kisah nabi yusuf di mesir

Kisah Nabi Yusuf memaafkan si zalim kepadanya sangat mengharukan. Nabi Yusuf menjalani kehidupun penuh dengan penderitaan dan kesusahan. Kita tak membayangkan bagaimana anak yang masih usia bermain dengan kakak-kakaknya di hutan, kemudian Yusuf kecil dibuang ke dalam sumur yang dalam dan gelap. Tanpa bantuan dan tanpa alat yang mendukung

Kakak-kakaknya itu hampir saja membunuh Yusuf kecil. Untung saja, ada salah seorang saudaranya melarangnya. Lalu muncullah gagasan membuang Yusuf Kecil ke sumur. Mereka melakukan itu karena perasaan iri karena sang ayah (Nabi Yakub) sangat mencintai Yusuf. Maka dari itu, Yusuf harus disingkirkan demi mendapatkan perhatian sang ayah.

Kisah Nabi Yusuf Memaafkan yang Zalim Padanya, dan Tidak Mau Balas Dendam

Maka disusunlah itu rencana jahat itu. Lalu Yusuf diajak main ke hutan. Semula Yusuf kecil mau dibunuh, tapi ada kakak yang tidak tega. Lalu muncullah ide membuang ke sumur itu. Dan mereka sepakat membuang Yusuf ke dalam sumur. Dan membawa baju Yusuf yang dilumuri darah hewan seolah-olah Yusuf dimakan serigala hingga jasadnya tak bisa dibawa pulang. Kelak Nabi Yusuf memaafkan yang menzaliminya. Inilah kisah Nabi Yusuf yang memaafkan si zalim.

Sang ayah tentu bersedih menerima laporan anak-anaknya dan menunjukkan baju Yusuf yang berlumuran darah. Namun Nabi Yakub yakin Yusuf masih hidup. Karena  Nabi Yakub yakin dengan mimpi Yusuf bahwa matahari, bulan dan 11 bintang bersujud padanya.

Sang ayah yakin bahwa nantinya semua anggota keluarga termasuk sang ayah dan ibu akan hormat dan mengakui kehebatan Yusuf. Tapi entah kapan. Nabi Yakub pun tak tahu pasti. Dan sang ayah mencemaskan bagaimana keadaan Yusuf kini. Apakah aman di luar sana atau bagaimana. Sang ayah hanya bersabar. Yakub berkata kepada anak-anaknya yang membawa baju Yusuf, “…Maka kesabaran yang baik itulah (kesabaranku). Hanya kepada Allah sajalah yang dimohon pertolongan-Nya terhadap apa yang kalian ceritakan” (QS. Yusuf 18).

Kisah Nabi Yusuf, Dari Penjara, Lalu Jadi Menteri Pangan

Setelah bertahun-tahun dan Yusuf  diangkat menjadi menteri di kerajaan Mesir, di sanalah Yusuf berjumpa lagi dengan kakak-kakaknya yang dulu mencelakakannya. Mereka meminta bantuan bahan makanan di masa paceklik. Justru sinilah awal Nabi Yusuf memaafkan si zalim. Nabi Yusuf tak mau balas dendam meski punya kekuatan dan punya kuasa untuk itu.

Sedangkan Yusuf adalah menteri yang mengurusi semua bahan makanan. Yusuf mengenali mereka namun mereka tidak. Yusud adalah satu dari 12 putra nabi Yakub. Dan 10 anak pertama dengan ibu yang berbeda, sedang Yusuf dan satu saudara lagi beda ibu. Konon namanya Bunyamin.  

Di sanalah kemudian Yusuf membuat siasat agar bisa bertemu ayahnya. Dia sengaja membuat salah satu saudaranya itu ditahan di Istana Raja. Dengan menahan Bunyamin, tujuannya agar 10 saudara lainnya bisa menebus kebebasan Bunyamin dengan cara mendatangkan ayahnya ke istana Mesir.

Sehingga Yusuf bisa berjumpa dengan ayahnya sama-sama sudah memendam rindu sejak hilang di dalam sumur itu. Justru Nabi Yusuf menolong saudara-saudaranya yang dulu menzaliminya. Inilah kisah Nabi Yusuf memaafkan si zalim, bahkan mau menolong mereka yang dulu menzaliminya  

Ayah yang Tak Pernah Hilang Harapan

Ketika 10 saudara  Nabi Yusuf lainnya pulang, mereka mengabarkan kepada ayahnya bahwa Bunyamin ditahan di istana Mesir. Lagi-lagi sang ayah khawatir dengan laporan anak-anaknya ini. Mereka sudah membuat Yusuf hilang puluhan tahun sebelumnya. Kini anak-anak Nabi Yakub membuat saudara seayah seibu Yusuf pun terpisah gara-gara ditahan kerajaan Mesir.

Nabi Yakub pun tetap bersabar dengan ujian ini. Hatinya semakin perih dengan hilangnya dua anaknya itu. Di usianya makin sepuh, justru kini kehilangan dua anaknya. Sejak hilangnya Yusuf, Nabi Yakub sering menangis hingga matanya mengalami kebutaan.

Sang ayah terus-menerus memikirkan Yusuf selama berpuluh tahun. Koson ada riwayat mengatakan 40 tahun, ada yang catatan mengungkapkan 80 tahun. Selama kurun itu, Nabi Yakub memikirkan dan mengkhawatirkan nasib Yusuf yang entah dimana.

Dulu Disia-siakan dan Dilecehkan, Kini Jadi Penguasa

Ketika Yusuf telah menjadi menteri di kerajaan Mesir, banyak warga berbondong-bondong meminta bantuan bahan makanan ke istana raja. Saat itu masa paceklik panjang. Tujuh tahun lamanya. Dan selama masa krisis pangan itu, lumbung pangan yang telah disiapkan tujuh tahun sebelumnya atas prakarsa Nabi Yusuf. Inilah kisah Nabi Yusuf yang memaafkan si zalim.

Bagaimana seseorang yang dulunya disia-siakan, dilecehkan dan bahkan dipenjara tanpa kesalahan apapun, kemudian malah dtunjuk menjadi menteri ahli dan terpercaya di kerajaan Mesir. Selain Nabi Yusuf, ada pula Nabi Musa yang pernah merasakan tinggal di istana kerajaan Mesir.  

“Siapa saja yang bertakwa dan bersabar, maka sungguh, Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik’” (QS. Yusuf 90).

Nabi Yusuflah yang menafsirkan mimpi raja: ada tujuh sapi kurus memangsa tujuh sapi gemuk dan ada tujuh bulir gandum yang hijau serta tujuh lainnya kering (Surat Yusuf . Awalnya Raja Mesir meminta penasehat dan para menterinya menafisiri mimpi raja ini. Namun tidak ada yang paham dengan mimpi ini.

Nabi Yusuf Sempat Dilupakan Jasa Baiknya

Saat itu Yusuf masih dipenjara. Maka ketika Raja bermimpi dan tak ada kaum cerdik pandai yang paham takwil mimpi itu, nama Yusuflah yang dimuncul. Salah seorang pelayan kerajaan ingat dengan Yusuf ketika sama-sama dipenjara dulunya. Pelayan inilah yang dulunya satu sel dengan Yusuf. Meskipun dilupakan sekian lama dan jadi tahanan tanpa salah, namun justru Yusuflah yang membantu Raja dalam mengatur negeri saat krisis.

Dan pelayan itu selamat dari hukuman mati dan kembali bekerja sebagai pelayan kerajaan. Yusuf sempat mentakwilkan mimpi pelayan itu dan satu rekan pelayan lainnya. Yang ini selamat dari hukuman mati dan satu laki akhirnya dihukum mati. Takwil mimpi Yusuf persis dengan keadaan dua pelayan yang berbeda itu.

Hanya saja pelayan ini lupa bertahun-tahun lamanya untuk membantu membebaskan Yusuf. Inilah kisah Yusuf memaafkan si zalim dan meaafkan orang yang melupakan jasanya. Dulunya pelayan itu pernah berjanji untuk membantu Yusuf yang memang dipenjara meski tidak bersalah. Begitu ada kabar Raja membutuhkan ahli takwil mimpi, maka pelayan inilah yang menyebutkan nama Yusuf kepada Raja.

Punya Kesempatan Balas Dendam Saat Berkuasa

Dan Yusuf tidak hanya memberi takwil atas mimpi itu, namun Yusuf juga memberi solusi untuk masalah itu. Bahkan solusi itu jauh sebelum terjadinya masa krisis pangan itu. Karena itu pulalah Yusuf diangkat menjadi Menteri bidang pangan dan perekonomian.

Lalu tibalah masanya ketika 11 saudara Yusuf meminta bantuan jatah bahan makanan ke istana. Yusuf mengenali saudara-saudaranya tapi mereka tidak mengenali lagi Yusuf. Saat itulah momen yang tepat jika Yusuf ingin membalas dendam atas kejahatan saudara-saudaranya itu. Tapi Nabi Yusuf memaafkan si zalim.

Namun justru Yusuf memaafkan mereka dan malah menyalahkan Syetan sebagai penyebab keretakan persaudaraan itu. “Mereka berkata, ‘Apakkah engkau benar Yusuf?’ Ia menjawab, ‘Aku Yusuf dan ini saudaraku (Bunyamin). Sesungguhnya Allah telah melimpahkan karuniaNya kepada kami. Siapa saja yang bertakwa dan bersabar, maka sungguh, Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik’” (QS. Yusuf 90). Inilah kisah Nabi Yusuf memaafkan si zalim.

“Saudara-saudaranya berkata, ‘Demi Allah, sungguh Allah telah melebihkan engkau di atas kami, dan sesungguhnya kami adalah orang yang bersalah (berdosa)’” (QS. Yusuf 91).

Tidak Mau Mencela Saudara-saudara yang Bersalah

“Yusuf menjawab, ‘Pada hari ini tak ada celaan atas kalian, mudah-mudahan Allah mengampuni kalian. Dan Dia Penyayang di antara para penyayang’” (QS. Yusuf 92). Inilah Kisah Nabi Yusuf memaafkan orang yang zalim kepadanya. Nabi Yusuf justru mendoakan ampunan kepada kakak-kakaknya yang dulu mencelakakannya.

Momen pertemuan dengan para saudaranya itu hanya dipergunakan Yusuf satu saja: bagaimana Yusuf bisa bertemu sang ayah setelah puluhan tahun terpisah. Dan bagaimana agar ayahnya percaya kepada anak-anak mereka bahwa Yusuf masih hidup dan sudah jadi menteri di Mesir.

Saat bertemu ayahnya itulah kemudian Nabi Yusuf mengatakan bahwa syetanlah yang sebab kerusakan hubungan persaudaraan mereka. Nabi Yusuf tidak menyalahkan saudara-saudaranya itu. Nabi Yusuf memaafkan orang yang zalim kepadanya. Dan sebenarnya Nabi Yusuf sangat punya peluang besar untuk membalaskan dendam. Tapi tidak dilakukannya. Inilah kisah Nabi Yusuf memaafkan si zalim.

Tidak Menyalahkan Saudaranya yang Membuangnya, Malah Menyalahkan Syetan

Begitu ayah dan ibunya tiba di istana Mesir, Yusuf mempersilakannya. “Dan Yusuf menaikkan kedua tuanya ke singgasana dan mereka (semua) tunduk sujud padanya (Yusuf). Dan Yusuf berkata, “Wahai ayahku, inilah takwil mimpiku yang dahulu itu. Dan sesungguhnya Tuhanku telah menjadikannya kenyataan. Sesungguhnya Tuhanku telah berbuat baik kepadaku, ketika Dia membebaskan aku dari penjara dan ketika membawamu ke dusun, setelah syetan telah merusak (hubungan) antara aku dan saudara-saudaraku. Sungguh Tuhanku Mahalembut terhadap apa yang Dia kehendaki. Sungguh Dia Maha Mengetahui, Mahabijaksana’” (QS. Yusuf 100).

Bagaimana kisah Nabi Yusuf memaafkan si zalim. Bisa saja Nabi Yusuf membalas perbuatan itu di saat ia berkuasa. Namun Nabi Yusuf justru memaafkan saudara-saudaranya itu.   

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *