Kisah hijrah Abu Salamah unta gurun

Kisah hijrah Abu Salamah merupakan salah satu kisah paling mengharukan dalam sejarah hijrah sahabat Nabi Muhammad.

Hijrah merupakan perintah Allah. Karena memang sejatinya agama Islam itu salah maknanya adalah kepasrahkan kepada Allah sebagai sang pengatur dan pemberi petunjuk.

Hijrah merupakan bentuk dari optimisme dalam perjuangan. Karena ketika di suatu tempat dirasa tidak kondusif lagi, maka hijrah merupakan solusi. Sebab, bumi Allah itu sangat luas.

Kisah Hijrah Abu Salamah, Pasti Trenyuh Jika Baca Kisahnya

Hijrah juga sebagai wujud pencarian titik optimum dalam sebuah usaha. Jika satu jalan tidak membuahkan hasil, maka harus menempuh jalan yang lain.

Begitulah kisah hijrah Abu Salamah yang mengharukan itu. Mereka tetap optimistis bisa berkumpul lagi. Mereka tidak kehilangan harapan meski terpisah sepanjang tahun itu.

Tugas manusia hanyalah berusaha sebaik mungkin. Setelah itu kita tawakkal kepada Allah. Dan Allah tidak akan berlaku zalim. Siapa yang sungguh-sungguh insya Allah akan menuai hasil. Karena hasil tidak akan mengkhianati usaha.

Salah satu kisah hijrah paling menyentuh jiwa adalah kisah hijrah Abu Salamah. Kegigihannya dan kesabarannya dalam mengarungi perjuangan Islam bersama Nabi patut menjadi teladan.

Abu Salamah merupakan saudara sepersusuan Nabi Muhammad dan anak dari bibi Nabi yang bernama Barrah binti Abdul Muthallib. Wanita yang menyusui Abu Salamah ketika bayi adalah Tsuwaibah yang saat itu sedang menyusui anaknya bernama Masruh.

Wanita inilah juga yang menyusui Nabi Muhammad ketika bayi. Tsuwaibah juga menyusui Hamzah bin Abdul Muthalib (paman nabi) ketika masih bayi. (sumber: Sirah Nabawiyah, Al Mubarakfuri, Al Kautsar, hlm 46).

Luar Biasa, Begini Keutamaan Sosok Abu Salamah

Tsuwaibah dulunya seorang budak wanita milik paman Nabi, Abu Lahab. Ketika Nabi Muhammad baru lahir, Abu Lahab sangat gembira. Karena itu dia menghadiahkan budak wanitanya untuk membantu Aminah, ibunda Nabi.  Namun ketika Nabi mendakwahkan Islam, Abu Lahab dan istrinya justru paling keras memusuhi Nabi dan orang Islam.

Abu Salamah termasuk sahabat yang masuk kategori as-Sabiqun al-Awwalun (generasi terdahulu yang masuk Islam); turut serta dalam hijrah ke Habasyah (Afrika) dan Madinah.

Dalam kancah perjuangan militer, Abu Salamah juga bergabung dalam pertempuran Badar. Dari sisi nasab, keutamaan dan keagungan Abu Salamah memang sahabat istimewa yang layak dijadikan teladan (sumber: Siyar A’laam an-Nubala).

Dalam lembaran sejarah umat Islam, Abu Salamah dikenal sebagai sahabat yang sangat sabar dan tidak pernah kehilangan harapan kepada Allah Ta’ala. (Baca juga: kisah jihad Nabi Muhammad melawan musuh yang tiga kali lebih banyak jumlahnya)

Bayangkan, Jalan 500 km Sambil Bawa Bayi Naik Unta

Untuk mengetahui seberapa sabar kisah hijrah Abu Salamah, bisa dibaca langsung penuturan istri tercintanya, yaitu: Ummu Salamah (sahabat mulia dari kalangan wanita yang memiliki banyak keutamaan). Kisah hijrah Abu Salamah juga terdapat dalam buku al-Bidayah wa al-Nihayah.

Kisah hijrah Abu Salamah bermula ketika ia dan anak dan istrinya bersiap. Ia menyiapkan unta tunggangan kemudian membawa serta Ummu Salamah dan anaknya, yaitu: Salamah bin Abi Salamah.

Waktu itu, Ummu Salamah dan anaknya disuruh menaiki unta. Sementara itu, Abu Salamah menuntun kendalinya sambil berjalan kaki. Dalam perjalanan, para pemuka Bani Mughirah menghadangnya kemudian tidak rela membiarkan Abu Salamah sekeluarga hijrah.

Kisah Hijrah Abu Salamah, Cerita Pilu Itu Bermula dari Sini

Beberapa orang dari klan Bani Mughirah segera merebut tali kendali unta kemudian memisahkan Abu Salamah dari istri dan anaknya. Sementara itu, Bani Abdul Asad (yang merupakan suku Abu Salamah) menarik sang anak dari ibunya. Jadinya, pada waktu itu ketiganya terpisah dengan sangat menyedihkan.

Kisah hijrah Abu Salamah ini penuh kepiluan. Ia tetap melanjutkan perjalanan ke Madinah. Sedangkan Ummu Salamah ditahan oleh Bani Mughirah. Sementara anaknya, dibawa pergi oleh Bani Abdul Asad. Sebuah duka yang sangat luar biasa untuk memperjuangkan nilai-nilai luhur yang diyakini oleh Abu Salamah.

Waktu itu, kondisi Ummu Salamah tak kalah menyedihkan. Tiap pagi hingga sore -dengan tangis pilu- Ummu Salamah pergi ke daerah Al-Abthah untuk berusaha mencari kabar. Namun, usahanya tiada hasil.

Hebatnya, Ummu Salamah tidak pernah kehilangan harapan. Hal ini terus dilakukan hingga hampir satu tahun.

“Mengapa Kalian Tega Berbuat Ini?”

Suatu hari, kerabat dari Ummu Salamah yang berasal dari klan Bani Mughirah terlihat haru memperhatikan Ummu Salamah. Hati mereka terenyuh melihat kondisi Ummu Salamah.

Lalu mereka berkata kepada sejumlah orang Bani Mughirah yang menahan Ummu Salamah, “Mengapa kalian tega menyusahkan perempuan miskin ini? Kalian telah memisahkannya dari suami dan anaknya.”

Akhirnya, Ummu Salamah pun dilepaskan dan dibolehkan menyusul Abu Salamah ke Madinah. Hal lain yang juga sangat membahagiakan. Sang anak pun dilepaskan bersamanya untuk menyusul Abu Salamah. (Baca juga: Kisah Nabi Dilempari batu ketika berdakwah)

Kisah Hijrah Abu Salamah, Lepas Satu Bahaya Ke Bahaya yang Lain

Waktu itu, Ummu Salamah mengendarai unta dan menggendong anaknya dalam pangkuannya menuju Yatsrib atau Madinah.

Walaupun Ummu Salamah telah terbebas dari cengkraman musuh dan ia dan anak bisa pergi ke Madinah, tapi kondisinya cukup mencekam. Karena tidak ada seorang pun yang menyertai keduanya dalam perjalanan sejauh 500 km itu.

Sesampainya di Tan’im, Ummu Salamah berjumpa dengan sahabat nabi, Utsman bin Thalhah.

Ada Orang Baik yang Mau Menolong

Utsman bin Thalhah bertekad mengawalnya hingga Madinah. “Demi Allah! Kalian tak boleh sendirian.” Maka Utsman mengiringi keduanya sampai Madinah.

Saat sampai di Desa Bani Amru bin ‘Auf di wilayah Quba, Utsman kemudian mempersilakan, “Suamimu berada di desa ini. Masuklah ke dalamnya! Semoga Allah memberkatimu!”

Begitulah kisah hijrah Abu Salamah yang mengharukan itu. Mereka tetap optimistis bisa berkumpul lagi. Mereka tidak kehilangan harapan meski terpisah sepanjang tahun itu.

Abu Salamah, Ummu Salamah dan keluarganya meyakini bahwa badai pasti berlalu. Bagi mereka yang sabar dan terus berjuang tanpa henti.   

Foto: pixabay

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *