kisah hijrah nabi bersama abu bakar mekkah

Kisah hijrah nabi bersama Abu Bakar merupakan momen penuh hikmah dan makna bagi kaum muslimin. Kisah ini salah satu momen paling mengharukan dan menginspirasi bagi banyak orang.

Sosok Nabi Muhammad yang berakhlak mulia dan terpercaya harus terusir dari negerinya sendiri. Harus meninggalkan tanah kelahirannya karena permusuhan dan ancaman pembunuhan dari kaumnya sendiri yang selama ini mempercayainya.

Lahir dari keluarga terpandang di Mekkah, Nabi Muhammad tumbuh dengan pribadi yang menawan. Banyak yang suka dengan kejujuran dan keluhuran budi beliau. Sampai akhirnya, tibalah tugas kenabian.

Kisah Hijrah Nabi Bersama Abu Bakar, Belasan Tahun Disiksa

Sejak menyebarkan Islam, penduduk Mekkah terbelah menjadi dua kelompok. Ada yang mengikuti ajarannya da nada yang memusuhinya.

Dalam semakin lama, permusuhan itu makin keras. Tak hanya terror mental, makin lama para penentang melakukan siksaan dan bahkan pembunuhan secara keji.      

Hal ini membuat Nabi sangat risau. Betapa ajaran yang mulia ini malah dimusuhi habis-habisan. Sesungguhnya Nabi Muhammad sangat berharap mereka mau beriman. Nyatanya mereka makin hari keras menentang.

Dalam suatu ayat, Allah menegaskan, “Seseungguhnya Kami mengetahui bahwasanya apa yang mereka katakan itu menyakitkan hatimu, (janganlah kamu bersedih hati), karena mereka sebenarnya bukan mendustakanmu akan tetapi orang-orang zalim itu mengingkari ayat-ayat Allah” (QS. Al An’am 33).

Setelah 13 tahun menyebarkan Islam di Mekkah, akhirnya ada harapan besar dari Madinah. Penduduk kota yang dulunya bernama Yatsrib ini sangat antusias menyambut ajaran Nabi Muhammad.

Rahasia Sukses Hijrah Nabi Yang Jarang Diungkap

Pada tahun ke-14 bulan Shafar, Nabi Muhammad dan para sahabatnya hijrah ke Mekkah. Namun, dalam penanggalan Islam, pada masa Khalifah Umar bin Khattab, tahun hijrah dipakai sebagai awal. Namun bulan pertama tetap Muharram sebagaimana kebiasaan orang Arab.  

Kisah hijrah nabi bersama Abu Bakar pun bermula sejak itu. Dan Nabi memilih Abu Bakar sebagai pendamping hijrahnya.

Sejumlah persiapan dilakukan, baik oleh Abu Bakar maupun oleh Nabi sendiri. Abu Bakar telah membagi tugas kepada kedua anaknya. Ia juga memberi tugas kepada salah satu pembantunya. Asma binti Abu Bakar mendapat tugas sebagai pembawa bekal makanan.

Lalu Abdullah bin Abu Bakar bertugas mencari info di tengah kota Mekkah. Abdullah mendapat peran sebagai mata-mata. Apa saja manuver kafir Quraisy akan dillaporkannya ke ayahnya.

Ketika berjalan menuju Madinah, Rasulullah dan Abu Bakar tidak melalui jalur utama. Tidak langsung berjalan ke utara. Melainkan ke arah barat, searah Laut Merah. (Baca juga: Bagaimana Malaikat Hampir Saja Menghancurkan Kaum Yang Melukai Nabi Muhammad)

Hikmah Hijrah, Tips Hidup Ala Nabi Agar Sukses Jalani Hidup

Lalu Nabi dan Abu Bakar bersembunyi di Gua Tsur. Gua ini berada di atas pegunungan batu cadas.

Selama dalam persembunyian inilah tugas Asma dan Abdullah sangat penting. Asma harus naik turun gunung. Sangat sulit untuk bisa naik ke sana.

Para jamaah haji atau umroh saat ini harus berjalan dengan penuh hati-hati agar tidak tergelincir ke tebing yang keras dan penuh bebatuan. Butuh waktu sekitar satu jam menaiki gunung agar sampai ke Gua Tsur.

Jadi naik turun butuh waktu dua jam dengan medan yang curam dan berbatu tajam. Begitulah perjuangan Asma membantu dua orang mulia itu. Kisah hijrah Nabi dan Abu Bakar ini memang penuh perjuangan. (Baca juga: Kisah hijrah sahabat nabi yang terpisah berbulan-bulan dari anak dan istri)

Tokoh-tokoh Penting yang Membantu dalam Kisah Nabi Hijrah bersama Abu Bakar

Begitulah tugas Asma selama beberapa hari. Bahkan dia harus merobek sebagian kerudungnya agar bisa jadi pengikat bekal makanan bagi ayahnya dan Nabi.

Karena itulah Asma mendapat julukan Dzatin Niqathain (pemilik dua ikat pinggang).

Sedangkan Amir bin Fuhairah mendapat tugas sebagai penggembala domba. Nantinya domba-domba itu menghapus jejak Nabi dan Abu Bakar dan siapa saja yang berkunjung ke Gua Tsur.

Menggiurkan, Ini Imbalan Jika Ada yang Bisa Menangkap Nabi

Karena orang kafir telah mengerahkan banyak pemuda hebat untuk memburu dan membunuh nabi. Dan mereka ahli dalam melacak jejak dan hebat dalam bertarung. Mereka dihadiahi 100 ekor unta jika berhasil menangkap Nabi.

Perjuangan Abu Bakar tak kalah inspiratifnya. Ketika masuk ke Gua Tsur yang agak sempit, Abu Bakar membersihkan agar bisa dijadikan tempat istirahat. Setelah bersih, keduanya istirahat di dalamnya.

Ketika istirahat, Abu Bakar tersengat hewan berbisa. Tapi ia tak ingin Nabi terbangun. Abu Bakar hanya menahan perih. Tak terasa menetes air matanya saking sakitnya.

Air matanya mengenai wajah nabi lalu beliau bertanya, “Apa yang sedang terjadi?”

“Aku tersengat hewan.”

Lalu Rasul berdoa dan kemudian meludahi bagian yang tersengat hingga berangsur hilang sakitnya. Keesokan harinya banyak pemuda kafir yang menjelajahi Gunung Tsur.

Kisah Hijrah Nabi bersama Abu Bakar yang Mencekam

Jika mereka melongok ke mulut gua, pastilah mereka akan menemukan keduanya. Namun Allah memberi pertolongan. Mulut gua dipenuhi jaring laba-laba dan sarang burung dengan beberapa telurnya di situ.

Orang-orang kafir itu menyangka gua itu kosong. Karena mustahil ada manusia jika mulut guanya dipenuhi jaring laba-laba dan sarang burung.

Di momen itu, Abu Bakar sangat cemas. Ia berbisik kepada Nabi, “Wahai Nabi, jika mereka melongokkan kepala, pasti mereka melihat kita.”

Nabi berkata, “Apa perkiraanmu tentang dua orang sedangkan yang ketiga adalah Allah?”

Kisah hijrah Nabi bersama Abu Bakar ini memang sangat mengharukan. Dalam perjalanan berikutnya, Abu Bakar dan Nabi mendapat bantuan berupa unta.

Cerdik, Siasat Abu Bakar Agar Aman Melintasi Perkampungan

Keduanya berboncengan. Nabi duduk di depan Abu Bakar. Di sejumlah desa yang dilalui, banyak orang yang kenal baik dengan Abu Bakar.

Usia Abu Bakar lebih sepuh daripada Nabi sehingga ia lebih dikenal di desa-desa itu. Sedangkan tak banyak yang kenal dengan Rasulullah saw saat itu.

Banyak di antara mereka menyapa Abu Bakar dan bertanya. “Siapakah yang di depanmu itu?” Maka Abu Bakar menjawab, “Ia yang menunjukkan jalan kepadaku.” Orang-orang mengira penunjuk perjalanan, padahal maksud Abu Bakar adalah jalan kebenaran.

Kisah hijrah Nabi bersama Abu Bakar sarat hikmah. Bahwa dalam perjuangan selalu ada usaha hijrah. Bisa hijrah secara tempat, secara mental, secara karakter, secara iman hingga secara akhlak.

Foto: pixabay  

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *