kisah hijrah umar bin khattab masjid nabawi madinah

Kisah hijrah Umar bin Khattab merupakan bukti nyata betap sosok Umar memang luar biasa. Dalam sejarah perjuangan Nabi Muhammad saw, hijrah punya banyak hikmah.

Di antara hikmah hijrah antara lain inilah bukti ketaatan kepada Allah. Bahwa inilah inti dari ajaran Islam: ketaatan dan ketundukan. Islam punya arti harfiah: tunduk atau patuh. Maksudnya tunduk pada aturan Allah dan petunjuk ilahi.

Dan salah satu perintah ketaatan kaum muslimin saat itu adalah hijrah. Dan hijrah ini sudah ditentukan mahjar-nya. Yakni tujuan tempat hijrahnya. Jadi tidak sembarang hijrah. Tidak asal pindah. Tempat dan targetnya sudah ditetapkan Allah.

Kisah Hijrah Umar bin Khattab, Inilah Sebab Madinah Jadi Tujuan

Hijrah bukan sekadar pindah, bukan asal meninggalkan Kota Mekkah. Pemilihan kota Madinah mengandung banyak aspek pendukung. Ada aspek penerimaaan, kekerabatan, dukungan dan kewilayahan.

Sebelum Nabi hijrah pada tahun ke-13 kenabian, sebagian orang Madinah (dulunya bernama kota Yatsrib) sudah mendengar kabar kenabian. Pada tahun ke-11 kenabian, ada enam penduduk Madinah yang berhaji ke Mekkah.

Bisa jadi sosok yang sangar di masa jahiliyah lalu hijrah menjadi pembela paling gigih di jalan kebenaran. Tugas kita hanya mendoakan hidayah kepada mereka

Meskipun masih mengamalkan ajaran Nabi Ibrahim, orang Arab masih menyakini patung-patung sebagai perantara ibadah kepada Allah. Jadi ibadah haji pun dipenuhi kemusyrikan. Ada 360 patung digantung di Kabah saat itu.

Ada pula berhala besar di bukit Shofa dan Marwa. Jadi dulunya mereka manasik Sai dengan mengusap dua berhala itu ketika di kedua bukit itu selama Sai.

Unik, Beginilah Orang-orang Madinah Yang Penasaran Sebelum Hijrah

Enam penduduk Madinah itu pun ditemui Nabi dan berdiskusi tentang Islam. Setelah jelas tentang Islam, salah satunya berkata kepada rekannya, “Demi Allah, kalian telah tahu dia benar-benar seorang nabi, seperti yang sering diucapkan orang Yahudi. Janganlah sampai mereka mendahului kalian. Karena itu, segeralah memenuhi seruannya dan masuklah Islam.”

Keenam pemuda terbaik Madinah itu  masuk Islam. Lalu tahun haji berikutnya, jumlah mereka bertambah menjadi 12 orang. Dan semuanya menerima Islam secara diam-diam dan berjanji untuk setia.

Inilah yang disebut Baiatul Aqabah pertama (Baiat Aqabah). Karena tempatnya di Bukit Aqabah Mekkah. Puncaknya, pada tahun ke-13 jumlah mereka menjadi 73 orang. Dan semuanya bersyahadat dan berjanji yang sama. Ini disebut Baiat Aqabah Kedua.

Jadi, sebelum hijrah pada Muharram tahun ke-13 kenabian, tokoh-tokoh Madinah sudah menerima Islam. Sejak Baiat Aqabah Kedua, Nabi mengutus sahabat Mushab bin Umair sebagai dai ke Madinah. Harapannya, agar lebih banyak lagi penduduk Madinah yang sudah menerima Islam sebelum hijrah.

Sehingga ketika Nabi dan kaum muslimin hijrah, Madinah sudah sangat kondusif.

Jarang Diungkap, Ternyata Madinah Itu Asal Usul Nabi

Selain itu, sejatinya leluhur Abdul Muthalib berasal dari Madinah. Ibu Abdul Muthalib yang bernama Salma binti Amru, wanita dari Bani Adi bin An Najjar, Yastrib (sebelum diganti nama Madinah).

Hasyim bin Abdu Manaf adalah kakek buyut Nabi Muhammad. Dia menikahi Salma di Madinah. Lalu lahirlah anak-anaknya di antaranya Abdul Muthalib, kakek Nabi.   

Sejatinya, penduduk Madinah terhitung masih paman, bibi, dan para sepupu Nabi Muhammad. Hubungan kekerabatan ini makin indah dalam balutan keimanan. (Baca juga: Madinah Nyaris Hancur Jika Tak Ada Ide Cemerlang)

Ketika perintah hijrah sudah turun, maka Nabi dan kaum muslimin di Mekkah mempersiapkan diri. Karena orang-orang kafir Mekkah pasti menghadang. Mereka tak rela Islam berkembang di tempat lain. Kalau perlu, Islam dan kaum muslimin dikerdilkan atau bahkan dihabisi.

Semua Yang Hijrah Pasti Dihadang

Sebagian besar kaum muslimin hijrah secara diam-diam, termasuk Nabi Muhammad dan Abu Bakar. Keduanya bahkan harus melintasi jalur perjalanan yang memutar. Tidak lurus langsung ke utara. Harus melintasi perbukitan cadas dan gurun yang panas.

Semua dilakukan demi menghindari kejaran orang kafir Quraisy. Mereka sudah menetapkan bahwa Nabi Muhammad harus dihabisi bagaimana pun caranya. Tidak ada yang boleh lolos.

Mereka sempat mengepung rumah Rasulullah saw. Jangan sampai lolos. “Sesungguhnya mereka membuat tipu daya/rencana, dan Allah akan membalas tipu daya/rencana mereka. Dan Allah adalah Maha Pembuat rencana yang paling sempurna” (QS. Ali Imran 54).

Allah membuat mata mereka mengantuk dan tertidur di malam pengepungan itu. Sehingga Rasulullah saw bisa keluar rumah dan menuju Madinah bersama Abu Bakar.

Tak hanya nabi yang mereka hadang. Semua kaum muslimin pasti mereka halangi untuk hijrah. Ada yang suami istri dan putranya dihadang. Ummu Salamah dan Abu Salamah beserta putra mereka dihalangi.

Tega Banget, Anak dan Istrinya Ditawan & Tak Boleh Hijrah

Ketika Abu Salamah sudah bertekad untuk berangkat hijrah ke Madinah, ia menyiapkan unta tunggangan kemudian membawa serta Ummu Salamah dan anaknya, yaitu: Salamah bin Abi Salamah.

Waktu itu, Ummu Salamah dan anaknya disuruh menaiki unta. Sementara itu, Abu Salamah menuntun kendalinya sambil berjalan kaki. Di jalan, para pemuka Bani Mughirah memergokinya kemudian tidak rela membiarkan Abu Salamah sekeluarga hijrah dengan mulus.

Beberapa orang dari klan Bani Mughirah segera merebut tali kendali unta kemudian memisahkan Abu Salamah dari istri dan anaknya. Sementara itu, Bani Abdul Asad (yang merupakan suku Abu Salamah) menarik anaknya dari ibunya. Jadinya, pada waktu itu ketiganya terpisah dengan sangat menyedihkan.

Abu Salamah dengan penuh kepiluan tetap melanjutkan perjalanan ke Madinah. Sedangkan Ummu Salamah ditahan oleh Bani Mughirah. Sementara anaknya, dibawa pergi oleh Bani Abdul Asad. Sebuah duka yang sangat luar biasa untuk memperjuangkan nilai-nilai luhur yang diyakini oleh Abu Salamah.

Kisah Hijrah Sahabat Nabi, Mereka Merampas Semua Hartanya

Ada lagi kisah hijrah Shuhaib bin Sinan Ar Rumi. Dia adalah sahabat Nabi yang berasal dari Romawi (Eropa). Dia merantau ke jazirah Arab sebelum masa kenabian. Awalnya dia tak punya apa-apa. Setelah berdagang di jazirah Arab, dia meraih banyak untung.

Lalu ketika dia hijrah, dia dihadang kafir. Bakat bisnisnya masih kuat, maka Shuhaib pun bernegosiasi dengan para penghadang.

Orang-orang kafir itu berkata, “Kami tak akan membiarkanmu pergi. Kau datang tak punya apa-apa. Lalu kini kau telah banyak harta lantas mau pergi begitu saja membawa hartamu?”

“Bagaimana jika ku berikan semua hartaku asalkan kalian membiarkan aku pergi?”

Ternyata mereka sepakat dengan tawaran itu. Maka Shuhaib merelakan semua hartaya dirampas sedangkan ia bebas hijrah ke Madinah.

Setelah bertemu Shuhaib, Rasulullah saw berkata, “Perdagangan yang amat menguntungkan wahai Abu Yahya (julukan Shibaib).” Nabi mengulangi kalimat ini di hadapan Shuhaib.

“Wahai Rasulullah, tak ada yang melihat peristiwa ku yang ku alami ini.”

“Jibril telah memberitahu aku.”

Lantas turunlah ayat, “Dan di antara manusia ada yang mengorbankan dirinya karena mencari keridhaan Allah, dan Allah Maha Penyantun kepada hamba-hambaNya” (QS. Al Baqarah 207).

Kisah Hijrah Umar bin Khattab, Mencengangkan Caranya

Namun kisah hijrah Umar bin Khattab sangat berbeda sama sekali dengan Nabi dan para sahabat lainnya. Ketika bersiap hijrah, Umar tidak langsung keluar Mekkah. Dia berjalan ke arah Ka’bah.

Di sekitar Ka’bah terdapat tempat untuk pertemuan tokoh Quraisy. Di sekitar Masjidil Haram dan sumur Zamzam selalu banyak dikerumuni orang. Jika ada sesuatu hal penting, biasanya orang-orang Arab berkumpul di sekitar Ka’bah.

Lantas mendatangi sekumpulan orang-orang Quraisy di sana seraya berkata lantang, “Siapa yang ingin istrinya menjadi janda dan anaknya menjadi yatim, hadanglah aku di ujung kota.”

Orang-orang itu saling pandang saja. Mereka tak berminat berurusan dengan Umar. Dia adalah salah satu pendekar Arab yang hebat, baik selama masa jahiliyah maupun masa Islam. Postur tubuhnya yang tinggi besar dan gagah membuat orang ciut nyalinya menghadapinya.

Orang-orang kafir itu tak punya nyali untuk menghadang Umar. Mereka tak mau cari celaka. Mending membiarkan saja Umar hijrah. (Baca juga: Kisah Umar Mendapat Keajaiban Saat Menjadi Khalifah)   

Yang Lain Berislam Secara Diam-diam, Umar Beda Banget

Ketika Umar masuk Islam, dia punya cara yang sangat berbeda untuk menjelaskan keislamannya. Jika sahabat nabi lainnya masuk Islam dengan diam-diam dan menghindar. Maka Umar langsung berkata sendiri, “Siapa yang paling keras memusuhi Islam?”

Umar teringat dengan sepak terjang Abu Jahal. Maka dia mendatangi rumahnya. Dia ketuk pintu sambil memanggil Abu Jahal. “Selamat datang sahabatku. Kabar apa hari ini?”

“Aku bersaksi tiada tuhan selain Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah rasul Allah.”

“Celakalah kau, pergilah dari sini.” Lantas Abu Jahal menutup pintu rumahnya dengan rasa jengkel.

Jangankan Manusia, Syetan Pun Takut Padanya

Karena itulah Nabi Muhammad menjuluki Umar: Al Faruq (pembeda antara Al Haq dan Al Bathil). Nabi juga mengomentari keberanian Umar. “Jika Umar melintas suatu jalan, maka syetan akan memilih jalan yang lain (untuk menghindari Umar).”

Kisah hijrah Umar bin Khattab ini patut menjadi hikmah bagi kita. Karena bisa jadi sosok yang sangar di masa jahiliyah lalu hijrah menjadi pembela paling gigih di jalan kebenaran.

Tugas kita hanya mendoakan hidayah kepada mereka yang belum hijrah. Seperti doa Nabi, “Ya Allah kokohkanlah Islam dengan orang yang Kau cintai dari dua Umar.”

Maksudnya antara Umar bin Khattab atau Amr bin Hisyam (Abu Jahal). Ternyata Allah memilih Umar bin Khattab. Inilah kisah hijrah Umar bin Khattab.     

 Foto: pixabay

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *