kisah hijrah nabi ke thaif pohon anggur

Kisah hijrah nabi ke Thaif merupakan salah satu fase perjuangan beliau yang sangat mengharu biru. Perjalanan dakwah ke Thaif ibarat laju roller coaster. Naik turun berliku.

Ada momen yang menegangkan dan ada mengharukan. Juga ada situasi penuh terror namun juga ada situasi menyentuh hati.

Kisah hijrah nabi ke Thaif ini patut kita ambil hikmahnya bagi siapa saja yang terlibat dalam memperjuangkan ajaran Nabi Muhammad saw. Kita perlu mempelajari pelajaran penting dalam kisah hijrah nabi ke Thaif ini.

Kisah hijrah ke Thaif ini dilatarbelakangi sikap para penduduk Mekkah. Kebanyakan dari mereka enggan menerima dakwah Islam. Bahkan banyak tokoh Mekkah melakukan intimidasi dan kekerasan terhadap kaum muslimin.

Kisah Hijrah Nabi ke Thaif, Karena Mekkah Penuh Teror

Makin hari, intimidasi itu makin keras. Bahkan para pemuka Quraisy kafir tak segan menyiksa orang-orang Islam yang lemah. Mereka tega membunuh Sumayyah dan Ammar di hadapan putranya.

Keduanya adalah ayah ibu sahabat nabi bernama Ammar. Mereka gugur demi mempertahankan keimanannya. Sebelum dibunuh, mereka bertiga disiksa terlebih dahulu secara kejam.

Tak hanya itu, para tokoh Mekkah juga menyiksa kaum lemah seperti Bilal dan Khabab. Kaum muslimin yang masih belum lepas dari perbudakan juga mendapatkan siksaan yang sadis.

Bilal diikat secara terlentang di gurun yang panas lalu ditindih batu besar di dadanya. Bilal hanya merintih Ahad, Ahad. Maksudnya Allahu Ahad ‘Allah yang Mahaesa.’ Tidak tuhan selain Allah.

Keji, Disiksa di atas Paku-paku Panas

Begitu juga Khabab bin Al Arts. Dia disiksa di atas kayu yang dipenuhi paku panas. Tubuh Khabab bagikan daging yang sedang dipanggang. Benar-benar keji.

Melihat hal ini, Nabi Muhammad saw hanya mendoakan kesabaran dan menjanjikan surga kepada para sahabatnya.

Selama 13 tahun berdakwah di Mekkah, Rasulullah dan para sahabat belum diizinkan melakukan perlawanan. Hanya diperintahkan untuk menghindar dan bertahan dalam keimanan apapun risikonya. 

Kerasnya permusuhan ini membuat Nabi Muhammad mulai berpikir untuk keluar dari Mekkah. Beliau berharap penduduk di luar Mekkah bersedia menerima dakwah Islam.

Kisah nabi hijrah ke Thaif, Bukti Thaif Itu Subur

Target pertama adalah penduduk Thaif. Kota ini terletak 100 km ke arah tenggara dari Mekkah. Daerah ini berada di areal pegunungan Sarawat.

Jibril meneruskan, “Allah telah mengutus malaikat penjaga gunung. Agar engkau menyuruhnya menurut kehendakmu.”

Kawasan ini lebih sejuk daripada Mekkah dan Riyadh (ibukota Arab Saudi). Thaif terkenal sebagai wilayah agrikultur yang bagus, khususnya anggur dan madu.

Nabi Muhammad pun punya harapan besar bahwa penduduk Thaif bersedia menerima ajakan Islam. Lalu rasul bertolak menuju Thaif.

Kisah hijrah nabi ke Thaif ternyata tidak sesuai harapan beliau. Ketika mendatangi para pemuka Thaif, Nabi mendapat sambutan yang tidak menyenangkan.

Nabi Kaget, Begini Sambutan Orang Thaif

Banyak warga Thaif menutup pintu-pintu rumah mereka. Mereka tak mau mendengarkan apapun penjelasan dari Rasul. 

Ada yang berkata, “Aku tak sudi berbicara denganmu sama sekali. Jika engkau benar-benar seorang rasul, tentunya engkau lebih berbahaya.” Ada juga menghardik beliau, “Usirlah orang ini dari negeri kita,”   

Tak hanya itu, banyak anak kecil dan orang dewasa mencaki-maki beliau. Bahkan mereka sampai hati melempari nabi dengan batu-batu. Sampai-sampai kaki beliau terkena lemparan batu. Kaki yang manusia mulia itu sampai berdarah-darah.

Rupanya ada provokator yang sebelumnya telah mengembuskan kabar dusta kepada para penduduk Thaif. Ada yang menyebarkan fitnah bahwa Muhammad itu pembawa kabar buruk.

Bahwa Muhammad itu memecah persatuan Arab. Anak dan ayah jadi bermusuhan. Bahwa antara saudara dengan saudara jadi berseberangan. Muhammad itu telah menyimpang dari agama nenek moyang. (Baca juga: Kisah sahabat yang hendak memukul Nabi)

Bikin Mewek, Begini Doa Nabi Ketika Beliau Dikeroyok

Itulah fitnah yang sebarkan beberapa saat sebelum nabi masuk kota Thaif. Kisah nabi hijrah ke Thaif ini tidak sesuai harapan Nabi. Bahkan beliau mengalami luka-luka akibat intimidasi dari warga Thaif.

Dengan penuh rasa sedih dan terluka, Rasulullah saw meninggalkan kota Thaif. Lalu beliau istirahat dan duduk di dekat kebun anggur.

Di situlah Nabi memanjatkan doa yang memilukan. “Ya Allah, kepadaMu saja aku mengadukan kelemahan kekuatanku, kekurangan siasatku, dan kehinaanku di hadapan manusia. Wahai Yang Paling Pengasih di antara para pengasih, Engkau adalah Tuhan orang-orang yang lemah.

“Engkaulah Rabb-ku. Kepada siapa hendak kau serahkan diriku? Kepada orang jauh yang bermuka masam kepadaku ataukah kepada musuh yang akan menguasai urusanku? Aku tak peduli asalkan Engkau tidak murka kepadaku. Sebab, sungguh teramat luas afiat yang Engkau limpahkan kepadaku.”

“Aku berlindung dengan cahaya wajahMu yang menyinari segala kegelapan. Dan karena karenanya, segala urusan dunia dan akhirat menjadi baik. Agar Engkau tidak menurunkan kemarahanMu kepadaku atau murka kepadaku. Engkaulah yang berhak menegurku hingga Engkau ridha. Tiada daya dan kekuatan selain dengan (pertolongan)Mu.”

Hampir Saja Thaif Kena Azab

Dalam riwayat lain, Nabi menceritakan kepulangan beliau dari Thaif dan ada naungan awan di atas beliau. Ternyata itu Jibril seraya berkata, “Sesungguhnya Allah telah mendengar apa yang dikatakan kaumu dan apa yang mereka perbuat terhadapmu.

Jibril meneruskan, “Allah telah mengutus malaikat penjaga gunung. Agar engkau menyuruhnya menurut kehendakmu.”

Kemudian malaikat penjaga Gunung Akhsybaini mengucapkan salam kepada nabi lalu berkata, “Wahai Muhammad, itu sudah terjadi dan kini apa yang kau kehendaki? Jika engkau menghendaki untuk menimpakan Akhsyabaini kepada mereka, maka akan aku lakukan.”

Begini Sikap Nabi Setelah Disakiti Hati Dan Tubuhnya

Nabi yang mulia itu justru berkata, “Bahkan aku berharap kepada Allah agar nantinya bisa lahir keturunan mereka itu menyembah Allah semata dan tidak menyekutukan dengan suatu apapun.”

Sungguh sangat mulia. Beliau tidak mengutuk orang Thaif yang bisa membuat Allah dan para malaikat murka atau menimpakan azab.

Justru nabi mendoakan kebaikan. Beliau optimistis nantinya lahir generasi penerus yang beriman dan membela Islam atas izin Allah. (Baca juga: Bagaimana Nabi mendapat kejutan sepulang dari Thaif)

Dan doa nabi ini terkabul, jauh setelah kejadian itu berlalu. Mereka semuanya kemudian beriman pada masa-masa akhir hayat nabi.

Kisah Hijrah Nabi Ke Thaif, Doa Nabi Yang Terkabul Setelah Puluhan Tahun

Ketika Nabi wafat, banyak orang jazirah Arab yang murtad dan menentang membayar zakat. Justru penduduk Thaif-lah yang tetap taat pada kepemimpinan Abu Bakar.

Bahkan warga Thaif banyak yang ikut berjihad atas perintah Abu Bakar. Mereka ikut membasmi para nabi palsu dan para pengikutnya serta menegakkan kedaulatan Islam yang mulai goyah sepeninggal nabi. Inilah jawaban doa Nabi yang dikabulkan Allah.

Tawaran dan pertolongan dari langit ini melegakan Nabi. Suatu dukungan yang melegakan. Motivasi agar beliau tetap gigih dan telaten berdakwah.

Kisah nabi hijrah ke Thaif ini menyiratkan sejumlah makna: perjuangan, kesabaran, kemaafan, ketabahan, optimisme, keberanian, pengorbanan, kesungguhan, keikhlasan, lapang dada, dan banyak lainnya.

Kisah hijrah nabi ke Thaif ini menjadi pelajaran penting orang beriman. Semoga kita bisa meneladani kisah ini.

Foto: pixabay

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *