kisah hijrah nabi ke madinah

Kisah hijrah Nabi ke Madinah merupakan salah satu momen penting dalam sejarah Islam. Karena itu, Khalifah Umar bin Khattab menetapkan tahun hijrah penanda awal kalender Islam.

Umar mengumpulkan para sahabat terkemuka untuk musyawarah. Pertemuan ini atas usulan Abu Musa Al Asyaari. Saat itu Abu Musa menjabat gubernur di salah satu wilayah Islam.

Kala itu Abu Musa mengeluh banyaknya surat dari khalifah hanya berisi tanggal dan bulan saja, tanpa tahun. Sangat sulit membedakan antara satu surat dengan yang lain

Kisah Hijrah Nabi ke Madinah, Ini Asal Usul Kalender Hijriyah

Dalam musyawarah itu, ada yang usul tahun kelahiran Nabi Muhammad sebagai penanda awal. Ini tidak disepakati para sahabat senior saat itu. Ada juga yang usul tahun nabi menerima wahyu pertama kali. Ini juga tidak menghasilkan mufakat.

Nabi mengutus sahabat Mushab bin Umair sebagai dai ke Madinah.Harapannya, agar lebih banyak lagi penduduk Madinah yang sudah menerima Islam sebelum hijrah.

Lalu Ali bin Abi Thalib usul tahun hijrah. Dan semuanya setuju. Sejak itulah kelender Islam menggunakan sistem hijriyah. Kisah hijrah Nabi ke Madinah ini menjadi tonggak dakwah Islam.

Kisah hijrah Nabi ke Madinah telah membuat banyak perubahan signifikan pada peradaban Islam. Yang dulu serbanya ketakutan mengajarkan Islam, kini lebih leluasa.

Sengsara Membawa Nikmat

Jika sebelumnya selalu dibayangi terror, kini bebas beribadah dan belajar Islam. Selama 13 tahun tak ada kekuatan militer, sejak hijrah di Madinah semua siap membela Islam dari ancaman luar. Dulu diusir, kini disegani para raja.

Bahkan sejak di Madinah pula, Nabi Muhammad selaku pemimpin negara berupaya menjalin diplomasi dengan para raja di negeri-negeri jauh. Agar Islam bisa diterima secara luas, baik oleh sang penguasa maupun rakyatnya.

Pada 13 tahun pertama risalah Islam, Nabi Muhammad dan para sahabat terus mendapat intimidasi, boikot dan bahkan pembunuhan keji. Dan selama itu pula belum ada perintah untuk melawan dengan kekuatan senjata.

Inilah Orang Madinah yang Pertama Kali Masuk Islam

Maka, pada tahun ke-11 mulai ada secercah harapan. Ada enam penduduk Madinah yang berhaji ke Mekkah.

Walaupun masih mengamalkan syariat Nabi Ibrahim, orang Arab masih percaya patung-patung sebagai perantara ibadah kepada Allah. Jadi ibadah haji pun dipenuhi kemusyrikan. Ada 360 patung digantung di Kabah saat itu.

Ada pula berhala besar di bukit Shofa dan Marwa. Jadi dulunya mereka manasik Sai dengan mengusap dua berhala itu ketika di kedua bukit itu selama ibadah Sai.

Enam penduduk Madinah itu pun ditemui Nabi dan berdiskusi tentang Islam. Setelah jelas tentang Islam, salah satunya berkata kepada rekannya, “Demi Allah, kalian telah tahu dia benar-benar seorang nabi, seperti yang sering diucapkan orang Yahudi. Janganlah sampai mereka mendahului kalian. Karena itu, segeralah memenuhi seruannya dan masuklah Islam.”

Keenam pemuda terbaik Madinah itu  masuk Islam. Kisah hijrah Nabi ke Madinah pun dirintis sejak itu.

Enam orang itu terdiri dari Asad bin Zurarah, Auf bin Al Harits, Rafi bin Malik, Quthbah bin Amir, Uqbah bin Amir, dan Jabir bin Abdullah (sumber: Sirah Nabawiyah, Al Mubarakfury, Al Kautsar, hlm 150).  

Jarang Diungkap, Begini Awalnya Orang Madinah Kenal Islam

Lalu tahun haji berikutnya, jumlah mereka bertambah menjadi 12 orang. Dan semuanya menerima Islam secara diam-diam dan berjanji untuk setia.

Inilah yang disebut Baiatul Aqabah pertama (Baiat Aqabah). Karena tempatnya di Bukit Aqabah Mekkah. Puncaknya, pada tahun ke-13 jumlah mereka menjadi 73 orang. Dan semuanya bersyahadat dan berjanji yang sama. Ini disebut Baiat Aqabah Kedua.

Jadi, sebelum hijrah pada Muharram tahun ke-13 kenabian, tokoh-tokoh Madinah sudah menerima Islam. Sejak Baiat Aqabah Kedua, Nabi mengutus sahabat Mushab bin Umair sebagai dai ke Madinah.

Harapannya, agar lebih banyak lagi penduduk Madinah yang sudah menerima Islam sebelum hijrah. Sehingga ketika Nabi dan kaum muslimin hijrah, Madinah sudah sangat kondusif.

Kisah hijrah Nabi ke Madinah pun ditopang persiapan ini.(Baca juga: Nyaris Madinah hancur lebur di Pada Masa Nabi)

Menyedihkan, Sosok Yang Sangat Jujur Kok Mau Dibunuh

Lalu tiba masanya bagi Nabi untuk hijrah. Nabi Muhammad telah mengabarkan kepada Abu Bakar bahwa perintah hijrah telah turun. Nabi meminta Abu Bakar mempersiapkan kebutuhan perjalanan. Kisah hijrah Nabi ke Madinah ini beliau lakukan bersama Abu Bakar.

Nabi Muhammad juga telah mengembalikan semua barang titipan milik orang-orang Mekkah. Jadi, selama ini banyak orang Arab menitipkan dagangannya kepada Nabi Muhammad.

Karena Nabi Muhammad merupakan orang paling jujur di Mekkah. Bahkan orang-orang menjuluki beliau: Al Amin (yang terpercaya). Sungguh suatu julukan paling mulia sepanjang zaman. 

Sehingga orang-orang Arab -baik muslim maupun bukan- merasa nyaman dan aman menitipkan barangnya kepada beliau. Jadi, pertentangan orang-orang Mekkah sejatinya bukanlah mendustakan pribadi beliau. Namun mereka mendustakan ajaran yang beliau bawa.

Allah menyatakan, “Seseungguhnya Kami mengetahui bahwasanya apa yang mereka katakan itu menyakitkan hatimu, (janganlah kamu bersedih hati), karena mereka sebenarnya bukan mendustakanmu akan tetapi orang-orang zalim itu mengingkari ayat-ayat Allah” (QS. Al An’am 33).    

Para pemuka kafir Mekkah mendengar selentingan kabar hijrah Nabi Muhammad ke Madinah. Mereka pun mengumpulkan para pemuda gagah dari tiap kabilah. Mereka diperintahkan untuk mengepung rumah Nabi dan hendak dibunuh

Kisah Hijrah Nabi ke Madinah, Ditaburi Pasir Agar Ngantuk

Nabi pun mengantisipasi upaya pengepungan ini. Karena itu, beliau meminta Ali bin Abi Thalib menggantikan beliau di ranjang beliau sambil berselimut.

Lalu tengah malam, nabi keluar rumah sambil membaca ayat, “Dan Kami jadikan di hadapan mereka dinding dan di belakang mereka juga dinding. Dan Kami tutup (mata) mereka sehingga mereka tidak dapat melihat” (QS. Yasin 9).

Kemudian nabi menaburkan pasir di atas kepala mereka. Mereka pun tertidur dengan pulas. Sehingga Nabi Muhammad berhasil keluar Mekkah ditemani Abu Bakar.

Kisah hijrah Nabi ke Madinah pun tercatat sejak itu. (Baca juga: Kisah hijrah Umar yang Antimainstream)  

Foto: pixabay    

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *