kisah anak khalifah harun al-rasyid

Kisah anak Khalifah Harun Al-Rasyid bisa kita baca di sini secara ringkasnya. Khalifah Harun Al-Rasyid adalah khalifah kelima dari kekhalifahan Abbasiyah dan memerintah antara tahun 786 sampai 803 M.

Harun Al-Rasyid mempunyai seorang putra yang berbeda dengan anak-anak khalifah yang lain. Pemuda ini zuhud dan dekat dengan para ulama. Ia sering berzikir dan meninggalkan perbuatan sia-sia. Ia juga kerap ziarah kubur untuk mengingatkan dirinya akan kematian.

Kisah Anak Khalifah Harun Al-Rasyid, Dianggap Mempermalukan Istana

Suatu ketika, Khalifah Harun Al-Rasyid sedang berkumpul bersama ajudan pribadi, pejabat, dan tamu terhormat lainnya. Tiba-tiba anaknya yang zuhud masuk dengan pakaian sangat sederhana dan sorban di kepala.

“Jangan sampai engkau meninggal dalam kelalaian dan terperdaya dunia.”

Sontak para tamu undangan yang hadir merasa risih. Mereka merasa anak ini telah mempermalukan ayahnya. Alangkah baiknya jika ia mendapat teguran agar tidak mengulangi perbuatannya. Khalifah Harun Al-Rasyid yang mendengar hal tersebut berkata kepada anaknya bahwa ia telah mempermalukannya.

Sang anak tidak menjawab perkataan ayahnya. Ia malah memanggil seekor burung dan berkata, “Wahai burung, demi Zat yang menciptakanmu, datanglah kemari dan hinggaplah di tanganku.” Burung tersebut menuruti perintahnya. Saat anak Khalifah Harun Al-Rasyid memintanya kembali, burung itu juga melakukan apa yang ia minta.

Sang anak pun berkata, “Wahai ayahku sayang, sesungguhnya kecintaanmu terhadap dunialah yang mempermalukanku. Aku akan pergi dari istana.” Kisah anak Khalifah Harun Al-Rasyid yang bersahaja ini bisa jadi pelajaran.

Meninggalkan Istana Hanya Ini Bekalnya

Sang anak pergi hanya berbekal mushaf Al Quran. Ibunya yang kasihan membekalinya dengan cincin merah dan mengatakan pemberian itu adalah dari khalifah padanya.

Dengan harapan jika anaknya butuh sesuatu, cincin itu bisa dijualnya. Anak laki-laki itu pun pergi meninggalkan Baghdad menuju ke Basrah.

Seperti yang dituturkan Abu Amir Bashri, suatu ketika ia membutuhkan tukang batu untuk membangun sebagian bangunan rumahnya yang roboh. Seseorang mengabarinya bahwa ada seseorang yang bisa bekerja membantunya.

Di luar kota, Abu Amir menemui seorang pemuda tampan yang tengah duduk di tanah lapang sembari membaca Al-Qur’an. Ia menawarkan pekerjaan sebagai tukang batu dan pemuda itu setuju dengan syarat dibayar hanya sebesar jatah makanannya dan diizinkan beribadah saat waktu shalat tiba. Keduanya pun bersepakat.

Ia melihat pekerjaan si pemuda dan takjub mendapati hasil yang luar biasa. Pemuda itu bisa mengerjakan pekerjaan yang biasa dikerjakan oleh sepuluh orang. Saat Abu Amir memberikan upah lebih dari yang disepakati, anak laki-laki itu menolak.

Ia hanya mengambil satu dirham dan satu danaq. Ia gunakan seperenam dirham (satu danaq) untuk makannya sehari. Ia hanya bekerja sehari dalam sepekan, di hari Sabtu. Sisa enam hari lainnya ia gunakan untuk beribadah. Kisah anak Khalifah Harun Al-Rasyid yang zuhud kehidupannya ini menginspirasi kita.

Masya Allah, Hal Menakjubkan Terjadi

Abu Amir tidak tahu bahwa pemuda itu adalah anak Khalifah Harun Al-Rasyid. Abu Amir yang puas dengan pekerjaan pemuda itu harus bersabar menunggu sampai hari Sabtu berikutnya untuk memperkerjakannya.

Abu Amir yang penasaran lantas mengintip pekerjaan pemuda tersebut tanpa diketahui. Betapa takjubnya ia saya mendapati ketika pemuda itu meletakkan adukan semen ke dinding, batu-batu dengan sendirinya menyatu. Ia pun paham bahwa pemuda ini adalah orang yang istimewa. Pasti dia kekasih Allah atau wali Allah.

Abu Amir yang puas dengan hasil kerja pemuda tersebut menambah upahnya menjadi tiga dirham. Karena sifat zuhud yang dimilikinya, pemuda itu menolak dan mengatakan ia tidak butuh lebih dari itu.

Kisah anak Khalifah Harun Al-Rasyid ini teladan dalam kesederhanaan. Seorang anak yang tidak bermewah-mewah dengan fasilitas orang tuanya.

Sabtu berikutnya, pemuda yang ditunggu tidak juga datang, Abu Amir mencari tahu di mana keberadaan pemuda itu. Seseorang memberikan informasi bahwa anak laki-laki yang dicarinya sudah terbaring sakit selama tiga hari.

Miris, Wafat Usia Muda, Begini Keadaannya

Abu Amir pun mendatanginya dan melihat kondisinya yang mengenaskan. Anak Khalifah Harun Al-Rasyid itu berbaring di sebuah tempat yang sepi, di atas tanah dengan kepalanya bersandar di atas batu.

Ia berpesan, “Jangan terlena dengan kemewahan dunia karena itu hanya sementara. Jika kau mengusung jenazah seseorang, ingatlah bahwa esok bisa jadi kau yang akan diusung menjadi jenazah.”

Setelah itu, ia berpesan agar Abu Amir sendiri yang merawat jenazahnya nantinya, mengafaninya dengan baju yang dipakainya saat ini. Abu Amir berkata ia tidak keberatan membelikannya kain yang baru.

Pemuda itu menjawab bahwa orang yang hidup lebih butuh pakaian yang baru daripada yang mati. Lagi pula kafan itu nantinya juga akan membusuk, yang tinggal hanya amal perbuatan.

Anak Khalifah Harun Al-Rasyid itu juga berwasiat untuk memberikan sorban dan kendi airnya pada orang yang menguburkannya. Sementara Al-Qur’an dan cincin yang ia bawa dititipkannya untuk dikembalikan kepada Khalifah Harun Al-Rasyid seraya berpesan, “Jangan sampai engkau meninggal dalam kelalaian dan terperdaya dunia.”

Kemudian, pemuda itu wafat. Kisah anak Khalifah Harun Al-Rasyid ini sangat mengharukan. Baca juga kisah pemuda cerdas yang berhasil ajak seluruh penduduk beriman.

Padahal Dia Adalah Keturunan Rasulullah

Abu Amir bergegas pergi ke Baghdad untuk menyampaikan amanat anak Khalifah Harun Al-Rasyid. Khalifah Harun Al-Rasyid tertegun saat mendapati Al-Qur’an dan cincin yang dibawa Abu Amir.

Sudah lama ia mencari putranya tapi tak juga bertemu. Kini, berita duka itu menyelimuti istana. Betapa sedih hatinya. Air mata berlinangan membasahi pipinya.

Khalifah Harun Al-Rasyid menanyakan apa yang anaknya lakukan untuk menghidupi dirinya dan apakah Abu Amir tidak tahu bahwa pemuda itu adalah keturunan Rasulullah (Khalifah Harun Al-Rasyid adalah keturunan Abbas r.a., paman Rasulullah).

Saat Khalifah mengetahui bahwa Abu Amir yang memandikan anaknya, ia meraih tangan Abu Amir. Ia meletakkan tangan Abu Amir ke dadanya dan mengusap-usap dadanya dengan tangan itu sembari menggumamkan syair duka cita akan kepergian putranya.

Setelah itu, Harun Al Rasyid pergi ke Basrah dan mengunjungi makam anaknya. Kisah anak Khalifah Harun Al-Rasyid ini menjadi hikmah bagi para ayah.

Misterius, Sosoknya Muncul di Dalam Mimpi Sang Majikan

Pada malam berikutnya setelah beribadah, Abu Amir bermimpi melihat sebuah istana berkubah penuh nur. Di atasnya ada awan dari nur. Dari balik awan itu, terdengar suara anak Khalifah Harun Al-Rasyid berkata, “Abu Amir, semoga Allah membalas kebaikanmu dengan pahala terbaik.” Abu Amir bertanya apa yang dialaminya di sana. 

Pemuda itu berkata, “Allah telah meridaiku. Ia memberiku karunia yang mata tidak pernah melihatnya, telinga tidak pernah mendengarnya, dan akal tidak dapat memikirkannya. Allah telah bersumpah demi keagungan-Nya bahwa ia akan memberi karunia semacam itu kepada orang yang keluar dari dunia tanpa ternodai olehnya.”

Foto: pixabay

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *