ulama menuntut ilmu kitab

Kisah inspiratif ulama menuntut ilmu sangatlah banyak. Kita bisa meneliti kisah perjalanan Imam Bukhari  dan Imam Ath Thabari. Kedua ulama besar ini punya semangat menuntut ilmu yang menakjubkan. Keduanya telah mengisi hari-harinya dengan belajar dan belajar. Inilah dua ulama yang telah melakukan perjuangan dalam menuntut ilmu. Inilah kisah inspiratif ulama menuntut ilmu.

Kita mulai dari kisah inpsiratif ulama menuntut ilmu dari kisah hidup Imam Bukhari. Ia lahir dengan nama Muhammad bin Ismail bin Ibrahim bin Al Mughirah bin Bardizbah Al Ju’fi Al Bukhari. Nama Al Bukhari diambil dari nama kota asal lahirnya: Bukhara, kini masuk wilayah Uzbekistan.

Imam Bukhari lahir pada 13 Syawal 194 H (21 Juli 810 M). Ayahnya meninggal dunia ketika Imam Bukhari berusia dua tahun. Di usia itu, Imam Bukhari mengalami kebutaan.

Meski mengalami kecatatan, semangat belajar sangat tinggi. Kecerdasannya dan hafalannya sangat kuat. Salah satu hikmah di balik penglihatannya yang buta itu, Allah Swt. menganugerahkan mata batin yang peka dan ingatan yang sangat kuat. Inilah kisah inspiratif ulama menuntut ilmu. Baca juga Habib Rizieq, kisah ulama Indonesia yang dapat beasiswa dan meraih predikat cumlaude di Rab Saudi waktu mudanya.

Kisah Inspiratif Ulama Menuntut Ilmu, Meski Buta Tetap Belajar

Ketika usia empat tahun, Imam Bukhari sudah menuntut ilmu ke seorang ulama. Saat itu, Imam Bukhari murid paling muda di antara para murid lainnya. Namun justru Imam Bukhari menjadi murid paling cerdas meski paling kecil dan buta.

Dalam suatu pelajaran, sang guru membacakan Al Quran surat Qaaf di hadapan seluruh muridnya agar dihafalkan mereka semuanya. Saat itu itu juga, sang guru bertanya siapa di antara mereka yang sudah hafal. Tak ada yang hafal kecuali Imam Bukhari. Ia mengangkatkan tangannya tanda sudah hafal. Inilah kisah inspiratif ulama menuntut ilmu.

Lalu Imam Bukhari dipanggil ke depan dan diminta mengulang surat Qaaf itu. Tak hanya hafal seluruh ayat surat Qaaf, Imam Bukhari bahkan bisa menirukan persis nada dan intonasi persis seperti yang dilafalkan sang guru. Seketika itu sang guru terharu lalu bepesan padanya, “Wahai muridku, mulai sekarang pelajarilah hadits-hadits Nabi.”

Kisah Imam Bukhari Menuntut Ilmu, Kuat Hafalannya

Sang guru memandang Imam Bukhari pasti mampu menghafalkan Alquran dalam waktu yang singkat. Belajar Alquran bukan lagi jadi tantangan bagi Imam Bukhari. Maka, sang guru memintanya belajar hadits-hadits Nabi sebagai tantangan baru bagi Imam Bukhari.

Sang guru menyadari bahwa menghafalkan Alquran itu sudah dijamin akan diberi kemudahan oleh Allah. Inilah jaminan Allah. “Dan sungguh Kami mudahkan Alquran untuk diingat (sebagai pelajaran), maka adakah orang yang mengambilnya sebagai pelajaran?” Ini terjemahan dari surat Al Qamar ayat 17, 22, 32 dan 40. Allah sampai mengulang ayat ini empat kali sebagai bentuk jaminan bahwa Alquran benar-benar mudah dihafalkan dan diingat-ingat.

Karena itulah, sang guru segera memberi tantangan baru bagi Imam Bukhari untuk belajar hadits-hadits Nabi. Karena tidak ada jaminan dari Allah tentang pelajaran hadits ini. Namun bakat dan kecerdasan Imam Bukhari ini, membuat gurunya yakin Imam Bukhari mampu menguasai ilmu hadits.

Ibu Imam Bukhari Terus Berdoa Agar Sembuh

Kemudian Imam Bukhari pulang dan melaporkan hal ini kepada ibunya. Imam Bukhari bilang, “Ibu, saya ingin belajar hadits. Begitu kata guruku tadi.” Sang ibu awalnya khawatir dengan keadaannya yang buta. Ibunya hanya ingin Imam Bukhari belajar Alquran saja, karena keterbatasan fisiknya itu belum tentu anaknya itu mampu mempelajari Alquran dan hadits sekaligus. Inilah kisah inspiratif ulama menuntut ilmu.

Tapi besarnya semangat Imam Bukhari membuat ibunya luluh. Lalu ibunya masuk kamarnya seraya sholat sunnah dan berdoa dengan sungguh-sungguh. Ibunda Imam Bukhari berdoa Yal Bashir, yalladzi ala kulli syaiin qadiir, ‘Ya Allah yang Maha Menatap dengan tajam sampai kedalaman hati manusia, Yang tiada batas dalam kekuasaanMu. Mohon kembalikan penglihatan anak hamba.’

Imam Bukhari sejak usia 16 tahun sudah melakukan perjalanan ribuan kilometer dari kampung halamannya. Dari Bukhara ke Iraq (kota Bashrah dan Kufah), Mesir, Syam (kini Palestina & Suriah), dan Mekah Madinah.

Ibunya terus berdoa. Sedangkan Imam Bukhari di ruangan lain sedang mengulang-ulang bacaan surat Qaaf tadi. Ketika ibunya terus mengulang Ya Bashir, salah satu asma Allah yang maknanya Yang Maha Melihat, dan bersamaan dengan itu Imam Bukhari sedang melafalkan ayat ke-22 surat Qaaf.

“Sesungguhnya kamu dalam keadaan lalai dalam dari (hal) ini, maka kami singkapkan tutup (yang menutupi) matamu, maka penglihatanmu hari ini sangat tajam,” (QS. Qaaf 22).

Ayat Untuk Akhirat, Terkabul Di Dunia

Ayat itu sebenarnya terjadi di akhirat nanti, tapi Allah Swt ciptakan kejadian itu di dunia pada Imam Bukhari. Saat ibunya menyebut Al Bashir (Yang Maha Melihat), dan saat yang bersamaan Imam Bukhari membaca fa basharukal yauma hadiid ‘Maka penglihatanmu hari ini menjadi jelas/tajam.’

Saat itulah, penglihatan Imam Bukhari telah pulih dan bisa melihat kembali. Imam Bukhari kaget dan memanggil ibunya. Imam Bukhari memberitahu kembalinya penglihatnnya lalu keduanya pun menangis sambil berpelukan. Sejak saat itu Imam Bukhari makin bersemangat menuntut ilmu, khususnya ilmu hadits. Inilah kisah inspiratif ulama menuntut ilmu.

Kisah inspirarif ulama menuntut ilmu dari Imam Bukhari ini yang paling luar biasa adalah perjuangannya mencari ilmu. Imam Bukhari lahir dan tumbuh di kota Bukhara. Kini masuk negara Uzbekistan. Negara ini berbatasan dengan Afganistan di sisi selatan dan Kazakhstan & Rusia di utara.

Dari Uzbekistan/Rusia, Menuntut Ilmu Ke Iraq dan Arab Saudi


Imam Bukhari sejak usia 16 tahun sudah melakukan perjalanan ribuan kilometer dari kampung halamannya. Dari Bukhara ke Iraq (kota Bashrah dan Kufah), Mesir, Syam (kini Palestina & Suriah), dan Mekah Madinah. Inilah kisah inspiratif ulama menuntut ilmu.

Di masa itu, kendaaraan hanyalah kuda atau unta saja. Tentu perjalanan melintasi ribuan kilometer itu membutuhkan waktu berbulan-bulan sekali berangkat. Tentu tak banyak hotel atau penginapan yang nyaman di zaman itu. Maka harus membawa bekal untuk berkemah atau berhenti saat malam hari atau di tengah padang pasir atau di tengah hutan. Inilah kisah inspiratif ulama menuntut ilmu.

Belum lagi banyak perompak atau penyamun di masa itu. Keamanan tidak seperti sekarang yang tiap kota dan negara dijaga polisi dan tentara di tengah kota maupun perbatasan antarnegara. Sangat banyak rintangan untuk menuntut ilmu. Inilah kisah inspiratif ulama menuntut ilmu.

Kisah Inspiratif Ulama Menuntut Ilmu, Bukhari Belajar Ke 1.080 Guru 

Namun itu semua bukan halangan bagi Imam Bukhari. Imam Bukhari banyak mengunjungi para guru hadits dan para periwayat hadits. Imam Bukhari telah berguru dan bertemu dengan 1.080 guru ahli hadits. Inilah kisah inspiratif ulama menuntut ilmu.

Selama 16 tahun lamanya, Imam Bukhari telah mengumpulkan 1 juta hadits dari 80 ribu periwayat hadits kemudian menyaringnya menjadi 600 ribu hadits. Yang dihafal Imam Bukhari mencapai 300 ribu hadits. Sekitar 100 ribu di antaranya hadits tidak shahih.  

Setelah melalui proses penelitian yang ketat, Imam Bukhari menuliskan di kitab hadits Shahih-nya sebanyak 7.275. Inilah yang kemudian jadi kitab paling valid setelah Alquran dan jadi kitab hadist rujukan utama hingga kini. Inilah kisah inspiratif ulama menuntut ilmu.

Selain Imam Bukhari, ada lagi kisah inspiratif ulama menuntut ilmu. Salah satunya Ibnu Jarir Ath Thabari. Nama aslinya Muhammad bin Jarir bin Yazid bin Katsir bin Ghalib al Amali al Thabari. Ia dikenal dengan panggilan Imam Ath Thabari atau Imam Ibnu Jarir Ath Thabari.

Imam Ath Thabari Menuntut Ilmu Dari Iran Ke Mesir dan India

Imam Ath Thabari lahir di 224 H atau 838 Masehi di kota Tabaristan (kini wilayah utara Iran). Imam Ath Thabari dikenal sebagai bapak sejarah Islam. Imam Ath Thabari juga dikenal sebagai penulis kitab tafsir Alquran.

Imam Ath Thabari juga telah merantau ke negeri yang jauh untuk menuntut ilmu. Imam Ath Thabari sudah menuntut ilmu ke Basrah, Baghdad (keduanya di negara Iraq), Syam (kini Suriah, Lebanon dan Palestina), Mesir dan juga India. Imam Ath Thabari pernah tinggal di Hijaz (Mekah & Madinah) tapi tidak lama. Hanya untuk melaksanakan haji dan umrah. Kemudian Imam Ath Thabari kembali ke Baghdad. Inilah kisah inspiratif ulama menuntut ilmu.  

Selain semangatnya menuntut ilmu, Imam Ath Thabari juga sangat produktif menulis. Karya Imam Ath Thabari yang masyhur antara lain Tarikh ar rusul wal muluk (Sejarah para rasul dan para raja) dan Tafsir Ath Thabari.      

Mau Menulis Kitab Setebal 50 Ribu Halaman

Suatu kali Imam Ath Thabari hendak menulis buku/kitab sejarah sejak zaman Nabi Adam hingga masa hidup Imam Ath Thabari. Sebelum menulisnya, Imam Ath Thabari memberi tantangan kepada murid-muridnya agar ikut membantunya menulis kitab Tarikh ar rusul wal muluk (Sejarah para rasul dan para raja) dan Tafsir Ath Thabari. Kitab tafsir ini judul aslinya Jami al bayan fi ta’wil al quran. Inilah kisah inspiratif ulama menuntut ilmu dan aktif menulis kitab.

Para muridnya bertanya, “Berapa halaman yang hendak Anda tulis wahai Imam?” Imam Ath Thabari menjawab, “Saya akan menuliskannya hingga 50 ribu atau 100 ribu halaman.” Para muridnya kaget dan menjawab, “Umur kita tak akan sampai selama itu.” Ada pula yang menjawab, “Siapakah gerangan yang akan menbaca kitab setebal itu?” Maka kemudian, Imam Ath Thabari menuliskannya ‘hanya’ 3 ribu halaman. Inilah kisah inspiratif ulama menuntut ilmu dan aktif menulis kitab.

Hal yang sama Imam Ath Thabari lakukan ketika hendak menulis kitab tafsir Alquran. Imam Ath Thabari bermaksud menulis kitab tafsir Alquran yang berisi dari banyak sumber dan dimasukkan semuanya ke dalam satu judul kitab, dengan jumlah 30 jilid besar.

Awalnya Mau 50 Ribu Lalu ‘Hanya’ 3 Ribu Halaman

Lagi-lagi Imam Ath Thabari menulis sampai 30 ribu halaman. Para muridnya bertanya, “Berapa halaman yang hendak Anda tulis wahai Imam?” Imam Ath Thabari menjawab, “Saya akan menuliskannya hingga 50 ribu atau 100 ribu halaman.” Para muridnya kaget dan menjawab, “Umur kita tak akan sampai selama itu.” Ada pula yang menjawab, “Siapakah gerangan yang akan menbaca kitab setebal itu?”

Maka kemudian, Imam Ath Thabari menuliskannya ‘hanya’ 3 ribu halaman. Dan mendiktekan kepada para muridnya hingga 7 tahun lamanya. Itulah salah satu kisah inspiratif ulama menuntut ilmu. Kitab Tafsir Alquran Tafsir Ath Thabari ini  terdiri dari 26 jilid besar sedangkan kitab tarikh/sejarah Imam Ath Thabari sebanyak 12 jilid. Inilah kisah inspiratif ulama menuntut ilmu dan aktif menulis kitab.

Kitab ini Kitab Tafsir Alquran Tafsir Ath Thabari ini memuat sangat detil dan sangat lengkap dari banyak sumber tafsir dari tiga zaman utama. Yaitu dari tafsiran nabi Muhammad, tafsiran para sahabat nabi, tafsiran para Tabiin (orang yang bertemu sahabat nabi tapi tapi tidak bertemu nabi), dan zaman Tabiit tabiin (generasi setelah Tabiin).

Kisah Inspiratif Ulama Menuntut Ilmu, Setiap Hari Menulis 40 Halaman

Karena itu, Imam Ath Thabari mendapat julukan: marja’ul maraji (sumbernya sumber rujukan). Tafsir Alquran Tafsir Ath Thabari ini juga disebut induknya kitab tafsir Alquran. Inilah kisah inspiratif ulama menuntut ilmu dan bagaimana ulama sangat produktif menulis.  

Menurut beberapa murid Imam Ath Thabari yang juga ulama, menceritakan bahwa Imam Ath Thabari menulis kitab setebal 40 halaman tiap harinya, selama 40 tahun lamanya. Inilah ulama-ulama yang menulis kitab-kitab penting dalam khazanah Islam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *