kisah anak punk taubat

Kisah anak punk taubat di Indonesia sudah beberapa kali kita temui. Namun, berbeda jika kisah anak punk taubat lalu memeluk agama Islam di Inggris, itu sangat luar biasa.

Anda bisa membaca kisah anak punk taubat di Inggris ini. Setelah masuk Islam, anak punk metal ini berganti nama Abdul Malik Jamaal Hanif. Abdul Malik tidak pernah menyebutkan nama lahirnya.

Dulunya Abdul Malik adalah anak punk metal. Dia memadukan punk dan heavy metal. Lagu-lagu yang ia nyanyikan semuanya tentang pemberontakan dan kritik sosial.

Kisah Anak Punk Taubat, Penuh Tato

Tubuh penuh dengan tato. Mulai punggung telapak tangan kanan lalu ke lengan bawah, lengan atas, pundak, dada, punggung hingga ke lengan kiri dan punggung telapak tangan kiri. Semuanya ada tatonya.

Tak hanya itu, Abdul Malik juga membuat tindik di kedua telinganya. Hingga membuat lubang besar. Hingga 20 tahun berhijrah pun, lubang bekas tindik itu tetap ada.

Dia tidak puas dengan semua itu. Jiwa pemberontaknya masih saja bergejolak. Hingga suatu saat ia berjalan-jalan di Kensington Street, London. Kisah anak punk taubat ini bermula rasa tidak puas dengan kehidupan modern di Eropa.

Tatonya juga tetap ada saking banyaknya. Kisah anak punk taubat dan hijrah ini sangat penting bagi pencari hidayah.

Meskipun berpenampilan punk dan sangar, Abdul Malik tetap berkomitmen kuat di pendidikan. Walaupun aktif sebagai musisi, Abdul tetap kuliah dan banyak mendalami kajian sosial. Tidak disebutkan dia kuliah dimana dan jurusan apa.   

Abdul Malik mengatakan bahwa sejak mudanya dia selalu mempertanyakan banyak hal. Ia mempertanyakan sejarah, politik, agama, dan tatanan sosial. Dia berpikir sangat kritis.

Sering Protes Pemerintah Dengan Lagu

Bagi Abdul Malik, banyak fakta sejarah yang diputarbalikkan. Dia selalu mencari tahu apa di balik fakta yang ada. Dia banyak membaca dan meneliti. Kisah anak punk taubat dan menemukan hidayah dari Inggris ini sungguh memotivasi.

Dari situlah kemudian membuat lagu dengan nama punk metal. Lagu-lagu itu sering berikan protes terhadap pemerintah Inggris dan pemerintah mana pun di dunia. Inilah bentuk perlawanan dan kritik sosial melalui musik punk.

“Saya melakukan semua itu agar saya mencapai kebahagiaan. Namun saya tidak juga merasakan kebahagiaan itu,” tuturnya.

“Saya dulu berpikir bisa bahagia dengan bermusik. Hidup saya akan sempurna melalui musik. Nyatanya saya juga tak kunjung bahagia,” ungkapnya. Kisah anak punk taubat ini sangat menginspirasi kita.

“Aktivitas saya saat itu semua didasari karena kemarahan. Marah terhadap pemerintah, terhadap kehidupan sosial dan kemapanan. Ibaratnya, semua aktivitas saya ini seperti perbuatan setan atau perbuatan iblis,” ucapnya kepada Channel  Vertizone TV.

Semua Agama Dikritik

Abdul Malik menuangkan kemarahan itu dengan lagu-lagu punk. Abdul Malik tak hanya mengritisi pemerintah dan tatanan sosial, Abdul Malik juga melakukan kajian dan mengritisi agama Kristen.

Sebagaimana kita pahami, mayoritas orang Inggris dan Eropa adalah penganut Kristen. Abdul Malik juga meneliti konsep Kristen dan melontarkan kritik pedas. Abdul Malik juga mempelajari paham-paham dan ideologi. Kisah anak punk taubat ini bermula dari sikap memberontak kaum punk.   

Pertama kali yang ia kritik adalah bagaimana Tuhan punya anak. “Saya tidak bisa menerima konsep ini. Jika Tuhan punya anak, berarti dia seperti makhluk dan pasti Dia punya kelemahan. Ini tidak masuk akal bagiku,” paparnya.

Abdul Malik juga mengkaji Hindu. “Mereka menyembah patung-patung. Saya katakan teman yang Hindu, ‘Jika saya melemparkan patung-patung itu, apakah mereka akan membunuhku?’ Ini juga tidak masuk akal,” cetusnya.

“Aku juga mempelajari Yahudi. Ini bukanlah agama. Ini sebuah ajaran rasisme. Saya bukan dari ras mereka. Bagaimana ini bisa disebut agama? Tidak masuk akal,” katanya lagi.

Tidak Percaya Marxisme dan Ideologi Lainnya

Abdul Malik juga mempelajari Marxisme dan banyak ideologi lainnya. Lalu ia mendapat satu kesimpulan. ‘Semua idelologi hanyalah buatan manusia. Ini hanya ego manusia saja. Ini hanya rekayasa manusia. Aku tak mengerti semua ini,” tegasnya.

Dia tidak puas dengan semua itu. Jiwa pemberontaknya masih saja bergejolak. Hingga suatu saat ia berjalan-jalan di Kensington Street, London. Kisah anak punk taubat ini bermula rasa tidak puas dengan kehidupan modern di Eropa.

Kawasan ini merupakan destinasi ternama. Di sana banyak museum besar yang dikenal di seluruh dunia. Kawasan ini juga banyak gedung-gedung kuno yang eksotik. Banyak pelancong lokal dan mancanegara lalu lalang di sana.

Karena itu pula, banyak kegiatan digelar di Kensington Street. Termasuk dipakai ajang pameran secara outdoor.

Menemukan Leaflet Di Jalan Kensington London

Saat itu, Abdul Malik melintasi Kensington Street. Lalu ada meja pameran luar ruangan yang di atasnya terdapat selebaran dan leaflet.

Salah satunya leaflet yang berisi yang berisi tentang konsep dasar Islam dan surat-surat pendek Al Quran. Judul leaflet itu: Kepercayaan dan Ajaran Islam.

Abdul Malik pun mengambilnya. Karena memang tidak ada penjaga meja itu. Hanya diletakkan begitu saja. “Saya juga heran, mengapa konsep yang simple namun sangat penting ini tidak ada relawan yang menjaganya?” Begitu pikirku waktu itu,” kata Abdul Malik.

Begitu melihat huruf Arab di dalamnya, pikiran Abdul Malik menerawang. Dia teringat masa kecilnya dulu. Dia pernah diajak berjalan-jalan oleh neneknya ke Hyde Park, London. “Waktu kecil saya pernah lihat graffiti di tembok Hyde Park. Dulu itu, saya tak paham apa itu,” katanya.  

Baru tahu kalau itu adalah kaligrafi. “Sejak kecil saya menyukai seni. Saya mengaguminya meski saya tidak mengerti,” katanya.

Kisah Anak Punk Taubat, Sangat Tertarik Dengan Kaligrafi

Dan memori itu muncul lagi Abdul Malik membaca leaflet itu ketika dewasa. Abdul Malik baru ngeh dengan abjad Arab. “Oh, jadi ini pemilik tulisan itu. Saya pikir itu tulisan paling indah di dunia. Sejak dulu memang aku suka menyukai seni,” tuturnya. Kisah anak punk taubat gar-gara sebuah kertas leaflet kecil saja.  

Begitu dibuka, ternyata leaflet itu berisi salah satunya surat Al Ikhlas. “Katakanlah, ‘Dia Allah itu Esa. Allah itu tempat bergantung semua makhluk. Dia tidak beranak dan tidak pula diperanakkan. Dan tidak ada satupun yang menyerupai Dia.’”

Versi terjemahan bahasa Inggris yang ia baca. “Pikiranku saat itu langsung berputar-putar. Saya paham bahwa segala sesuatu ada penciptanya. Bangunan itu pasti ada arsiteknya. Dan Tuhan pasti tunggal. Tuhan tidak membutuhkan sesuatu dari ciptaannya. Tuhan sangat berkuasa. Semua pasti dalam kuasaNya,” begitu kenangnya.

“Semua yang aku baca dan aku teliti selama ini bermuara di sini. Surat Al Ikhlas ini terus aku renungkan. Saat itu belum ada internet. Saya pun mencari buku telepon. Hanya itu yang ada,” jelasnya. Kisah anak punk taubat ini pun terjadi di Inggris.

Ke Masjid Pakai Kostum Punk, Jamaah Ngeri

Abdul Malik mencari dimana tempat berkumpulnya orang Islam. Seteleh menemukan alamatnya, Abdul Malik mendatangi London Central Mosque. Masjid yang sangat terkenal di London. Masjid ini dibangun pada 1977.

“Saat pertama kali aku tiba di masjid, aku mencari pengurusnya. Ketika mereka melihatku, mereka sangat kaget. Jika ada fotoku saat itu, pasti kalian juga terkejut. Rambutku gondrong, aku cat ramburku berwarna biru terang, anting-anting dan pakai rompi dengan lubang untuk menaruh peluru di sekeliling rompi,” katanya kemudian tertawa.

“Karena mereka agak ngeri dengan penampilanku, aku pun melepas rompi dan mengikat rambutku agar rapi. Lalu aku dipertemukan ke sekretaris masjid namanya Abdullah. Aku bilang, ‘Aku sudah mempelajari Islam. Aku ingin bersyahadat,’” katanya. Kisah anak punk taubat ini di luar dugaan jamaah masjid London Central.

Abdullah bertanya kepada Abdul Malik. “Apa yang telah kamu tahu tentang Islam?”

“Aku sudah tahu semuanya. Aku sudah membacanya segala hal tentang Islam.”

“Tapi Anda tidak bisa hanya bersyahadat lalu begitu saja, bukan?”

Belajar Berbahasa Arab Hingga Mahir

Abdul Malik paham maksud dari Abdullah. “Seakan Abdullah meminta kesungguhan dari saya bahwa Islam tidak hanya syahadat. Bahwa aku harus ikut cara Islam. Harus berkomitmen sungguh-sungguh. Seolah-olah Abdullah menantang saya agar mau berubah dengan cara Islam,” jelasnya.

“Aku katakan kepada Abdullah, ‘Aku mengerti maksudmu. Aku akan berubah. Tentunya hatiku dulu yang harus aku ubah sekarang ini.’ Abdullah pun makin yakin kalau saya tidak main-main. Sejak itulah aku bersyahadat. Itu Februari 1986,” ucapnya.

Sejak itu Abdul Malik mengubah penampilannya. Ia mengubah namanya. Kemudian ia aktif sebagai relawan kegiatan Islam di Inggris.

Abdul Malik juga belajar Bahasa Arab. Bahkan kini Abdul Malik mengajar Bahasa Arab untuk anak-anak di negeri Ratu Elizabeth itu.

Kisah anak punk taubat bernama Abdul Malik bisa Anda tonton videonya di sini. Anda bisa juga baca kisah anak punk hijrah di sini.  

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *