kisah anak sd yang sukses gerobak

Kisah anak SD yang sukses bisa Anda baca di sini. Minimnya jenjang pendidikan formal tidak selalu menghalangi seseorang untuk meraih sukses di berbagai bidang.

Sejumlah wirausahawan besar ternyata dulunya mengenyam pendidikan formal sampai tingkat dasar saja, atau tingkat menengah pertama. Dengan semangat yang tinggi untuk belajar, mereka berjibaku menerjang rintangan yang ada.

Bagi mereka, belajar tidak melulu di kelas saja. Kehidupan nyata di luar juga merupakan kelas raksasa yang disediakan Tuhan untuk memberi pelajaran bagi kita. Apakah kita mampu lulus dengan baik atau malah layu sebelum terkembang.

Kisah Anak SD Yang Sukses, Dagangan Tak Habis Pun Dimakan Sendiri Sampai Diare

Kisah anak SD yang sukses kali ini dimulai dari cerita nyata wirausahawan kuliner. Jika Anda tinggal di Jawa Timur dan paham wilayah Surabaya, pasti Anda kenal dengan Soto Ambengan. Ini adalah depot soto ayam Lamongan yang didirikan Pak Sadi yang kondang itu.

Lahir di Lamongan dengan nama Hasni Sadi, kemudian Pak Sadi merantau ke Surabaya sejak 1960an. Awalnya Pak Sadi berjualan tahu campur. Dulunya Pak Sadi berjualan dengan cara dipikul dan keliling dari kampung ke kampung.

Lalu Pak Sadi berjualan tahu campur secara menetap di dekat Markas TNI Komando Garnisun Tetap III Jalan Ngemplak Surabaya. Pak Sadi menuturkan jualan tahu campur dulunya sering rugi.

“Dulu sepi. Beberapa hari tidak habis. Sering saya makan sendiri. Sampai sakit mencret saking seringnya makan tahu campur,” katanya sambil tertawa kecil.

Sering Rugi Tapi Pantang Menyerah, Lalu Segera Banting Setir Coba Usaha Baru

Kemudian Pak Sadi banting setir. Pak Sadi jualan soto ayam Lamongan. Pak Sadi memulai jualan soto keliling dengan pikulan.

Lambat laun, banyak yang suka soto ayam Pak Sadi ini. Maka Pak Sadi mencari tempat. Ketemulah tempat di Jalan Ambengan Surabaya.

Sejak 1971 Pak Sadi sudah memulai depot soto di Jalan Ambengan Surabaya. Sejak itulah warga Surabaya mengenal soto yang terkenal dengan julukan Soto Ambengan. Latar pendidikan Pak Sadi tidaklah tinggi. Kisah anak SD yang sukses kuliner ini bisa jadi inspirasi kita semua.

Yang membuat Soto Ambengan ini berbeda dengan soto Lamongan lainnya antara lain banyak rempah yang digunakan. Resep ini sudah 40 tahun lebih digunakan dan tidak berubah.

Soal Rasa Memang Beda, Berikut Bumbu Andalannya

Di antara rempah yang paling terasa yaitu kunyit, lengkuas, hingga serai sehingga kuahnya bening agak kuning. Kadar kekentalnan soto juga pas khas soto jawa Timur.

Pak Sadi juga menyediakan koya atau poya jika ada yang mau menambahkannya di dalam kuahnya. Koya ini terbuat dari kerupuk udang pilihan yang gerus halus dan rasanya berbeda dengan koya biasa.

Ini makin membuat Soto Ambengan ini makin gurih. Apalagi ayamnya spesial, yaitu ayam kampung yang gurih.  

Seiring perkembangan zaman, Pak Sadi mulai memikirkan masa depan usahanya ini. “Dari tahun ke tahun, kota Surabaya makin berkembang pesat. Plaza dan mal dibangun dimana-mana. Jalanan juga makin macet,” beber Pak Sadi.

Kalau Mau Sukses, Inilah Rumus Bisnis Kuliner

Lalu Pak Sadi memulai membuka cabang di pusat perbelanjaan. “Kan banyak orang main di mal. Kalau harus ke Jalan Ambengan hanya untuk makan soto ayam kan ya males ya. Di situlah saya buka cabang di tiap mal dan plaza di Surabaya. Harapannya, penggemar setia Soto Ambengan tak perlu jauh-jauh ke Jalan Ambengan,” ungkap Pak Sadi.

Brand Soto Ambengan pun dimodifikasi sedikit dengan nama: Soto Ayam Pak Sadi Ambengan (Asli). Penggunaan kata asli agar masyarakat tetap percaya dengan depot soto ayam cabang.

Makin lama, nama brand-nya hanya tertulis: Soto Ayam Pak Sadi (Asli). Tak lagi menggunakan nama Jalan Ambengan.

Pak Sadi paham betul. Bahwa bisnis itu jangan begitu-begitu saja. Harus berkembang kalau mau maju dan bertahan lama dari generasi ke generasi. Harus berani melakukan terobosan dan pengembangan.

Jangan takut dengan risiko. Justru di situlah peluang itu. Tentu semua harus melalui perhitungan yang matang. Sehingga jika sampai rugi pun, sudah diantisipasi lalu diminimalkan. Lalu melakukan evaluasi dan kembali ke jalur sukses.

Inilah Resep Paling Penting Agar Sukses Usaha Kuliner

Meski tidak sekolah bisnis atau kuliah bisnis, Pak Sadi punya jiwa bisnis yang moncer. Kisah anak SD yang sukses mengembangkan restoran soto ini bisa jadi pelajaran bagi kita.

Demi menjaga kualitas, Pak Sadi langsung yang mengontrol bumbu dan resep sotonya. Tidak diserahkan begitu saja kepada karyawannya. Semua bumbu dan resep dipasok dari depot pusat demi menjaga kualitas soto.

“Saya menjaga betul rasa dan kualitas. Agar orang-orang tidak ragu jika makan di cabang. Supaya depot pusat dan cabang tak ada perbedaan rasa dan kualitas soto,” paparnya.

Inilah resep paling penting dalam bisnis kuliner. Cabang boleh banyak, tapi kualitas dan pelayanan jangan sampai berbeda atau menurun dari lapak pusat.

Sejak awal 2000an, Pak Sadi sudah membuka cabang di tiap mal dan plaza di Surabaya. Lalu, Pak Sadi juga membuka cabang di jalan-jalan utama di Surabaya.

“Tak harus ke mal kalau mau cari soto Ambengan. Biar makin mudah dijangkau orang. Kan jalanan Surabaya sering macet. Jadi cari makan yang dekat saja,” sambung Pak Sadi.

Tak Kuliah & Tak Ikut Pelatihan, Tapi Ahli Di Sisi yang Satu Ini

Rupanya, Pak Sadi ini visioner. Meski pendidikannya tidak sampai sekolah menengah, Pak Sadi punya pandangan yang luas dan jeli melihat peluang. Kisah anak SD yang sukses ini terus mengamati perkembangan zaman agar bisa maju dari waktu ke waktu.

Tak hanya Surabaya, Soto Pak Sadi meluaskan jangkauannya ke ibukota. Di tiap mal dan pusat perbelanjaan, Pak Sadi membuka banyak cabang depot Soto Ayam. Pak Sadi juga menambahkan menu soto Madura (daging sapi) di tiap cabang jika ada pelanggan variasi.

“Di Jakarta kan banyak orang Jawa Timur. Soto ayam ini jadi obat kangen warga Jawa Timur di sana. Atau bagi mereka yang lama tinggal di Surabaya dan rindu dengan Soto Ambengan, maka kini mudah mereka jangkau,” jelasnya.

Meski sudah lanjut usia, Pak Sadi tak mengurangi aktivitasnya untuk mengontrol kualitas soto di cabang-cabang itu. Pak Sadi rutin berkeliling sambil mengecek mutu soto di tiap cabang.

Kini sudah puluhan cabang Depot Soto Sadi di Surabaya dan Jakarta. Kisah anak SD yang sukses menjalankan usaha kuliner ini patut kita teladan. Baca juga kisah pengusaha Indonesia yang dulunya sering kena PHK lalu menekuni dunia investasi hingga jadi terkaya nomor 29 se-Indonesia.

Masya Allah, Sudah Kaya Tapi Tak Lupa Hal Penting Ini

Selain disiplin dalam menjaga kualitas masakan, Pak Sadi merupakan sosok yang relijius, rendah hati dan sangat peduli. Pak Sadi rajin mengikuti pengajian ke sejumlah kyai di Jawa Timur.

Pak Sadi rutin menitipkan donasi untuk pondok pesantren dan lembaga sosial. Redaksi melihat sendiri bagaimana Pak Sadi akrab dengan seorang kyai dan ikut mambantu pembangunan pondok pesantrennya.

Meski sudah kaya dan sukses, Pak Sadi tidak lupa diri. Ia bersyukur atas anugerah Tuhan ini. Karena itu Pak Sadi ikut peduli dengan dunia sosial. Kisah anak SD yang sukses dan tidak lalai dengan kekayaannya ,sangat menginspirasi para pengusaha dan pelaku bisnis.

Luar Biasa, Semua Kebutuhan Pokok Karyawan Dicukupi, Gaji Pun Utuh 100 Persen

Kepada karyawan, Pak Sadi juga sangat peduli. “Gaji di depot saya mungkin tidak besar. Tapi para karyawan saya beri kebebasan kalau makan di depot yang mereka kelola. Boleh makan di depot itu sepuasnya. Bebas ambil,” jelas Pak Sadi.  

Pak Sadi juga peduli dengan kebutuhan pegawai. “Saya sediakan kebutuhan sehari-hari seperti sabun mandi, sabun cuci dan pasta gigi bagi karyawan yang tinggal di depot. Saya siapkan stoknya. Sehingga gaji mereka utuh. Tidak untuk kebutuhan sehari-hari. Netto atau bersih,” pungkas Pak Sadi.

Jadi, gaji karyawan itu 100 persen untuk keluarga masing-masing. Tidak banyak pengusaha yang sangat peduli seperti Pak Sadi ini. Yang sangat memahami kebutuhan bawahannya.

Itulah di antara rahasia sukses Pak Sadi, pemilik Depot Soto Ambengan Surabaya. Kisah anak SD yang sukses ini bisa jadi motivasi bagi kita. Bagaimana agar tegar melalui beragam kesulitan dan mau terus belajar.   

Foto: pixabay

  

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *