kisah abu lahab

Kisah Abu Lahab sangat masyhur bagi anak-anak muslim. Sosok yang sangat keras memusuhi Nabi Muhammad. Padahal sejatinya Abu Lahab ini kerabat dekat Nabi Muhammad.

Karena kerasnya permusuhan kepada dakwah Islam, Allah mengutuknya dalam sebuah surat dalam al Quran: Surat Al Lahab. Surat ini bernomor 111.

Surat ini juga dinamai Al Masad yang artinya sabut atau ikatan dari sabut yang dipital dan dikenakan di leher Ummu Jamil, istri Abu Lahab. Ini adalah kiasan betapa istri Abu Lahab itu juga sangat benci dengan Nabi Muhammad dan ajarannya.

Kisah Abu Lahab, Paman yang Dulunya Sangat Care

Jika umumnya wanita suka mengenakan kalung dari emas atau perak, namun Ummu Jamil mengenakan kalung dari sabut. Ini adalah adalah kiasan nantinya istrinya juga mendapat kalung besi panas di neraka kelak.  

Abu Lahab  nama aslinya Abdul Uzza yang berarti hambanya berhala Uzza. Nama ayahnya Abdul Muthalib. Sehingga nama aslinya Abdul Uzza bin Abdul Muthalib.

Abu Lahab merupakan paman Nabi Muhammad dari jalur ayah. Abu Lahab dan Abdullah, ayah Nabi Muhammad adalah bersaudara seayah.

Saat Nabi Muhammad lahir, kala itu Abu Lahab sangat bergembira. Telah lahir anak laki-laki dari saudaranya itu.

Kebaikan Abu Lahab Kepada Nabi Di Masa Awal

Saking senangnya, Abu Lahab menghadiahkan budak wanita miliknya kepada Aminah, ibunda Nabi. Begitulah cinta seorang paman kepada keponakannya. Kisah Abu Lahab ini nantinya berubah ketika Nabi menyebarkan agama Islam.

Nama budak wanita itu Tsuwaibah. Ia membantu Aminah merawat Muhammad kecil. Karena Aminah telah menjadi janda. Abdullah, ayah Nabi telah meninggal dunia saat Aminah hamil Nabi Muhammad.

Tsuwaibah turut menyusui Nabi Muhammad, bergantian dengan Aminah. Kebetulan saat itu Tsuwaibah juga sedang menyusui anak yang bernama Masruh.

Tak lama dari situ, kemudian Nabi Muhammad disusui Halimah di kampung Bani Saad, agak jauh dari Mekkah, ke pedalaman. Nabi Muhammad tinggal di kampung Bani Saad hingga usia 4 atau 5 tahun.

Kalau Mau Ajak Kebaikan, Inilah Urutannya

Kisah Abu Lahab pada masa kecil Nabi Muhammad penuh kasih sayang. Sebagai paman atau pakde, Abu Lahab sangat bangga dengan kelahiran Muhammad.

Namun kasih sayang itu berubah 180 derajat begitu Nabi Muhammad mendapat tugas mendakwahkan Islam. Kisah Abu Lahab ini kemudian terkenal kebenciannya terhadap ajaran Islam.  

Di awal mendapat misi Islam, pertama kali Nabi Muhammad mengajak keluarga beliau sendiri. Nabi Muhammad mengajak istrinya, Khadijah, putra-putrinya, para pembantunya dan sepupunya yang ikut di rumahnya, yakni Ali bin Abi Thalib.

Lalu turun ayat, “…Dan berilah peringatan kerabat-kerabatmu yang terdekat (QS. Asy Syuara 214)” maka Nabi Muhammad mengundang para paman dan para bibinya dari Bani Abdul Muthalib, termasuk Abu Lahab. Kisah Abu Lahab ini jadi kewaspadaan para pembela kebenaran.

Jumlahnya hingga 45 orang. Nabi Muhammad belum juga bicara, tiba-tiba Abu Lahab sudah bicara lebih dahulu panjang lebar. Ia berkata, “Mereka ini paman-paman dan bibimu beserta anak-anaknya. Maka berbicaralah dan tak perlu bersikap kekanak-kanakan. Ketahuilah tak ada orang Arab yang berani kepada kita. Tapi aku bisa menghukummu. Kamu jangan ikut campur urusan adat Bani Abdul Muthalib. Jika kamu tetap pada urusanmu itu, maka bangsa Arab akan menerkammu. Engkau tak pernah melihat seorang pun dari Bani Bapaknya yang pernah berbuat macam-macam seperti engkau perbuat saat ini.”

Abu Lahab Mulai Berubah Sikap

Rasulullah Muhammad saw hanya diam. Lalu mereka pun bubar. Kisah Abu Lahab ini merupakan awal kebencian Abu Lahab kepada Nabi

Tak hanya Abu lahab yang benci Nabi, namun istrinya yang bernama Ummu Jamil pun sering mencaci Nabi. Ummu Jamil yang kebetulan rumahnya bertetangga dengan Nabi sering menebarkan duri dan kotoran di depan rumah Nabi. Karena itu Nabi pernah mengeluh, “Wahai Bani Abdi Manaf, tetangga macam apa ini?”

Tak lama kemudian Rasulullah saw mengundang mereka untuk keduanya kalinya. Beliau berkata, “Alhamdulillah, aku memuji Allah, memohon pertolongan, percaya dan tawakkal kepadaNya. Aku bersaksi tiada tuhan selain Allah yang tiada sekutu bagiNya.”

“Sesungguhnya seorang pemandu tidak akan mendustakan keluarganya. Demi Allah yang tiada ilah selain Dia, sesungguhnya aku adalah utusan Allah, kepada kalian semuanya dan kepada manusia semuanya. Demi Allah, kelak kalian semua akan mati seperti tidur nyenyak dan akan dibangkitkan lagi layaknya bangun tidur. Kalian benar-benar akan dihitung (hisab) atas apa yang kalian perbuat, lalu di sana ada surga yang abadi dan neraka yang abadi.”

Saat itu Abu Thalib merespon, “Kami semua belum tentu bisa mambantumu atau juga membenarkan ucapanmu ini. Aku hanya hanyalah segelintir saja. Namun aku akan mendukungmu dan melindungimu selagi aku bisa. Tapi aku tak punya pilihan lain untuk meninggalkan agama Bani Abdul Muthalib.”

Abu Lahab pun menyahut, “Ini adalah kabar buruk. Ambillah tindakan kepadanya sebelum orang lain yang melakukannya.” Abi Thalib menjawab, “Aku akan tetap melindunginya selagi aku masih hidup.”

Jika Mau Ajak Kebaikan, Inilah Bekalnya

Sejak mengetahui misi Islam, Abu Lahab sudah menunjukkan sikap bencinya. Beberapa waktu kemudian, Nabi Muhammad makin meluaskan ajarannya. Kisah Abu Lahab  kemudian dikenal sebagai tokoh penghadang Nabi dan tokoh penyiksa pemeluk Islam.

Suatu ketika Nabi Muhammad berdiri di Bukti Shofa pada siang hari. Lalu beliau berseru secara lantang. “Wahai Bani Fihr, wahai Bani Ady!” Beliau juga memanggil beberapa nama kabilah Mekkah.

Setiap orang yang mendengar suara beliau, pasti berkumpul ke arah beliau. Jika ada yang tak bisa hadir, mereka mengutus orang agar hadir ke sana.

Lalu Rasulullah bertanya kepada mereka, “Apa pendapat kalian jika aku kabarkan bahwa di balik bukit ini ada pasukan berkuda mengepung kalian, apakah kalian percaya padaku?”

“Kami percaya, kami tak pernah melihatmu kecuali selalu jujur.”

“Maka, aku beri peringatan kepada kalian sebelum tibanya azab yang pedih.”

Sebab-sebab Turun Surat Al Lahab

Tiba-tiba Abu Lahab berseru tabban laka ya Muhammad alihadza jama’tana “Celakalah kau Muhammad, hanya untuk inikah kau mengumpulkan kami di sini?” Kisah Abu Lahab mencela Nabi ini banyak diceritakan guru Islam kepada murid.  

Sejak itulah turut ayat Tabbat yada abi lahabiw wa tab…dst  ‘Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan benar-benar binasa dia.’ Tiada berguna baginya hartanya dan usahanya. Kelak dia akan masuk ke neraka api yang bergolak (neraka). Begitu pula istrinya, sang pembawa kayu bakar (pembawa fitnah). Di lehernya ada tali sabut yang dipintal (QS. Al Lahab 1-5).  

Di riwayat lain, Nabi Muhammad naik ke bukit Sofa lalu beliau berseru, “Wahai orang Quraisy! Selamatkanlah diri kalian dari api neraka. Wahai Bani Ka’ab, selamatkanlah diri kalian dari api neraka. Wahai Fatimah binti Muhammad, selamatkanlah dirimu dari api neraka.”

Dua Paman Mendukung Nabi, Dua Memusuhi. Siapa Saja?

Sejak itu, kebencian Abu Lahab terhadap ajaran Islam makin keras. Dan ini sempat membuat sedih Nabi Muhammad.

Karena hanya ada dua paman Nabi dari jalur ayah, yang ikut beriman yaitu Hamzah bin Abdul Muthalib dan Al Abbas bin Abdul Muthalib. Sedangkan Abu Thalib bin Abdul Muthalib enggan beriman namun tetap membela Nabi hingga Abu Thalib meninggal dunia dalam kondisi kafir.

Di sisi lain, Abu Lahab makin keras kebenciannya kepada Islam. Padahal Abu Lahab ini bukan hanya paman Nabi, namun Abu Lahab itu juga besan Nabi.

Kisah Abu Lahab ini menunjukkan bahwa tidak semua kerabat kita sudi menerima kebenaran. Baca pula kisah Nabi Musa yang kemudian harus melawan ayah angkatnya sendiri yang memusuhi kebenaran.

Miris, Dulunya Abu Lahab Sangat Dekat Anak-anak Nabi

Kedua putri Nabi menikah dengan kedua putra Abu Lahab sebelum masa Islam. Utbah dan Utaibah adalah putra Abu Lahab. Utbah menikah dengan Ruqayyah putri Nabi, sedangkan Utaibah menikah dengan Ummu Kultsum binti Nabi Muhammad.

Nabi begitu sedih dengan sikap Abu Lahab. Bahkan Abu Lahab inilah yang menjadi pelopor sekaligus ketua di antara tokoh Quraisy yang menyiksa orang Islam yang lemah, seperti Bilal bin Rabah, Khabab bin Al Arts, Amar bin Yassir serta ayah dan ibunya. Hingga ibu Amar gugur mempertahankan iman karena ditombak musyrikin Quraisy yang memaksanya murtad.

Nabi sangat terpukul dengan sikap Abu Lahab dan kaum Quraisy. Mengapa justru pamannya sendiri yang juga besannya memusuhinya.

Ayat Al Quran Inspiratif Yang Memotivasi Nabi Saat Galau

Sejak misi Islam, Abu Lahab memaksa kedua putranya untuk menceraikan kedua putri Nabi itu. Kisah Abu Lahab ini sangat menyakitkan Nabi dan keluarga Nabi.

Nabi makin sedih. Namun Allah membesarkan hati Rasulullah. Allah berfirman, “Sesungguhnya Kami mengetahui bahwa apa yang mereka katakan itu membuatmu sedih (maka janganlah bersedih) karena mereka sebenarnya bukan mendustakanmu melainkan orang-orang zalim itu mengingkari ayat-ayat Allah (QS. Al An’am 33).

Tak hanya Abu lahab yang benci Nabi, namun istrinya yang bernama Ummu Jamil pun sering mencaci Nabi. Ummu Jamil yang kebetulan rumahnya bertetangga dengan Nabi sering menebarkan duri dan kotoran di depan rumah Nabi.

Karena itu Nabi pernah mengeluh, “Wahai Bani Abdi Manaf, tetangga macam apa ini?”

Kisah Abu Lahab dan Istrinya Suka yang Memfitnah

Ummu Jamil pernah hendak melabrak Nabi Muhamad. Ummu Jamil dikenal sebagai wanita cerewet, tukang gosip dan fitnah. Ketika dia mendengar ayat yang mengutuknya di surat Al Lahab, dia mencari Nabi di dekat Kabah.

Padahal Ummu Jamil adalah besan Nabi dan masih termasuk bibi Nabi. Kisah Abu Lahab dan istrinya yang buruk perangai ini harus jadi peringatan kita sebagai orang beriman.

Namun di sana ia hanya mendapati Abu Bakar di dekat Kabah. Dia tak melihat Nabi. Padahal Nabi ada di dekat Abu Bakar. Lantas ia bertanya dengan nada tinggi, “Wahai Abu Bakar, mana temanmu itu? Ku dengar dia mengolok-olok aku. Aku akan menimpakan batu ke mulutnya.”

Lantas Ummu Jamil bersyair dengan nada tinggi
Kami mangkir sekalipun dia mencaci
Terhadap urusannya, kami tak akan sudi
terhadap agamanya, kami membenci

Lalu dia pulang. Lantas Abu Bakar bertanya kepada Nabi, “Wahai Rasulullah, bukankah engkau melihatnya dan ia melihatmu?” Nabi menjawab, “Allah menutupi pandangannya sehingga ia tidak bisa melihatku.”

Hal ini terus berlangsung hingga Nabi Muhammad hijrah ke Madinah. Lalu saat perang Badar, Abu Lahab tidak ikut. Dan ternyata orang kafir banyak yang terbunuh.

Abu Lahab Mati, Sangat Mengenaskan

Lalu Abu Lahab sangat terpukul dengan kekalahan kaum kafir itu. Dia sangat benci dengan kemenangan orang Islam. Dia merasa terpukul dengan kekalahan itu.

Tak lama setelah itu, Abu Lahab sakit aneh. Sekujur tubuhnya gatal-gatal dan menjijikkan. Lalu dia mati mengenaskan. Tidak ada orang yang mau menguburkannya. Kisah Abu Lahab ini jadi pelajaran bagi manusia bahwa pembenci kebenaran itu pasti akan hancur.  

Lalu keluarga dekatnya membuat liang lahat dan jasad Abu Lahab didorong dengan kayu yang panjang. Lalu orang-orang melempari lubang itu dengan bebatuan dari jarak jauh karena jijiknya.

Begitulah akhir kisah Abu Lahab, orang yang memusuhi kebenaran. Di dunia jadi hina, dan di akhirat mendapat siksa. Semoga kita bisa mengambil pelajaran.

Foto: pixabay

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *