kisah cinta nabi muhammad dan siti aisyah

Kisah cinta Nabi Muhammad dan Siti Aisyah bersemi setelah wafatnya Siti Khadijah. Meninggalnya Siti Khadijah, Nabi Muhammad sangat sedih. Dalam satu tahun yang sama, Nabi Muhammad kehilangan dua sosok pembela setia dakwah Islam.

Siti Khadijah berpulang ke rahmatullah pada tahun ke-10 kenabian. Siti Khadijah bukan hanya istri dan ibu bagi anak-anak Nabi. Tapi Siti Khadijah juga pengikut Islam pertama, pembela, pengayom serta donatur perjuangan Islam.

Harta kekayaaan Siti Khadijah yang melimpah itu diserahkan semuanya untuk perjuangan Nabi Muhammad.

Kesedihan Yang Bertumpuk

Setelah wafatnya Siti Khadijah, Nabi sangat sedih. Tak lama setelah itu, Abu Thalib meninggal dunia. Paman yang selama ini telah menggantikan sosok ayah bagi beliau. Sejak usia 8 tahun, Nabi diasuh Abu Thalib.

Paman ini selalu membela Nabi. Kesedihan itu makin pedih ketika di akhir hayatnya Abu Thalib tetap tidak bersedia beriman. Ada paman Nabi lainnya yang awalnya sayang kepada Nabi lalu berubah jadi benci. Siapakah dia? Silakan klik tautannya di sini.

Karena itulah para pakar sejarah Islam menyebut tahun ke-10 itu disebut tahun duka cita (Amul Huzni). Meninggalnya Abu Thalib, kaum Quraisy makin gencar memusuhi Nabi dan orang Islam. Sebelumnya, para tokoh Quraisy masih segan dengan Abu Thalib.

Sepeninggal Abu Thalib, Nabi makin sedih dan terpukul. Apalagi tiada ada lagi pendamping hidup di rumah beliau.

Para Sahabat Ingin Menghibur Nabi

Khadijah binti Khuwailid adalah istri pertama dan paling dicintai Rasulullah saw. Rasulullah saw menikah dengan Siti Khadijah saat berusia 25 tahun, sedangkan usia Khadijah adalah 40 tahun. Rasulullah saw. tinggal bersamanya dengan penuh kebahagiaan selama 25 tahun, hingga akhir hayatnya pada usia 65 tahun.

Khadijah wafat pada bulan Ramadhan tahun kesepuluh kenabian atau tiga tahun sebelum terjadinya peristiwa hijrah. Pada saat itu usia Rasulullah 50 tahun.

Khadijah adalah orang pertama yang beriman pada kerasulan Muhammad. Beliau juga sosok pertama yang masuk Islam. Khadijah adalah teman sejati Rasulullah saw di kala suka dan duka. Khadijah memberikan kasih sayang seorang ibu kepada Rasulullah.

Hal tersebut adalah sesuatu yang tidak Rasul dapatkan sewaktu kecil. Rasulullah memperoleh perhatian yang luar biasa dari Khadijah saat menjalankan tugas dakwah.

Khadijah telah berhasil meneguhkan jiwa Rasulullah yang sempat timbul kebimbangan. Pada masa itu, beliau begitu membutuhkan motivasi. Kisah cinta Nabi Muhammad dan Siti Aisyah mulai disemai sepeninggal Siti Khadijah.

Agar Segera Move On

Ketika Khadijah wafat, Rasulullah tidak pernah larut dalam kesedihan melebihi hari itu. Beliau tidak pernah terngiang-ngiang sosok seseorang setelah kematiannya melebihi Khadijah. Bahkan, beliau benar-benar merasakan sulitnya hidup dalam kesepian karena ditinggalkan oleh Khadijah.

Hal itulah yang membuat para sahabat Nabi turut berduka. Hingga kemudian datanglah Sayyidah Khaulah binti Hakim, istri Utsman Bin Mazh’un. Suami Khaulah adalah sahabat Nabi yang ikut hijrah dan meninggal pada tahun 2 H.

Khaulah menemui Rasulullah dan bertanya, “Wahai Rasulullah apakah Anda tidak ingin menikah?”

Rasulullah kembali bertanya, “Dengan siapa?”

Khaulah pun menjawab, “Terserah Anda, mau yang gadis atau janda?”

Rasulullah bertanya, “Siapa yang gadis dan siapa yang janda?”

“Yang janda adalah Saudah Binti Zam’ah sedangkan yang gadis adalah putri dari orang yang paling engkau cintai, ‘Aisyah binti Abu Bakar’ Ash Shiddiq,” jawab Khaulah. Maka Rasulullah berpesan, “Tolong sampaikan lamaranku padanya!”  Kisah cinta Nabi Muhammad dan Siti Aisyah pun bersemi setelah itu.

Kisah Cinta Nabi Muhammad dan Siti Aisyah, Peran Comblang Itu Penting

Mendengar jawaban Rasulullah, Khaulah segera pergi ke rumah Abu Bakar dan menyampaikan pinangan Rasulullah kepadanya. Khaulah inilah yang jadi perantara kisah cinta Nabi Muhammad dan Siti Aisyah.

Pada masa jahiliyah, orang-orang tidak diperbolehkan menikahi putri teman yang terikat ta’akhi (perjanjian persaudaraan). Mereka menganggap ikatan persaudaraan menyebabkan haramnya besanan, sebagaimana saudara kandung.

Oleh sebab itu Abu Bakar berkata, “Apakah Aisyah boleh menikah dengan beliau? Bukankah dia anak saudaranya?” Khaulah pun menemui Rasulullah dan menyampaikan permasalahannya.

Beliau berkata, “Pergilah, katakan pada Abu Bakar, dia adalah saudaraku seagama, bukan saudara sedarah, dan putrinya halal untuk kunikahi.” Akhirnya, Abu Bakar pun menerima pinangan Rasulullah saw. Kisah cinta Nabi Muhammad dan Siti Aisyah tercatat sejarah sejak itu.

Mimpi Itu Membekas

Siti Aisyah adalah seorang gadis cantik dengan pipi putih kemerahan. Saat akad nikah, usia Siti Aisyah 6 tahun. Dan baru usia 9 tahun, Siti Aisyah melayani sang suami tercinta.   

Siti Aisyah memiliki kelebihan yang tak banyak dimiliki gadis seusianya. Siti Aisyah meriwayatkan ribuan hadits tentang keseharian Nabi Muhammad dan tentang adab-adab yang diajarkan Nabi terkait keluarga dan wanita.

Menurut ahli sejarah, usia 9 tahun di kalangan wanita Arab saat itu sudah mengalami pubertas. Artinya sudah siap dibuahi dan siap dinikahi.

Berdasarkan keterangan dr. Zakir Naik, di masa kini para wanita di Amerika Serikat dan India pun sudah lazim jika usia 9 atau 10 tahun sudah menstruasi. Hal ini dipengaruhi pola makanan, genetik dan cuaca.

Menurut catatan ahli hadits, Siti Aisyah masih sering bertingkah kekanak-kanakan saat itu. Ini menyebabkan ibunya merasa jengkel. Karena itulah sang ibu terkadang memberi hukuman padanya.

Saat melihat hal tersebut, Rasul menjadi prihatin. Rasulullah mengatakan kepada ibunya, “Wahai Ummu Ruman, tolong perlakukan Aisyah dengan sebaik-baiknya. Jagalah dia untukku.”

Al-Bukhari meriwayatkan penuturan Aisyah kepada Nabi, “Saya bermimpi melihat engkau sebelum menikah sebanyak dua kali. Saya melihat malaikat membawa engkau dalam kain kelambu, maka saya katakan ‘Tolong buka.’ Malaikat tersebut membukanya dan ternyata di dalamnya adalah engkau. Kemudian saya katakan, ‘Kalau ini benar-benar dari sisi Allah, maka pasti akan terjadi.’

‘Kemudian, saya melihat engkau lagi dalam kain kelambu. Maka saya katakan, ‘Tolong buka,’ ketika dibuka ternyata lagi-lagi engkau. Maka saya katakan, ‘kalau ini benar-benar dari sisi Allah, maka pasti akan terjadi.” Kisah cinta Nabi Muhammad dan Siti Aisyah pun diwarnai mimpi yang berkesan.

Kisah Cinta Nabi Muhammad dan Siti Aisyah, Maharnya Fantastis

Tujuan dari pernikahan ini adalah untuk mengokohkan dan merekatkan hubungan. Aisyah memiliki kelebihan yang tak banyak dimiliki gadis seusianya antara lain: kecerdasan, kualitas hafalan, wawasan, dan keahliannya dalam mengambil kesimpulan. Kisah cinta Nabi Muhammad dan Siti Aisyah terdapat banyak hikmah.

Berdasarkan riwayat dari Imam Ahmad dan Ibnu Sa’ad, Rasulullah saw membayar mahar kepada Aisyah berupa rumah seharga sekitar lima puluh dirham.

Dalam versi yang lain, Ibnu Sa’ad menyebutkan bahwa Aisyah berkata, “Mahar Rasulullah adalah 12 uqiyah atau nasy atau sama dengan 500 dirham.”

Aisyah berkata, “Uqiyah sama dengan empat puluh dirham sedangkan nasy sama dengan 20 dirham.” Menurut pakar ekonomi Islam, jika dirupiahkan, 1 dirham senilai Rp 37.000 (sumber).

Jadi mas kawin Nabi kepada Siti Aisyah Rp 18,5 juta. Luar biasa, inilah teladan hidup manusia. Bahkan nilai ini bisa lebih jika harga emas dan perak terus naik selama pandemi Corona.

Dalam Shahih Muslim dari Aisyah dia berkata, “Mahar Rasulullah adalah 12 uqiyah atau nasy.” Dia berkata, “Tahukah kalian, apa itu Nasy?” Dia berkata lagi, “Setengah uqiyah nilainya sama dengan 500 dirham. Inilah nominal mahar Rasulullah kepada para istrinya.”

Tanggal Pernikahan Nabi Muhammad dan Siti Aisyah

Banyak sekali versi yang meriwayatkan tanggal pernikahan Rasulullah dengan Aisyah. Rasulullah menikahi Aisyah tiga tahun setelah meninggalnya Khadijah. Riwayat kedua menyebutkan, Rasulullah menikahi Aisyah pada tahun itu juga.

Riwayat kedua inilah yang dipilih oleh para korektor naskah. Riwayat tersebut didukung oleh riwayat-riwayat lain yang shahih. Karena Khadijah wafat pada bulan Ramadhan tahun kesepuluh kenabian, atau sekitar tiga tahun sebelum hijrah.

Sebulan setelah itu, tepatnya pada bulan Syawal, Rasulullah menikahi Aisyah, yang pada saat itu ia masih berumur enam tahun. Dengan demikian tanggal pernikahan Rasulullah dengan Aisyah adalah bulan syawal tahun ketiga sebelum hijriyah, bertepatan pada bulan Mei tahun 620 M.

Dan Nabi berbulan madu dengan Aisyah tiga tahun kemudian, saat itu umur Aisyah sembilah tahun. Kisah cinta Nabi Muhammad dan Siti Aisyah ini sangat romantis.

Mengharukan, Jelang Nikah Justru Terkena Musibah

Aisyah dan keluarganya tinggal di kampung Bani Al-Harits bin Khazraj. Dia tinggal di tempat tersebut bersama ibunya selama tujuh atau delapan bulan.

Madinah Al-Munawwarah adalah tempat tinggal dan lingkungan baru. Kaum Muhajirin yang tinggal di tempat tersebut sangat merasakan perbedaan cuaca antara Mekkah dan Madinah.

Akibatnya, sebagian dari mereka terserang penyakit. Ada yang terserang demam maupun penyakit lainnya. Begitu juga dengan Abu Bakar. Ia mengalami demam hebat.

Pada waktu itu Aisyah sering menjenguk dan menanyakan kabar ayahnya itu. Aisyah sendiri belum mampu beradaptasi dengan cuaca Madinah, hingga akhirnya ia jatuh sakit juga. Tatkala sudah sembuh, ibunya segera mendandaninya untuk menyambut pernikahan dengan Rasulullah.

Aisyah menceritakan pesta pernikahannya di Madinah dan bulan madunya. Dia menuturkan, “Rasulullah menikahiku saat aku berusia enam tahun dan beliau hidup serumah denganku saat aku berusia sembilan tahun.”

Kisah cinta Nabi Muhammad dan Siti Aisyah menjadikan Siti Aisyah banyak meriwayatkan hadits tentang keseharian Nabi dan adab Nabi dengan istri dan keluarga. Siti Aisyah meriwayatkan 2.210 hadits, terbanyak keempat setelah Abu Hurairah (5.374), Abdullah bin Umar bin Khatab (2.630), dan Anas bin Malik (2.286).   

Inilah Suguhan Pernikahan Nabi Muhammad dan Siti Aisyah

Bulan madu Rasulullah dilaksanakan pada siang hari di bulan Syawal tahun pertama hijriyah. Saat itu Ummu Ruman menemui Aisyah saat Aisyah berada di atas ayunan bersama teman-teman bermain lainnya.

Lalu Ummu Ruman menyuruhnya pulang. Dia pun memasukkan Aisyah ke dalam rumah. Ternyata di rumahnya sudah ada wanita-wanita Anshar. Ibunda Aisyah menyerahkan Aisyah kepada mereka, lalu mereka mengeramasi rambut Aisyah dan mendandaninya.

Tidak boleh ada yang melihat Aisyah kecuali Rasulullah pada waktu Dhuha, lalu menyerahkan Aisyah kepada Rasulullah.

Asma binti Yazid, salah satu teman Aisyah menceritakan kepada kita tentang manisan-manisan yang disuguhkan kepada Rasulullah pada pesta pernikahannya. Dia menuturkan, “Aku adalah teman Aisyah yang mendandani dan mengantar Aisyah ke kamar Rasulullah.”

Dia melanjutkan, “Demi Allah, tidak ada jamuan apapun di sisi beliau, kecuali hanya semangkok susu.” Kisah cinta Nabi Muhammad dan Siti Aisyah ini sarat pelajaran bagi muslim.

Kisah Romantis Nabi Muhammad dan Aisyah

Dia melanjutkan, “Rasul pun meminumnya, kemudian menyerahkannya kepada Aisyah. Gadis itu pun malu. Maka kami katakan kepadanya, ‘Jangan tolak pemberian Rasulullah. Cepat ambil.’ Aisyah pun mengambilnya dengan malu-malu, kemudian dia meminumnya. Rasulullah pun berkata, ‘Berikan kepada teman-temanmu.’ Lalu kami mengatakan, “Kami tidak menginginkannya.’

Beliau pun mengingatkan, ‘Janganlah kalian kumpulkan antara bohong dan rasa lapar.’ Dia meneruskan, ‘Maka aku katakan, ‘Wahai Rasulullah apakah jika kita menginginkan sesuatu kemudian kita mengatakan tidak menginginkannya termasuk berdusta?’ Beliau bersabda, ‘Sesungguhnya kedustaan akan ditulis sebagai kedustaan. Wanita pendusta akan ditulis sebagai wanita pendusta.’”

Kisah cinta Nabi Muhammad dan Siti Aisyah penuh keteladanan. Dimulai dari penyerahan mahar dan bulan madunya. Semuanya berjalan dengan penuh kesederhanaan tanpa unsur memaksakan diri, mewah, boros, dan mubazir. Sumber: Buku Ummul Mukminin Aisyah Radhiallahu Anha Potret Wanita Mulia Sepanjang Zaman – Sayyid Sulaiman An-Nadwi

Foto: pixabay

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *