Kisah hijrah Abu Bakar gurun pasir

Kisah hijrah Abu Bakar tak bisa dilepaskan dari perjalanan hijrah Nabi Muhammad. Ketika perintah hijrah telah tiba, Nabi Muhammad memilih Abu Bakar untuk menemani beliau.

Abu Bakar pun mempersiapkan diri. Banyak perseiapan yang dilakukan oleh Abu Bakar. Dia juga telah memerintahkan anak-anaknya untuk membantunya.

Putrinya yang bernama Asma bertugas nantinya mengirimkan makanan selama dalam persembunyian. Sedangkan anaknya yang bersama Abdullah bertugas menjadi mata-mata dan mengumpulkan informasi dari pusat kota. Lalu diteruskan ke sang ayah. Sehingga Abu Bakar bisa mengetahui manuver orang-orang kafir.

Kisah Hijrah Abu Bakar, Ini Persiapannya

Abu Bakar juga menyuruh salah satu pembantunya yang bernama Amir bin Fuhairah untuk menggembalakan kambing di jalur perjalanan. Agar jejak Nabi Muhammad dan Abu Bakar langsung terhapus dengan jejak-jejak hewan ternak itu.

Kemudian Nabi Muhammad membaca doa dan mengusap kantung susu domba itu. Tak lama kemudian, mukjizat terjadi. Ummu Mabad menyaksikan hal itu dengan penuh rasa takjub.

Malam menjelang hijrah, rumah nabi dikepung orang-orang kafir yang ingin membunuh beliau. Setelah berdoa, Allah membuat mereka tertidur sehingga Nabi Muhammad bisa berjalan menuju tempat Abu Bakar.

Lalu keduanya berjalan ke arah barat, bukan langsung ke utara ke arah Madinah. Rute ini dipilih agar mengecoh pergerakan orang-orang yang akan mengejar Nabi Muhammad. Kisah hijrah Abu Bakar menemani Nabi ini tercatat dalam referensi Islam.  

Hijrah Abu Bakar dan Nabi, Melalui Jalur Yang Berbahaya

Rute ini menuju pegunungan dan perbukitan cadas yang curam dan tandus. Di sana terdapat Gua Tsur. Di dalam gua itulah Abu Bakar dan Nabi Muhammad bersembunyi.

Orang-orang kafir berlomba-lomba mengejar nabi dan akan menangkap beliau. Ini dijadikan sayembara dengan hadiah yang sangat fantastis yakni 100 ekor unta.

Karena itulah banyak orang mengejar dan mencari-cari nabi dan Abu Bakar. Mereka tergiur dengan hadiah yang dijanjikan.

Oleh sebab itu, Gunung Tsur pun didatangi banyak orang. Namun mereka tak kunjung menemukan keduanya.

Diliputi Suasana Mencekam

Allah memerintahkan hewan-hewan kecil memenuhi mulut gua. Ada sarang burung dan beberapa ekor burung di sana. Mulut gua juga dipenuhi sarang laba-laba. Sehingga orang yang melihatnya dari luar langsung paham tak akan mungkin ada manusia di dalamnya.

Saat Abu Bakar dan Nabi Muhammad masuk ke dalam gua, keduanya hendak beristirahat di dalamnya. Abu Bakar membersihkan bagian bagian bawah gua itu. Lalu Nabi beristirahat di pangkuan Abu Bakar.

Beberapa lama kemudian, ternyata ada hewan berbisa menyengat Abu Bakar. Namun Abu Bakar diam saja. Dia menahan sakit yang sangat. Saking perihnya, hingga air mata Abu Bakar pun menetes mengenai wajah Nabi Muhammad.

Saat itulah Nabi bertanya, “Apa yang terjadi?”

“Aku disengat hewan berbisa.”

Lalu Nabi Muhammad mendoakan dan meludahi bagian yang terluka itu hingga sakitnya berangsur hilang. Kisah hijrah Abu Bakar diwarnai penderitaan dan kesulitan. (Baca juga: Kisah hijrah Umar bin Khattab yang Anti Mainstream

Mengharukan, Kehabisan Bekal Makanan

Setelah sepi, Abu Bakar dan Nabi Muhammad melanjutkan perjalanan menyusuri pegunungan dan padang pasir. Hingga Abu Bakar melintasi beberapa peternakan domba dan kambing milik orang lokal.

Abu Bakar dan Nabi Muhammad melintasi suatu kemah milik Ummu Ma’bad. Dia tinggal di sana bersama suaminya. Di sekitar kemahnya ada seekor domba  betina.

Abu Bakar dan Nabi Muhammad kehabisan bekal makanan. Sejatinya Nabi Muhammad hendak membeli kurma atau makanan lainnya dari Ummu Ma’bad. Namun, Ummu Ma’bad tidak punya apa-apa. Sedang terjadi musim paceklik saat itu.

Lalu Nabi Muhammad bertanya kepadanya, “Apakah itu domba betina milikmu?”

“Ya betul, itu domba betina yang sudah tua dan sudah ditinggalkan domba jantan.”

“Apakah ia masih bisa mengeluarkan susu?”

“Bahkan dia sudah lama tidak mengeluarkan susu.”

“Bolehkah aku memerah susunya?”

“Jika engkau merasa bisa memerahnya, silakan lakukan.”

Kisah Hijrah Abu Bakar, Dan Suatu Mukjizat Terjadi

Kemudian Nabi Muhammad membaca doa dan mengusap kantung susu domba itu. Tak lama kemudian, kantung susunya penuh. Ummu Mabad menyaksikan hal itu dengan penuh rasa takjub.

Lantas Nabi Muhammad meminta wadah kepada Ummu Ma’bad. Nabi pun memerah susu dari domba itu. Setelah penuh, wadah itu diberikan kepada Ummu Ma’bad lantas ia meminumnya hingga puas. Lalu, Nabi dan Abu Bakar pun meminum susu dari hasil perahan itu.

Setelah kenyang, Abu Bakar dan Nabi Muhammad berterima kasih dan pamit meneruskan perjalanan. Kisah hijrah Abu Bakar ini menunjukkan keistimewaan Nabi Muhammad yang dianugerahkan Allah.

Tak berselang lama, suami Ummu Ma’bad tiba. Ia mendapati wadah susu yang penuh. “Dari mana susu ini? Padahal domba ini sudah lama tidak mengeluarkan susu dan kita tak punya persediaan susu di rumah.” (Baca juga: Kisah hijrah Nabi ke Madinah yang ironis)

Beginilah Postur Tubuh Nabi Muhammad

Ummu Ma’bad bercerita, “Tadi ada seseorang yang memerah domba betina kita itu. Dia melintasi kemah kita ini bersama seorang rekannya. Aku melihat sosok yang penuh berkah ada orang itu.”

“Ceritakan padaku seperti apa dia.”

Ummu Ma’bad menjelaskan. “Aku melihat seseorang yang tawadhu. Wajahnya bersinar berkilauan. Baik budi pekertinya. Badannya tegap, indah dan dengan bentuk kepala yang pas sesuai dengan bentuk tubuhnya.”

Penampilan Fisik Nabi Menurut Ummu Ma’bad

“Ia pria yang berwajah tampan. Matanya elok, hitam dan lebar, dengan alis dan bulu mata yang lebat dan halus. Suaranya bergema indah dan berwibawa. Panjang lehernya ideal, jenggotnya tumbuh tebal dan warna rambutnya rapi dan rata pinggiran-pinggirannya (dengan jambangnya) dan antara rambut dan jenggotnya bersambung rapi.”

“Jika ia diam, nampaklah kewibawaannya. Jika dia berbicara, nampaklah kehebatannya. Jika dilihat dari jauh, ia adalah orang paling bagus dan berwibawa. Jika dilihat dari dekat, ia adalah orang paling tampan. Bicaranya gamblang, jelas, tidak banyak dan tidak pula sedikit. Nada bicaranya seperti untaian mutiara yang berguguran.”

Lantas suaminya berkata, “Demi Allah, ia adalah seseorang dari Quraisy yang sedang diperbincangkan orang Mekkah. Aku ingin menjadi sahabatnya. Sungguh aku akan melakukannya jika aku bisa menemukan jalan untuk itu.”

Foto: pixabay

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *