kisah perjuangan sahabat ammar bin yasir gurun

Kisah perjuangan sahabat Ammar bin Yasir sangat mengharukan dan penuh inspirasi. Ammar termasuk sahabat Nabi yang awal-awal masuk Islam. Bersama ayah dan ibunya, mereka bertiga memegang teguh iman meski disiksa dengan kejam oleh kafir Qurasy di Mekkah.

Darul Arqom, di tempat inilah Rasulullah Muhammad saw menggembleng kaum muslimin yang mula-mula masuk Islam. Saat itu pengikut Nabi hanya sekitar 30 orang. Mereka belajar agama dan mendapat ajaran dari Rasulullah secara sembunyi-sembunyi.

Satu di antara mereka adalah sahabat mulia Ammar bin Yasir. Ammar bin Yasir adalah anak dari Sumayyah binti Khayyat dan Yasir bin Amir. Mereka bertiga merupakan salah satu keluarga dari orang yang paling awal memeluk agama Islam atau disebut dengan Assabiqunal Awwalun.

Kisah perjuangan sahabat Ammar bin Yasir, Begadang Demi Dapat Ilmu

Di rumah Al-Arqom bin Abi Arqom, sekitar 36 meter sebelah timur bukit Shafa inilah sahabat mulia Ammar bin Yasir menyatakan diri memeluk Islam di malam hari. Ammar pulang menjelang Shubuh.

Yasir sang ayah dan ibunya Sumayyah binti Khayyat merasa cemas dengan kebiasaan Ammar yang selalu keluar rumah di malam hari dan kembali pada dini hari. Tak lama kemudian ayah dan ibu Ammar memeluk Islam.

Keluarga Ammar memang tergolong keluarga dengan strata rendah di kalangan Quraisy. Dengan kehidupan sederhana itulah keluarga ini mendapat kemuliaan karena termasuk golongan keluarga yang pertama kali memeluk Islam.

Kisah perjuangan sahabat Ammar bin Yasir ini nantinya kenang sebagai perjuangan memegang teguh iman yang paling mengharukan.

Ayah Ibunya Diseret Di Gurun Pasir

Gerak-gerik Ammar bin Yasir yang selalu pergi ke Darul Arqom belajar Islam bersama Rasulullah ternyata terpantau masyarakat Quraisy. Ammar pun pasrah saat dihadapkan dengan pembesar Quraisy di Mekkah.

Kesabaran dan ketulusannya dalam membela agama Allah dan Rasulnya mendapat tempat tersendiri di hati Rasulullah saw.

Ucapan-ucapan Ammar di hadapan tokoh-tokoh Quraisy ternyata justu membekas di hati seorang budak Bilal bin Rabah. Pengaruh Islam yang begitu memikat masyarakat Mekkah membuat pembesar-pembesar Quraisy-Mekkah berang.

Di sini kaum Muslimin yang kuat akan diintimidasi keluarga besarnya masing-masing. Sementara yang lemah akan disiksa.

Sumayyah, sang ibu dan Yasir sang ayah yang tergolong strata rendah pun disiksa dengan diseret dan dibawa ke padang pasir. Mereka disiksa dengan berbagai macam siksaan. Ammar bin Yasir sendiri juga mendapat siksaan sadis. Kisah perjuangan sahabat Ammar bin Yasir dan ayah ibunya ini menjadi panutan betapa kuat imannya.

Dibayar Kontan Dengan Surga

Tokoh-tokoh Bani Makhzum seperti Abu Jahal terus menyiksa ayah dan ibu Ammar agar mau kembali pada patung-patung kepercayaan Quraisy. Kaum Quraisy benar-benar luar biasa kejam. Mereka menggunakan api.

Sampai Rasulullah saw pun pedih hatinya lalu melewati Ammar sambil mengusap tubuhnya. Nabi saw berdoa sambil memegang tubuh Ammar, “Wahai api, jadilah engkau dingin dan selamat bagi Ammar sebagaimana engkau dulu pernah selamat dan dingin bagi Ibrahim.”

Nabi Muhammad tak dapat berbuat banyak karena ini adalah satu semboyan dari Al-Quran. Bahwa saat di Mekkah masyarakat muslim belum boleh membalas dan Nabi pun juga tidak boleh melakukan pembalasan, Nabi hanya bisa mendoakan kesabaran.

Saat Nabi Muhammad saw melewati mereka sedang disiksa dan kemudian Nabi menyampaikan dukungan dan doanya kepada keluarga Yasir. Bahkan kali ini Nabi menyampaikan jaminan surga kepada keluarga Ammar bin Yasir, Sabarlah keluarga Yasir, tempat kalian nanti adalah di surga.”

Ayah dan ibu Ammar pun akhirnya meninggal dunia dengan mempertahankan keyakinannya. Keduanya gugur di jalan Allah. Mereka terbunuh karena siksaan kafir Quraisy. Kisah perjuangan sahabat Ammar bin Yasir ini teladan dalam memegang teguh keimanan meski meregang nyawa.

Kisah perjuangan sahabat Ammar bin Yasir, Serba Pertama Dalam Sejarah

Sejarah mencatat wafatnya Sumayyah merupakan mati syahid pertama dalam Islam. Sementara Ammar bin Yasir tak kuasa menahan derita melihat ayah dan ibunya disiksa hingga tanpa sadar terucaplah dari mulutnya nama-nama berhala dan ucapan buruk terhadap Rasullullah.

Ammar pun lemas dan menyesali apa yang telah diucapkan. Ammar berkata, “Ya Rasulullah, bagaimana mungkin aku mengangkat wajahku di hadapanmu. Aku telah melukaimu. Aku telah menyebut berhala mereka. Bagaimana ini? Siksaan telah menghilangkan kesadaranku. Mereka membunuh kedua orang tuaku di depan mataku. Aku benci telah melukaimu dengan kata-kata wahai Rasulullah. Ampuni aku ya Allah”

Nabi Muhammad SAW mengatakan, “Bagaimana engkau jumpai dirimu seperti apa hatimu berkata.” Ammar bin Yasir berkata, “Hatiku tetap nyaman dengan iman. Tak ada yang berubah ya Rasulullah. Tapi aku dipaksa mengucapkan kalimat-kalimat kekafiran dan menghinamu.”

Maka kemudian turunlah ayat dalam Al-Quran “…kecuali orang-orang yang dipaksa tetapi hatinya tetap nyaman dengan iman (dia tidak berdosa)” (QS. An Nahl 106).

Itu semua tidak ada masalah untuk Ammar bahkan ketika dia mengucapkan kalimat-kalimat kekafiran, tetapi hatinya tetap nyaman dengan keimanan. Semua itu dilakukan terpaksa karena terancam nyawanya. Kejadian seperti ini pertama kali dalam perjuangan Islam. Ammar juga ikut hijrah pertama ke Habasyah (Afrika).

Nabi Muhammad saw. mengatakan, “Ammar kalau mereka memintamu lagi, maka lakukan lagi. Tidak ada masalah.” Itu membuat Ammar menjadi sangat nyaman. Kisah perjuangan sahabat Ammar bin Yasir ini dijelaskan dalam Al Quran surat An Nahl.

Luar Biasa, Ikut Dua Kali Hijrah : Afrika dan Madinah

Intimidasi dan siksaan yang bertubi-tubi dialami kaum muslimin membuat Rasulullah memerintahkan mereka untuk berhijrah ke negeri Habasyah (Afrika) pada tahun ke-5 kenabian. Baca juga kisah pembantaian penduduk satu negeri dibakar parit api.

Ammar bin Yasir termasuk satu di antara sahabat-sahabat mulia yang berhijrah ke negeri ahli kitab Raja Najasyi.

Ammar bin Yasir kemudian ikut berhijrah lagi ke Madinah bergabung dengan Rasulullah. Sesampainya di Quba, Ammar termasuk orang yang ikut serta membangun Masjid Quba, masjid pertama dalam Islam.

Dan kemudian turut serta membangun Masjid Nabawi di Madinah setelah tiba di kota ini. Kisah perjuangan sahabat Ammar bin Yasir selalu menyertai perjuangan Nabi saw.

Tak Pernah Absen di Momen Krusial

Sejak itu Ammar bin Yasir terlibat langsung mengiringi sejarah kenabian Muhammad. Ammar terlibat langsung dalam perang Badar, Uhud, dan tak pernah absen di medan jihad lainnya.

Bahkan setelah Rasulullah wafat, kesabaran dan ketulusannya dalam membela agama Allah dan Rasulnya mendapat tempat tersendiri di hati Rasulullah saw. Kisah perjuangan sahabat Ammar bin Yasir membuat Rasul saw. memberi apresiasi yang tinggi.  

Suatu saat Ammar datang ingin menemui Nabi, kemudian Nabi bertanya “Siapa yang ingin bertemu dengan saya?” Seorang itu menjawab,“Ammar ya Rasulullah.” Kemudian Nabi Muhammad saw mengatakan, “Selamat datang wahai orang yang baik lagi dia baik kepada orang lain.” Nabi menyampaikan pujian yang sangat tinggi kepada Ammar bin Yasir. Subhanallah!

Mengharukan, Tetap Sederhana Ketika Jadi Pejabat

Ammar bin Yasir adalah orang yang baik, bahkan Nabi Muhammad saw. menyebut Ammar adalah orang yang baik di seluruh kehidupan dari awal hingga akhir. Dari semua kebaikan dia, dari semua kesabaran dia, Nabi menyebut saat dia nanti menjadi pejabat di zaman Umar bin Khatab.

Dia hidup dengan sangat baik, penuh dengan kesabaran, bahkan dia hidup dengan cara yang sederhana. Saat menjadi pemimpin di Kuffah, dia ditemani sahabat Abdullah bin Mas’ud, maka ada yang menyaksikan Ammar bin Yasir membeli makanan yang diikat dengan tali kemudian digotong sendiri dengan punggungnya dan dibawa ke rumah.

Pemandangan pemimpin Islam, seorang gubernur pada zaman itu. Begitulah pemandangan Ammar bin Yasir. Kisah perjuangan sahabat Ammar bin Yasir sebagai pemimpin juga menjadi pantas menjadi teladan kita.

Saat Ammar diberhentikan oleh Umar, meskipun Umar tahu persis bukan karena Ammar bin Yasir berbuat kesalahan. Hanya karena tuduhan masyarakat Kufah (kini Iraq) yang seringkali bermasalah. Mereka beberapa kali mempermasalahkan pemimpin mereka.

Tidak Risau Meski Diberhentikan Mendadak

Mereka kerap mengadukan banyak hal, bahkan mereka sering mengadu domba antara khalifah dengan pemimpin mereka. Ammar saat itu juga diadukan kepada Umar. Tetapi Umar menjaga betul kemudian dilepaslah jabatan Ammar bin Yasir dan diganti dengan Abu Musa Al Asyari demi menghindari fitnah.

Umar bertanya kepada Ammar, “Apakah kamu tidak nyaman dengan pemberhentian ini?” Ammar pun menjawab, “Tidak wahai amirul mukminin.” Umar hanya ingin mengatakan bahwa ia mengganti Ammar karena masyarakat.

Ya seperti itulah Ammar bin Yasir. Seseorang yang hatinya lapang, penuh kesabaran, baik, dan mendapat jaminan surga Allah Swt. Kisah perjuangan sahabat Ammar bin Yasir ini patut kita ambil pelajaran.

Foto: pixabay

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *