kisah hijrah pegawai bank uang

Ada banyak kisah hijrah pegawai bank yang ingin lepas dari riba. Dua di antaranya dikisahkan oleh El Candra dan Prasetyo Budi Widodo. El Candra sudah bekerja di bank sejak tahun 1993. Pada tahun 2004, ibunya jatuh sakit dan memintanya datang.

Saat itu sang ibu bertanya apakah dia bekerja di tempat yang benar atau tidak. El merasa heran dengan pertanyaan ibunya karena wanita itu sudah tahu jika El sudah lama bekerja di bank.

El kemudian mencari informasi terkait pekerjaannya di bank. Namun, pencariannya cuma di permukaan. El menganggap riba itu hanya sebatas rentenir sehingga dia merasa sudah bekerja di tempat yang benar.

Kisah Hijrah Pegawai Bank, Terngiang Nasihat Ibu

El lantas meyakinkan ibunya bahwa dia bekerja di tempat yang benar. Sang ibu hanya berpesan agar anaknya tersebut tidak menggadaikan akhirat hanya karena dunia. Dua bulan kemudian ibu El meninggal dunia.

Dia lakukan semua itu dengan khusyuk dan ikhlas selama tiga bulan. Semua hal baik dia lakukan semata-mata agar Allah terus memberikan hidayah padanya dan berkenan mengabulkan doanya.

El merasa apa yang dikatakan ibunya dulu adalah pesan terakhirnya sebelum wafat. Setelah itu El menjalani hari-harinya dengan tetap bekerja di bank. Dia bahkan pernah menduduki jabatan tinggi di bank tempatnya bekerja. El mulai melupakan pesan sang ibu. Sejak itu kisah hijrah pegawai bank bernama El Candra bermula.

Hal Aneh Saat Pergi Haji

Kisah hijrah pegawai bank bernama El Candara dimulai setelah dia pergi haji pada tahun 2010. Beberapa kejadian aneh dialaminya selama di Tanah Suci seperti tiba-tiba ada seorang laki-laki yang menanyakan pekerjaannya lalu menjelaskan ayat tentang riba.

Laki-laki ini juga mendapat jawaban yang sama saat menanyakan masalah ini pada Ustadz. El pun kembali mencari informasi apakah memang pekerjaannya di bank terkait riba. Dia juga mencari pembenaran akan apa yang dilakoninya. Namun, El tidak menemukannya.

Jalan satu-satunya adalah keluar dari pekerjaan. Lalu, El mengajukan surat pengunduran diri pada tahun itu juga. Akan tetapi, dia benar-benar keluar dari pekerjaannya tiga tahun kemudian. Inilah salah satu kisah hijrah pegawai bank.

Kisah Hijrah Pegawai Bank, Istri Menentang Keras

Adalah hal yang berat untuk keluar dari tempat bekerja yang telah memberikan kemapanan hidup baginya dan keluarganya. Saat memutuskan hijrah, El pindah ke Yogyakarta.

Anak-anaknya bertanya kenapa mereka pindah. Sementara sang istri menentang keputusannya. El berusaha menjalani semua itu dengan ikhlas dan tetap teguh untuk berhijrah.

Kisah hijrah pegawai bank ini tidak berhenti sampai di situ. El merasa hatinya belum tenang setelah berhijrah. Dia berpikir mungkin ada yang salah dengan hijrahnya.

Setelah ditelusuri, El menyimpulkan bahwa hijrahnya bukan karena Allah. Dia berani hijrah karena merasa sudah punya usaha dan uang, lupa menggantungkan diri dan berharap hanya pada Allah.

Lalu, El mulai meluruskan niatnya dalam berhijrah. Dia lantas termotivasi untuk membentuk komunitas XBank bersama teman-temannya. El mengajak semua orang yang berhubungan dengan riba—seperti mantan pegawai perbankan, koperasi, leasing, finance, asuransi, dan perusahan pembiayaan lainnya yang berhubungan dengan ribawi atau orang yang berniat hijrah- untuk hijrah demi mendapat ridha Allah Swt. (Baca juga: Kisah Masa Kecil Habib Rizieq | Dapat Beasiswa Karena Pintar)

Cobaan Beruntun Menamparnya

Kisah hijrah pegawai bank selanjutnya datang dari Prasetyo. Dia adalah salah satu pegawai bank BUMN. Sudah tujuh tahun Prasetyo bekerja di bank. Pekerjaannya di bank menuntutnya untuk lihai membujuk customer agar mengambil pinjaman di bank dengan bunga sekian persen.

Kisah hijrah pegawai bank asal Purwokerto ini dimulai dengan tamparan keras dari Allah. Padahal Prasetyo merasa dia sudah rajin menjalankan ibadah wajib dan sunnah. Dia harus menanggung hutang salah satu keluarganya yang terancam dipenjara jika tidak dilunasi saat itu juga.

Hanya dalam waktu empat jam hartanya ludes dijual untuk melunasi hutang tersebut. Hartanya yang tersisa hanya rumah dan motor inventaris kantor. Belum genap satu bulan, Allah kembali menegurnya. Anak dan istrinya gantian masuk rumah sakit.

Prasetyo mulai berpikir ada apa ini sebenarnya. Dia merasa sudah menjalankan kewajiban sebagai seorang hamba yang baik, tapi kenapa Allah mengujinya sedemikian hebat. Perenungan tersebut menjadi awal mulai kisah hijrah pegawai bank ini untuk lepas dari riba. (Baca juga: Kisah Inspiratif Anak Broken Home | Tukang Rumput Jadi Aktor Termahal)

Terus Belajar dan Mengaji

Dia mulai mencari tahu dan mengkaji tentang pekerjaannya di bank. Laki-laki ini kemudian menemukan bahwa pekerjaannya di bank terkait dengan riba.

Ada beberapa ayat Al-Qur’an dan hadits yang menjelaskan tentang riba. Dosa riba itu lebih buruk daripada berzina sebanyak 33 kali dan dosa riba yang paling ringan seperti mengenai ibu kandung sendiri. Naudzubillah.

Akan tetapi, sempat terlintas keraguan di hatinya saat akan resign dari pekerjaannya di bank. Sebab, dia masih mempunyai tanggungan hutang KPR dan softloan.

Prasetyo bimbang. Keinginannya untuk hijrah yang kuat beradu dengan ketidakpastian hidupnya ke depan. Akan tetapi, sebuah tausiyah menyadarkannya. Allah akan mengganti dengan sesuatu yang lebih baik saat seseorang meninggalkan sesuatu karena-Nya.

Akhirnya, Prasetyo menjual rumahnya dan memasang iklan di media sosial. Namun, satu bulan berlalu tanpa ada yang tertarik melihat atau menawar rumahnya. (Baca juga: Kisah Hijrah Anak Punk)

Godaan Muncul

Pada Maret 2016 Prasetyo mendapat penghargaan karena menurunkan NPL di tahun 2015 dan mendapat hadiah jalan-jalan ke Bali. Kenaikan grade dan gaji yang lebih tinggi juga menunggunya. Namun, Prasetyo menolak iming-iming tersebut karena takut terjerumus ke dalam dosa yang lebih besar.

Seorang kawan kemudian menyarankannya untuk beribadah dan berdoa lebih giat dibandingkan saat dia ingin diterima bekerja di bank. Prasetyo mencoba istiqomah shalat lima waktu berjamaah di masjid ditambah ibadah sunnah lainnya.

Dia lakukan semua itu dengan khusyuk dan ikhlas selama tiga bulan. Semua hal baik dia lakukan semata-mata agar Allah terus memberikan hidayah padanya dan berkenan mengabulkan doanya. Inilah salah satu kisah hijrah pegawai bank. (Baca juga: Kisah Taubat Anak Punk)

Serasa Mendapat Pertolongan Allah

Doa itu pun terjawab pada Agustus 2016. Seseorang dari Jakarta membeli rumahnya tanpa melihat langsung rumahnya dan tanpa menawar.

Pembeli itu juga mengizinkannya untuk tetap tinggal di rumah itu sampai Prasetyo mendapatkan tempat tinggal baru.

Hutang-hutang Prasetyo pun lunas dengan sedikit sisa uang di tangan. Pada 24 Agustus 2016, Prasetyo mengajukan surat resign dan benar-benar resign pada 1 Oktober 2016. []

Penulis: Mega Anindyawati
Editor: Oki Aryono

Foto: pixabay

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *