Kisah hijrah ke Habasyah gurun afrika

Kisah hijrah ke Habasyah merupakan salah satu catatan penting dalam sejarah perjuangan Nabi Muhammad dan para sahabatnya. Menerima Islam dan menyebarkannya harus siap menerima risiko permusuhan dari pengusung kebatilan.

Di awal mendapat wahyu dari Allah melalui Jibril, Nabi Muhammad dan Khadijah pernah curhat kepada Waraqah bin Naufal. Dia adalah sepupu Khadijah. Dia menganut agama terdahulu. Menurut suatu riwayat, Waraqah menganut agama Nabi Isa.

Ada pula catatan sejarah yang mengatakan Waraqah adalah penganut Nasrani. Dia diyakini mampu membaca dan menulis dalam bahasa Ibrani. Termasuk menulis Injil dalam bahasa Ibrani.

Siti Khadijah mengenalkan Waraqah kepada Nabi Muhammad. Karena sejak kedatangan Jibril pertama kami, Nabi Muhammad ketakutan dan tak tahu harus berbuat apa.

Khadijah merasa Waraqah paham apa yang sedang menimpa suaminya itu. Khadijah pun tak tahu apa hakikat yang sedang terjadi pada sang suami.

Kisah Hijrah Ke Habasyah, Sudah Diprediksi Jauh Sebelumnya

Waraqah sudah sepuh dan punya pemikiran yang lebih luas meskipun dia sudah tak bisa melihat lagi karena kebutaan. Oleh sebab itulah keduanya mendatanginya.    

Lalu Nabi Muhammad menceritakan kejadian di Gua Hira malam itu. Waraqah berkomentar, “Demi Tuhan yang jiwaku dalam genggamanNya, sungguh kau adalah nabi umat ini. Telah datang Namus (Jibril) yang pernah datang kepada Musa.”

Waraqah menambahkan, “Sungguh kelak kaummu akan mendustakanmu, mengganggumu, mengusirmu dan memerangimu.”

“Apakah mereka akan mengusirku?”

“Benar. Tak seorang pun yang datang membawa serupa dengan engkau melainkan akan dimusuhi dan diperangi. Kalau aku mencapai masa itu dan usiaku panjang, niscaya aku akan membelamu dengan sungguh-sungguh.” Tak lama setelah itu, Waraqah wafat.

Dan prediksi Waraqah benar. Sejak dakwah Islam makin jelas, orang-orang Mekkah menyatakan permusuhan. Bahkan mereka tega menyiksa dan membunuh orang Islam, terutama kaum lemah dan para budak.

Kejam, Tiap Hari Diteror dan Disiksa Tanpa Perlawanan Selama Bertahun-tahun

Selama bertahun-tahun orang beriman hanya menghindar dan bertahan, tidak melawan. Belum ada perintah perlawanan.

“Hingga Allah mengutus seorang rasul dari kalangan kami sendiri. Yang kami ketahui nasab, kejujuran, amanah, dan kesucian dirinya. Beliau menyeru kami hanya menyembah kepada Allah semata dan meninggalkan penyembahan pada patung-patung dan batu.”

Karena itulah, maka tahun kelima kenabian orang-orang Islam berupaya keluar Mekkah. Untuk mencari tempat agar bisa mengamalkan Islam dengan tenang dan damai.

Salah satu tujuan hijrah adalah Habasyah atau Abisinia, sebuah kerajaan di Afrika. Tersiar kabar bahwa Habasyah dipimpin raja Nasrani yang adil. Kisah hijrah ke Habasyah bermula dari sini.  

Jarang Diungkap, Hijrah Ke Habasyah Lebih Dari Sekali

Sebagian orang-orang Islam mulai merencanakan hijrah. Kisah hijrah ke Habasyah ini terjadi dua kali. Hijrah pertama pada tahun ke-5 kenabian. Lalu tahun berikutnya juga terjadi gelombang hijrah ke Habasyah.  

Hijrah ke Habasyah pertama ini terdapat 12 laki-laki dan 4 wanita yang dipimpin Ustman bin Affan. Juga turut istri Ustman Ruqayyah, putri Rasulullah Muhammad.

Mereka berangkat ke arah pantai lalu menaiki kapal menyeberangi Laut Merah. Rombongan ini naik kapal di Pelabuhan Syaiban. Atas izin Allah, orang-orang Islam tinggal di Habasyah dengan tenang.

Beberapa bulan kemudian, ada rombongan kedua hijrah Habasyah, Afrika. Kali ini lebih banyak. Yang berangkat 83 laki-laki dan 18 wanita. Atas izin Allah, mereka telah sampai di Habasyah dengan aman dan damai

Kisah Hijrah Ke Habasyah, Orang Kafir Terus Mengganggu Meski Di Negeri Seberang

Mendengar hal ini, para pemuka kafir Quraisy meradang. Mereka tak suka melihat orang Islam hidup tenang. Lalu mereka membuat siasat buruk.

Pembesar kafir mengutus dua diplomat ulungnya ke Habasyah: Amr bin Al Ash dan Abdullah bin Abu Rabiah. Sebelum masuk Islam, dua tokoh Quraisy ini memang sering merepotkan kaum muslimin. Kali ini keduanya diberi tugas untuk merayu Raja Najasyi agar menyerahkan kaum muslimin kembali ke Mekkah.

Dua diplomat kafir ini pun membawa sejumlah hadiah dan oleh-oleh berharga. Tujuannya untuk menyuap Raja Najasyi beserta para uskup di Negeri Habasyah. Agar mereka bersedia memulangkan orang-orang Islam itu. (Baca juga: Bikin Mewek, Bagaimana Nabi Muhammad dikeroyok dan dilempari batu saat berdakwah)

Tabiat Orang Kafir, Halalkan Segala Cara Termasuk Menyogok Pejabat

Diplomat kafir itu berkata, “Wahai Tuan Raja, sesungguhnya ada sejumlah orang bodoh yang telah menyusup ke negeri Tuan. Mereka ini telah memecah belah agama kaumnya, juga tidak mau masuk ke agama Tuan. Mereka datang sambil membawa agama baru yang mereka ciptakan sendiri. Kami tidak memgetahuinya secara persis, begitu pula Tuan.

“Kami diutus oleh para pembesar kami, oleh bapak-bapak, paman dan keluarga mereka itu untuk menemui Tuan. Agar Tuan Raja bersedia memgembalikan orang-orang ini kepada mereka. Sebab, mereka itu lebih berhak terhadap orang-orang ini dan lebih tahu apa yang telah mendorong mereka mencela dan mencaci mereka.”

Para uskup yang berada di sekitar raja bekomentar, “Benarlah apa yang dikatakan dua orang ini. Tuan Raja, serahkanlah mereka kepada dua orang ini. Agar mereka mengembalikan kepada kaum dan negerinya.” (Baca juga: Kisah sahabat nabi yang tak mempan disogok sebagai petugas pajak)

Luar Biasa, Beginilah Ciri Pemimpin Bijak

Raja Najasyi tidak langsung percaya. Ia memanggil perwakilan orang muslim. Maka hadirlah Jafar bin Abi Thalib, saudara Ali Bin Abi Thalib.

Raja bertanya padanya, “Macam apakah agama kalian? Yang karena agama kalian itu lalu kalian memecah belah kaummu dan tidak pula masuk ke agama kami ini maupun agama-agama yang lain?”

Jafaf menjawab, “Wahai Tuan Raja, dulu kami adalah pemeluk agama Jahiliyah. Kami menyembah berhala, memakan bangkai, berbuat mesum, memutus tali persaudaraan, menyakiti tetangga dan yang kuat akan memangsa yang lemah.”

Inilah Ciri Utama Orang Beriman  

“Begitulah gambaran kami dulu,” lanjut Jafar, “Hingga Allah mengutus seorang rasul dari kalangan kami sendiri. Yang kami ketahui nasab, kejujuran, amanah, dan kesucian dirinya. Beliau menyeru kami hanya menyembah kepada Allah semata dan meninggalkan penyembahan pada patung-patung dan batu.”

“Beliau juga memerintahkan kami untuk berkata jujur, melaksanakan amanat, menyambung tali silaturahim, berbuat baik kepada tetangga, dan menghormati hal-hal yang disucikan dan darah (tidak gemar berperang/membunuh).”

“Lalu kami beriman kepadanya, membenarkan ajarannya, dan mengikuti agamanya. Tapi kaum kami memusuhi kami, menyiksa dan menimbulkan cobaan yang berat bagi agama kami agar kami kembali kepada agama jahiliyah.”

“Setelah mereka berbuat semena-mena dan menyiksa kami, maka kami pergi ke negeri Tuan ini. Kami bergembira mendapat perlindungan dari Tuan Raja dan kami berharap agar kami tidal dizalimi di sisi Tuan Raja.”

Masya Allah, Tersentuh Hati Lalu Air Mata Bercucuran

Raja bertanya lagi, “Bisakah engkau sedikit bacakan ajaran yang dibawa (Rasul)?”

Maka, Jafar membacakan surat Maryam yang di dalamnya menceritakan jelas kisah Isa dan ibunya. Mendengar bacaan ini, Raja Najasyi pun bercucuran air mata. Begitu pula para uskup. Mereka sangat paham dengan kedudukan Isa. Mereka terharu (sumber: Sirah Nabawiyah, Al Mubarakfuri, Al Kautsar, hlm 96-99).

Raja pun berkomentar, “Sesungguhnya ini dan yang dibawa Isa benar-benar berasal dari satu misykat (cahaya) yang sama. Kalian bebas. Aku tidak akan menyerahkan kalian kepada siapa pun sampai kapan pun.”

Raja Najasyi berkata kepada diplomat kafir itu, “Bawa kembali hadiah-hadiah kalian. Aku tidak membutuhkannya. Demi Tuhan, Dia tidak membutuhkan sogokan dari tatkala Dia menyerahkan kerajaan ini kepadaku. Apakah pantas aku menerima sogokan itu setelah aku mendapatkan kekuasaan itu?”  

Diplomat kafir itu pun pulang dengan muka cemberut. Mereka gagal merayu Raja.

Kisah hijrah ke Habasyah ini memang penuh keharuan. Bagaimana umat Islam dengan cermat menyuguhkan argumen yang pas, sikap yang  santun dan penggunan ayat-ayat yang tepat di hadapan pembesar. Semoga kita mampu meneladaninya.   

Foto: pixabay

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *