahami apa yang menimpa pada suaminya itu.

Karena itu, Khadijah mengajak suami tercinta berdiskusi dengan Waraqah. Khadijah berpikir barangkali Waraqah bisa memahami hal ini.

Lantas, Nabi Muhammad menceritakan kejadian malam itu secara utuh. Maka, Waraqah pun berkata, “Demi Tuhan yang jiwaku dalam genggamanNya, sungguh kau adalah nabi umat ini. Telah datang Namus (Jibril) yang pernah datang kepada Musa.”

Waraqah melanjutkan, “Sungguh nanti kaummu akan mendustakanmu, mengganggumu, mengusirmu dan memerangimu.” Nabi pun kaget seraya bertanya, “Apakah mereka akan mengusirku?”

Belasan Tahun Disiksa Tanpa Bisa Melindungi Diri

“Benar. Tidak ada seorang pun yang datang membawa serupa dengan kau bawa melainkan akan dimusuhi dan diperangi orang. Kalau aku mencapai masa itu dan usiaku panjang, niscaya aku akan membelamu dengan sungguh-sungguh.”

Beberapa bulan setelah itu Waraqah wafat. Dan prediksi Waraqah ini terbukti. Setelah tiga tahun berdakwah secara tertutup, Nabi mendapat perintah berdakwah secara luas.

Tak hanya ke keluarga sendiri, namun dakwah terbuka untuk warga Kota Mekkah dan sekitarnya.

Sejak itulah, mulai jelas siapa yang beriman seraya mendukung dan siapa yang mendustakan plus memusuhi. Selama 13 tahun diintimidasi bahkan ada yang dibunuh, Nabi Muhammad dan orang Islam diam saja.    

Ada yang Diboikot, Bahkan Dibunuh Secara Kejam

Selama di Mekkah, tidak ada perintah melawan penindasan kafir Quraisy. Allah belum mengizinkan angkat senjata. Hanya menghindar atau menjauhi para agresor.

Banyak sahabat nabi yang disiksa secara fisik, ada yang diboikot dan ada yang dibunuh. Tak hanya laki, orang Islam wanita pun terbunuh pada masa Mekkah.  

Lalu setelah turun perintah hijrah ke Madinah, maka semua orang Islam mencari tempat yang kondusif. Makin hari makin banyak orang Islam. Tak hanya memeluk Islam, tapi mereka siap berjuang dengan harta dan nyawa.

Dan pada tahun ke-2 Hijriah inilah, kemudian turun perintah angkat senjata. Demi melindungi kota Madinah dari ancaman musuh.  

Allahu Akbar, Begini Cara Allah Memberi Pertolongan

Dan pertempuran pertama melawan musuh Islam adalah Perang Badar Kubro. Disebut kubro karena memang sangat besar pengaruhnya dan dampaknya sangat signifikan bagi kepercayaan diri muslim.  

Jumlah orang Islam hanya 313 pejuang sedangkan pasukan kafir 1.000 personil. Tidak seimbang. Baca juga kisah perjuangan 46 ribu pejuang Islam melawan 240 ribu tentara terkuat dunia.

Namun, kesabaran dan ketaqwaan orang beriman ini mengundang pertolongan Allah. Kisah sahabat di Perang Badar ini menjadi bukti bahwa Allah akan menolong siapa saja yang sabar dan bertaqwa.

Al Quran mengabarkan bahwa lima ribu malaikat ikut bergabung dalam barisan. Ada sahabat nabi yang menuturkan hal ini. Namanya Ikrimah.

Misterius, Seorang Musuh Tiba-tiba Tumbang

Ia bercerita, “Ada orang musyrik yang kepalanya sudah terkulai. Tidak tahu siapa yang membabatnya. Ada yang tangannya putus, tak tahu siapa yang menebasnya.”

Abdullah bin Abbas juga meriwayatkan kejadian misterius. Ada seorang muslim sedang bertarung dengan seorang kafir. Satu lawan satu.

Lalu ada suara lecutan cambuk di atasnya dan suara seorang penunggang kuda yang berteriak, “Majulah terus wahai Haizum!”

Muslim itu pun melihat ke atas tapi tak melihat apa-apa. Lalu dia kembali memandang musuhnya, ternyata musuh itu sudah terjerembab ke tanah.

Melihat kejadian ini, seorang sahabat Anshar menuturkannya kepada Nabi. Dan beliau berkata, “Engkau benar. Itu adalah pertolongan dari langit ketiga.” Kisah sahabat di Perang Badar ini merupakan pertempuran kebenaran dan kebatilan pertama kali.

Pejuang Usia 15 Tahun Itu Hadapi Jagoan Musuh

Abu Daud Al Mazini pun demikian. Dia mengejar seorang musuh. Lalu kepala musuh itu sudah tertebas pedang dan mati. Abu Daud berkata sendiri, “Aku sadar, bahwa rupanya dia telah dibunuh oleh selain aku.”

Dalam barisan kaum muslimin, ada beberapa remaja 15 atau 16 tahun. Mereka sangat muda. Kehadiran mereka tidak terlalu diperhitungkan oleh musuh.

Namun keberanian dan tekadnya sangat besar. Ada Muadz bin Amr Al Jamuh dan Muawwidz bin Afra.

Keduanya bergantian mendekati Abdurrahman bin Auf, seorang sahabat nabi senior dan pemeluk Islam gelombang pertama di Mekkah.

“Tak Akan Kubiarkan Dedengkot Itu Lolos”

Muadz bertanya kepada Abdurrahman, “Wahai Paman, tunjukkan kepada kami mana yang namanya Abu Jahal?

“Wahai keponakanku, apa yang hendak kau lakuka padanya?” Abdurrahman agak meragukan kemampuannya. Karena Muadz masih sangat belia.

“Ku dengar dia sering mencaci-maki Rasulullah. Demi Tuhan yang memegang jiwaku, jika aku sudah melihatnya, maka tidak akan kubiarkan dia lolos dari pandanganku hingga siapa yang lebih dulu mati, aku atau dia.”

Abdurrahman takjub dengan tekad keduanya. Dan Abdurrahman menunjukkan sosok Abu Jahal, salah satu pendekar kawakan kafir Mekkah.

Abu Jahal telah menindas umat Islam sejak awal dan menyatakan perang sejak masa hijrah. Abu Jahal adalah salah satu dedengkot kafir Quraisy.  

ABG Itu Tidak Diperhitungkan, Namun Menumbangkan Komandan Musuh

Dua remaja itu pun masuk kancah pertempuran. Karena mereka bukan jagoan atau tokoh, maka kehadirannya tidak terlalu diperhatikan.

Nyatanya mereka mampu melumpuhkan Abu Jahal, komandan musuh. Kisah sahabat di Perang Badar menjadi tintas emas perjuangan Islam generasi pertama.

Setelah perang usai, Nabi bertanya, “Siapakah yang membunuh Abu Jahal.”

“Saya yang telah membunuhnya,” keduanya menjawab serempak.

“Apakah kalian sudah membersihkan pedang kalian?”

“Belum wahai Nabi.”

Lalu Nabi memeriksa pedang itu kemudian berkata, “Kalian berdua memang benar-benar telah membunuhnya.”

Kisah Sahabat di Perang Badar, Keponakan Vs Paman, Kakak Vs Adik Kandung

Lalu Nabi memberi bagian harta rampasan perang kepada Muadz bin Amr. Sebagai bentuk penghargaan nabi kepada pemuda gagah berani itu.

Kisah sahabat di Perang Badar ini benar-benar menguji keimanan kaum muslimin saat itu. Ada yang kakak adik kandung harus saling berhadapan. Ada keponakan melawan pamannya sendiri.

Umat bin Khattab harus bertempur melawan Al Ash bin Hasyim bin Al Mughirah. Dia adalah paman Umar bin Khattab.

Al Ash bin Hasyim bin Al Mughirah selama ini memusuhi Nabi Muhammad. Dan Umar terpaksa harus membunuh pamannya itu di Perang Badar.  

Ada juga Mush’ab bin Umair harus berhadapan dengan kakaknya, Abdul Aziz bin Umair. Takdir Allah, Abdul Aziz bin Umair tidak terbunuh di Perang Badar ini. Tapi dia ditawan oleh seorang sahabat Anshar.

Saat perang usai, Mush’ab tidak sudi membantu saudara kandungnya memerangi Islam itu. Mush’ab bin Umair adalah salah satu sahabat nabi terkemuka.

Siapakah Sebenarnya Saudaramu Yang Sejati?

Mush’ab bin Umair adalah sahabat kepercayaan Nabi dan menjadi duta Islam yang berdakwah pertama kali ke Madiah sebelum Nabi hijrah.

Mush’ab malah memberi saran kepada orang Anshar yang menawan kakaknya itu, “Ikatlah yang erat tawananmu itu. Ibunya sangat kaya. Siapa tahu ibunya menebusnya dengan harta yang banyak dan itu akan menjadi milikmu.”

Abdul Aziz bin Umair kecewa dengan sikap adik kandungnya itu. Ia berkata, “Begitukah kau memperlakukan aku, saudaramu ini?”

Mush’ab menjawab, “Justru dia ini saudaraku.” Maksudnya, saudara seiman dan seperjuangan membela Nabi dan Islam.

Selama orang kafir masih memerangi orang Islam, maka pembelaan itu hanya untuk Islam dan kaum muslimin. Bukan lagi pembelaan dalam persaudaraan darah.

Di Akhirat Kelak, Sahabat Karib dan Kekeluargaan Tak Berlaku Lagi Kecuali Hubungan Ini

Karena persaudaraan darah dan pertemanan beda iman tidak berlaku di hadapan Allah. Persaudaraan darah hanya berlaku di luar urusan akidah atau keimanan. Misalnya urusan bisnis, urusan sosial atau hubungan kemanusiaan lainnya.  

Hubungan keimanan itulah yang akan diperhitungkan Allah. Nanti di akhirat, hanya orang yang beriman dan bertaqwa tetap bersaudara dan berteman.

Kisah sahabat di Perang Badar ini menjadi momen penting sebagai pembeda hubungan keimanan itu. Allah berfirman, “Teman-teman karib pada hari itu saling bermusuhan satu sama lain kecuali orang yang bertaqwa” (QS. Az Zukhruf 67).

Jika orang kafir itu mengajak hidup damai, maka umat Islam pun tentu menyambut juga ajakan cinta damai. Karena makna kata Islam adalah keselamatan dan kedamaian.  

Foto: pixabay

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *