kisah sahabat di hari jumat

Kisah sahabat di hari Jumat menjadi inspirasi bagi kita. Dalam banyak riwayat, beberapa sahabat nabi punya kisah teladan terkait hari Jumat. Salah satunya kisah Umar bin Khattab.

Umar adalah sosok sahabat Nabi Muhammad yang patut diteladani. Rasulullah menjuluki Umar dengan sebutan Al-Farruq. Artinya orang yang bisa memisahkan antara kebenaran dan kebatilan. Bahkan setan pun menghindar apabila bertemu Umar bin Khattab.

Gambaran fisik Umar bin Khattab adalah laki-laki berkulit coklat. Kedua tangannya aktif sehingga dapat melakukan pekerjaan dengan kedua tangannya.

Ia memiliki tubuh yang kuat dan tinggi besar. Tinggi badannya jauh di atas rata-rata. Jika berada di kerumunan, dia tampak seolah sedang menunggangi sesuatu.

Ketika Umar bin Khattab diangkat sebagai khalifah menggantikan Abu Bakar Ash Shiddiq. Kekuasaan Islam tumbuh pesat sejak itu.

Kisah Sahabat di Hari Jumat, Saat Berkhutbah Muncul Keajaiban Itu

Selama 10 tahun memimpin (13 H/634 M – 23 H/644 M), atas izin Allah Umar berhasil membebaskan negeri jajahan Romawi dan Persia dan merebut Baitul Maqdis (Palestina) dari kekuasaan Romawi.

Di balik keberhasilannya menjabat sebagai khalifah sekaligus amirul mukminin, Umar mendapat  karomah yang luar biasa dari Allah. Kelebihan dan kemuliaan itu diberikan oleh Allah kepada Umar bin Khattab.

Abdurrahman bin Auf mengklarifikasi ucapan Umar tentang  sariyyatul jabal. Beberapa orang mencela Umar dan menganggapnya mabuk.

Karomah diberikan Allah kepada sosok-sosok yang istimewa. Jika diberikan kepada nabi atau rasul, maka sebutannnya adalah mukjizat. Jika kepada selain nabi dan rasul, maka sebutannya adalah karomah. Di sinilah salah satu karomah dalam kisah sahabat di hari Jumat.

As-Suyuthi dalam kitab  Tarikh al-Khulafa  menyebutkan beberapa karomah Umar bin Khatab beserta riwayatnya. Bahkan bisa dikatakan bahwa semua riwayat terkait kisah dan karomah Umar bin Khatab dalam Tarikh Khulafa  bersanad sahih dan hasan.

Sampai Diulang Tiga Kali

Beberapa karomah Umar bin Khatab, suatu hari tepatnya di hari Jumat, Umar bin Khatab sedang  memimpin khutbah Jumat. Dalam khutbahnya, tiba-tiba Umar bicara aneh. Tanpa ada apa-apa, Umar meneriakkan Ya sariyyatal jabal ‘Naiklah ke gunung.’ Ia mengulang kalimat ini sebanyak tiga kali.

Para jamaah yang hadir pada saat itu pun merasa aneh. Bahkan sebagian orang yang menganggap bahwa Umar sedang gila. Kemudian Abdurrahman bin Auf menenangkan Umar dan beberapa jamaah shalat jumat yang hadir. 

Abdurrahman bin Auf mengklarifikasi ucapan Umar tentang  sariyyatul jabal. Beberapa orang mencela Umar dan menganggapnya mabuk.

Umar pun dengan santai menjawab,“Saya melihat pasukan muslim sedang berjihad. Sedangkan musuh mengepung mereka dari berbagai tempat. Ketika saya mengucapkan ya sariyyatal jabal, saya berharap para pasukan untuk menuju ke arah gunung.”

Kisah Sahabat di Hari Jumat, Baru Terbukti Sebulan Kemudian

Ternyata ucapan Umar kepada Abdurrahman bin Auf ini benar adanya. Hal ini dibuktikan dengan datangnya utusan dari pasukan yang berperang. Mereka melaporkan hal itu kepada Umar satu bulan kemudian.

Utusan itu bercerita kisah sahabat di hari Jumat dan berjihad di hari itu. Tiba-tiba mereka mendengar suara kencang yang meneriakkan kata-kata ya sariyyatal jabal sebanyak tiga kali. 

Kemudian pasukan pasukan muslim pun bergerak menuju gunung. Dan akhirnya mereka berhasil mengalahkan dan memenangkan peperangan.

Saat Itu, Belum Ada Satelit Dan Antena Pemancar

Padahal peperangan tersebut berada di Nahawand, yakni wilayah negara Iran. Sedangkan Umar berkhutbah di Madinah, kini negara Arab Saudi.

Kisah sahabat di hari Jumat ini menjadi inspirasi. Bahwa Allah memberi karomah kepada siapa saja yang Dia kehendaki. Seolah-olah Umar sedang menyaksikan siaran langsung TV atau streaming. dari jarak ribuan kilometer Padahal zaman itu belum ada teknologi seperti itu

Dalam Kitab Al Syamil, Imam al Haramain menceritakan karomah Umar bin Khattab saat terjadi gempa bumi pada masa pemerintahannya. Ketika itu Umar mengucapkan pujian dan sanjungan kepada Allah Subhanahu wa ta’ala. Padahal bumi berguncang begitu menakutkan.

Ini Keajaiban Lain Ketika Gempa Bumi di Madinah

Kemudian Umar memukul bumi dengan kantong tempat susu sambil berkata, “Tenanglah wahai bumi, bukankah aku telah berlaku adil kepadamu.”

Bumi kembali tenang saat itu juga. Menurut Imam al Haramain, pada hakikatnya Umar adalah amirul mukminin secara lahir dan batin juga sebagai khalifah Allah Subhanahu wa ta’ala bagi bumi-Nya dan bagi penduduk bumi-Nya.

Dengan izin Allah Umar memerintahkan dan menghentikan gerakan bumi. Sebagaimana ia menegur kesalahan-kesalahan penduduk bumi. Kisah sahabat di hari Jumat ini terjadi di masa Umar bin Khattab. (Baca juga: Kisah sahabat nabi yang ditakuti setan)

Sungai dan Air Pun Dibuat Tunduk

Imam Al Haramain juga menuliskan kisah ketika Sungai Nil tidak mengalir. Maka penduduk Mesir melakukan ritual jahiliah dengan melemparkan seorang gadis ke dalam sungai tersebut setiap tahunnya.

Penduduk Mesir melaporkan hal itu kepada Amr bin Ash yang saat itu menjabat Gubernur Mesir pada masa pemerintahan Islam.

Kemudian Amr bin Ash berkata kepada mereka, “Sesungguhnya hal ini tidak boleh dilakukan karena Islam telah menghapus tradisi tersebut.” Kala itu penduduk Mesir mengalami kesulitan selama tiga bulan karena mengeringnya Sungai Nil. (Baca juga: Kisah cinta Nabi Musa)

Lalu Amr menulis surat kepada Umar bin Khattab untuk menceritakan peristiwa itu. Kemudian Umar membalas surat tersebut dan menyatakan, “Engkau benar bahwa Islam telah menghapus tradisi tersebut. Aku mengirim secarik kertas untukmu, lemparkanlah kertas itu ke sungai Nil.”

Surat Itu Dilempar Ke Sungai Dan Keajaiban Pun Terjadi

Kemudian Amr membuka kertas itu sebelum melemparnya ke Sungai Nil. Ternyata kertas itu berisi tulisan Umar untuk Sungai Nil di Mesir. (baca juga: Kisah Sungai Bengawan Solo | Lumpurnya sampai Jutaan Ton)

Isinya, “Jika kamu mengalir karena dirimu sendiri, maka jangan mengalir. Namun jika Allah Yang Maha Esa dan Maha Perkasa yang mengalirkanmu, maka kami mohon kepada Allah Yang Maha Esa dan Maha Perkasa untuk membuatmu mengalir.”

Kemudian Amr melempar kertas itu ke Sungai Nil. Sementara itu penduduk Mesir telah bersiap-siap pindah meninggalkan Mesir. Pagi harinya, Allah Subhanahu wa ta’ala mengalirkan Sungai Nil enam belas hasta dalam semalam. Wallahua’lam bish shawab.

Penulis: Chamdika Putri
Editor: Oki A.

Foto: Pixabay

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *