Kisah hijrah Nabi ke Yastrib

Kisah hijrah Nabi ke Yastrib merupakan salah satu tonggak penting dalam sejarah Islam. Selama 10 tahun lebih, Nabi Muhammad dan kaum muslimin mendapat pertentangan yang sengit dari penduduk Mekkah.

Bahkan harus mendapat siksaan fisik dan pembunuhan keji. Yasir bersama anak dan istrinya mendapat siksaan itu. Yang kemudian orang kafir tega membunuh Yasir dan istrinya Sumayyah di hadapan Amar.

Bilal juga sering mendapat siksaan. Begitu juga sahabat yang lain seperti Khabab bin Al Art. Penindasan demi penindasan membuat kaum muslimin menghindar. Belum ada perintah melawan saat itu. 

Kisah hijrah Nabi ke Yastrib, Menunggu Belasan Tahun

Lalu ada secercah harapan pada tahun ke-11 kenabian. Ada enam pemuda Yatsrib yang menunaikan ibadah haji di Mekkah. Mereka bertemu nabi secara diam-diam di kemah mereka. Rupanya mereka pernah mendengar ramalan Yahudi tentang nabi akhir zaman.

Tak disangka-sangka, mereka pun tertarik dan menerima Islam. Tahun berikutnya, jumlah orang Yatsrib yang berangkat haji jadi 12 orang pria. Semuanya menerima Islam. Nabi sangat gembira melihat respon mereka ini.

Peristiwa itu terjadi di bukit Aqabah. Karena itulah dinamakan Baiatul Aqabah pertama. Tahun berikutnya, ada 73 orang Yatsrib yang beberapa di antaranya perempuan. Ini disebut Baiatul Aqabah kedua.

Ini Persiapan Menjelang Hijrah Yang Jarang Diketahui

Setelah itu, Nabi Muhammad mengutus Mush’ab bin Umair ikut mereka kembali Yatsrib. Tugasnya adalah mengajarkan Islam kepada warga Yastrib lainnya.

Sehingga, ketika Nabi Muhammad tiba di Yastrib kelak yang berganti nama Madinah, maka sudah banyak penduduk Tak ada rumah di Yastrib yang sudah mengucapkan dua kalimat syahadat kala itu.

Hingga kemudian tibalah bagi Nabi Muhammad dan kaum muslimin di Mekkah untuk hijrah. Mereka siap kehilangan harta benda. Seperti Shuhaib bin Sinan. Sebelum hijrah, dia punya banyak harta. Lalu ia simpan.

Ludes, Seluruh Harta Disita

Saat berangkat hijrah, dia dicegat orang-orang kafir. Mereka tak rela Shuhaib bin Sinan berhijrah. Lalu mereka menawannya. Mereka bersedia melepaskannya jika Shuhaib mau menyerahkan hartanya itu semuanya.

Demi niat suci, Shuhaib menyerahkan semua hartanya itu dan mereka pun membiarkan Shuhaib berangkat ke Madinah. Kisah hijrah Nabi ke Yastrib ini diwarnai pengorbanan harta yang tak sedikit.

Mereka sudah tidak bisa lagi kembali ke kampung halaman lagi. Mereka meninggalkan semuanya itu demi iman dan demi ketaatan kepada Allah dan Rasul.

Tega Banget, Anak dan Istri Ditawan

Ada pula kisah sahabat nabi yang harus kehilangan anak dan istri. Ketika Abu Salamah sudah bertekad untuk berangkat hijrah ke Madinah, ia menyiapkan unta tunggangan kemudian membawa serta Ummu Salamah dan anaknya, yaitu: Salamah bin Abi Salamah.

Waktu itu, Ummu Salamah dan anaknya disuruh menaiki unta. Sementara itu, Abu Salamah menuntun kendalinya sambil berjalan kaki. Di jalan, para pemuka Bani Mughirah memergokinya kemudian tidak rela membiarkan Abu Salamah sekeluarga hijrah dengan mulus.

Beberapa orang dari klan Bani Mughirah segera merebut tali kendali unta kemudian memisahkan Abu Salamah dari istri dan anaknya. Sementara itu, Bani Abdul Asad (yang merupakan suku Abu Salamah) menarik anaknya dari ibunya. Jadinya, pada waktu itu ketiganya terpisah dengan sangat menyedihkan.

Abu Salamah dengan penuh kepiluan tetap melanjutkan perjalanan ke Madinah. Sedangkan Ummu Salamah ditahan oleh Bani Mughirah. Sementara anaknya, dibawa pergi oleh Bani Abdul Asad. Sebuah duka yang sangat luar biasa untuk memperjuangkan nilai-nilai luhur yang diyakini oleh Abu Salamah.

Berbulan-bulan Terpisah  

Setelah setahun terpisah, Bani Mughirah melepaskan Ummu Salamah Juga Bani Abdul Asad melepaskan putranya. Sehingga Ummu Salamah bisa membawa serta anaknya itu menyusul suaminya ke Madinah.

Kisah hijrah Nabi ke Yastrib sendiri merupakan perjalanan yang mencekam dan penuh bahaya. Sejak dari rumah, Nabi Muhammad dikepung. Banyak pendekar Arab mengelilingi rumah nabi di malam hari menjelang hijrah.

Atas izin Allah, ternyata mereka tertidur semuanya. Sehingga Nabi bisa menjemput Abu Bakar lalu meneruskan perjalanan.

Jarang Diungkap, Hijrah Bukan Rute yang Landai Atau Rata

Nabi dan Abu Bakar tidak langsung menuju utara. Karena, Yatsrib memang sebelah utara Mekkah. Namun keduanya menuju barat. Bersembunyi di Gua Tsur. Ini adalah wilayah pegunungan cadas. Sangat sulit dinaiki dan banyak tebing curam.

Bahkan Abu Bakar sempat terluka parah karena disengat hewan berbisa. Lalu nabi meludahi sambil membacakan doa dan Alhamdulillah sakitnya hilang.

Para pendekar Arab terus mengejar Nabi. Mereka mendapat imbalan yang sangat menggiurkan jika bisa menangkap nabi, (Baca juga: Kisah hijrah nabi ke Thaif yang memilukan hati)

Hijrah Ke Yastrib yang Penuh Ancaman

Para tokoh kafir menyediakan 100 ekor unta bagi siapa saja yang mampu menangkap Nabi. Tentu unta merupakan kendaraan paling hebat saat itu. Dan banyak yang tergiur dengan iming-iming itu.

Dan alhamdulillah Abu Bakar dan Nabi Muhammad berhasil mencapai Yastrib dengan selamat. Kemudian kota Yastrib mendapat julukan Madinatun Nabi artinya Kota tempat tinggal Nabi. Atau dinamakan juga Madinah Al Munawarah (Madinah yang menerangi).  

Setelah hijrah ke Madinah, banyak perkembangan terhadap sistem dakwah Islam. Jumlah kaum muslimin mengalami peningkatan yang sangat signifikan.

Kisah hijrah Nabi ke Yastrib, Era Baru dan Nama Baru

Yang ikut hijrah Madinah hanya 200 orang. Sedangkan yang hijrah ke Habasyah hanya 85 orang. Lalu ada 70an orang Madinah yang masuk Islam saat ibadah haji sebelum nabi hijrah. (Baca juga: Kisah hijrah ke Habasyah yang menggetarkan hati raja)

Yastrib pun berganti nama Madinah. Sejak hijrah, ada 300 orang ikut Perang Badar, lalu 1.000an yang ikut Perang Uhud, dan 3.000 yang terlibat dalam Perang Khandaq. Sedangkan yang ikut dalam Fathu Mekkah sekitar 10 ribu orang. Puncaknya 100 ribu orang yang ikut dalam Haji Wada.    

Umat Islam juga sudah mandiri untuk menentukan sikapnya sendiri. Bebas menjalin kerja sama dengan pihak mana pun. Nabi mengutus banyak sahabatnya untuk mengirimkan surat tentang Islam kepada raja-raja. Bahkan kepada Kaisar Romawi maupun Raja Persia.    

Foto: pixabay

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *